Dingin, lembab...
Ah... jadi ini yang namanya bui?
Gue dan Pak Tenchou dianggap bertanggungjawab atas perbuatan anak-anak yang berlebihan. Karena itulah kami ditahan di kantor kepolisian.
Saat ini Pak Tenchou sedang diinterogasi di ruang penyidik. Jadilah gue mendekam sendirian di sel gelap ini. Gue menghela napas, ini akan menjadi hari yang panjang.
"Hei..."
Gue menoleh, mendapati Aisu datang lalu duduk di depan sel gue. gue menghampiri orang itu kemudian duduk di hadapannya.
"Maaf, ya, gara-gara gue..." sesal dia. Gue mengernyit, "Lha salah lo apa sih dalam kasus ini? Kan lo ngga salah..."
Aisu tersenyum kecut, "Padahal gue yakin Tuan Halyosy sudah mengizinkan kalian bertindak kemarin. Tapi gue gagal. Seharusnya gue ngelarang kalian aja kemarin..."
Gue menggeleng, "Itu bukan salah lo. Kami aja yang kelewatan. Harusnya kami ngga perlu bertindak sampai seperti itu. Lagipula kalo bukan karena lo ngizinin kami bertindak, anak-didik gue bisa habis malem itu."
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki. Serempak kami menoleh, melihat Inspektur Halyosy mendatangi kami. Laki-laki itu berhenti tepat di depan kami.
"Saya harap kalian tidak sedang merencanakan sesuatu..." selidiknya sambil melipat tangan di depan dada.
Aisu yang mendengarnya langsung berdiri dengan raut muka emosi. "Inspektur! Saya minta Anda lepaskan mereka sekarang juga! Mereka tidak bersalah!"
Tatapan tajam langsung mengintimidasi Aisu. Raut wajahnya tidak senang. "Berani-beraninya kau ngelawan! Udah jelas mereka melanggar prosedur yang ada!"
"TAPI MEREKA BAHKAN MENYELAMATKAN NYAWA PAK WALIKOTA! KITA JUGA TERBANTU MERINGKUS PARA PENJAHAT ITU, KAN??"
Hening antara kami. Aisu masih menatap orang itu sengit sementara gue terdiam di tempat. Masih melongo dengan apa yang baru saja terjadi.
"... Aisu, kau ini sebenarnya di pihak siapa? Jangan-jangan kau mau mengkhianti kepolisian?" kali ini nada Halyosy semakin tajam.
"Kalo itu artinya di pihak sahabat saya, saya ngga keberatan!" tak gentar balasan dilontarkan, "Shooselah alasan saya untuk menjadi seorang polisi. Kalau polisi menahan orang yang telah menjadi arah kehidupan saya, saya sudah tidak butuh kepolisian!"
"Aisu, lo tenanglah!" sergap gue mulai panik. Pak Halyosy sontak menampar pipi Aisu keras. "Apa-apaan bicaramu itu?? Mentalmu itu sangat lembek! Bagaimana bisa seorang polisi mengutamakan ego seperti itu??" bentak beliau tanpa kenal ampun.
Aisu diam di tempat, surai keputihannya menutup sebagian besar wajah. Ia tak bergeming selama beberapa detik sebelum akhirnya melirik tajam ke arah Inspektur Halyosy.
"Baik, terserah Anda. Tapi perlu saya tegaskan lagi bahwa mereka tidak melakukan hal yang salah," ujar Aisu sambil berbalik. Sebelum melangkah pergi, kembali ia menatap Halyosy, "Lagipula saya yakin anak-anak itu takkan diam saja."
Terdengar ketukan sepatu yang menjauh. Aisu berjalan meninggalkan kami berdua. Orang itu berpapasan dengan Pak Tenchou yang baru kembali setelah interogasi.
Begitu Pak Tenchou sampai di depan sel, Inspektur Halyosy berjalan pergi meninggalkan kami. Pak Tenchou bingung dengan suasana yang ada. Ia masuk lalu duduk di samping gue.
"Ada apa tadi, Pak? Kok saya dengar ada ribut-ribut gitu?" ia bertanya dengan setengah berbisik. Gue mengedikkan bahu, "Ceritanya panjang, Pak..."
Kemudian kami bersandar pada dinding yang terbuat dari besi itu. Menatap langit-langit hampa yang tak kalah dinginnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Utaite and Their School [END]
Fiksi Penggemarpara utaite berubah jadi anak SD unyu-unyu sekaligus kurangajar. seorang guru baru bernama Pak Shoose ditugaskan untuk mengajar anak kelas 2-C yang memiliki keanekaragaman hayati berupa anak-anak yang imut-imut sekaligus amit-amit. akankah guru baru...
![Little Utaite and Their School [END]](https://img.wattpad.com/cover/132520418-64-k820770.jpg)