Sebuah Tantangan

2.6K 303 247
                                        

"Belum terlambat untuk berubah."

Pria berhoodie hitam itu menoleh, menatap sang lawan bicara. Sang gadis balas menatap si pria sambil tersenyum.

"Shoose itu orang yang sangat baik. Saking baiknya sampai tidak bisa mengabaikan ketidakadilan yang terjadi di dekatmu."

"Tapi aku melakukan hal yang salah. Aku tak pantas lagi berbaur dengan masyarakat," tukas pria berhoodie hitam itu.

Kali ini sang gadis berdiri tepat di hadapannya, kedua tangan ia sembunyikan di balik punggung. "Tidak, kok," sanggahnya, "aku yakin pasti kau akan diterima lagi di masyarakat!"

-

-

Andaikan dia tidak diam saja...

Kota itu sebagian besar telah hancur. Yang ia lakukan sedari tadi adalah berlari bersama sang gadis. Tanpa perlawanan. Mereka harus mencari tempat aman untuk bersembunyi.

Ia sudah janji akan menahan diri. Ia sudah janji akan diam ketika mendapati keganjilan. Namun ia tak menyangka, keganjilan yang ia abaikan barusan membuat seisi kota itu jadi begini.

Mereka terus meniti langkah, hingga tak sadar seorang sniper mengintai mereka dari jauh...

-

"Kau membunuh putri kami!" seorang wanita berteriak.

"Kami salah percaya padamu. Enyah kau dari sini, dasar pembunuh!" kali ini seorang pria tua yang memekik geram.

Tidak... aku tak melakukan apapun...

Itukah keadilan? Bahkan rinai hujan sendu yang menjadi musik latar kunjungan ziarahnya kali itu tak mungkin bisa membisikkan jawaban. Di tengah kebisuan yang mencekiknya perlahan itu, ia kembali teringat sebuah kalimat yang pernah terlontar dari mulut sang gadis.

"Aku ingin jadi seorang guru!"

Ah, bahkan ia sudah janji akan mewujudkan impian gadis ceria itu. Bagaimana cara ia melakukannya sekarang?

Senyuman miris tersungging. Kembali netranya menatap nanar nisan di hadapannya.

"Menurutmu, masihkah ada tempat untukku di hati seseorang, Cocolu?"

***

Aduh... punggung gue sakit semua njer. Kagak ada kasur di penjara! Tidur aja empet-empetan sama Pak Tenchou. Ugh! Gue beneran kangen rumah jadinya.

Jadi hari kedua gue di penjara pun tidak menyenangkan. Ya iyalah ya namanya juga penjara! Emangnya gue sekelas koruptor kerah biru apa yang bisa bikin fasilitas hotel bintang tujuh di sel mereka? Gue ngga senajong itu yeuw...

Baru aja kita selesai sarapan pagi ala kadarnya, Inspektur Halyosy tiba-tiba mendatangi kami. Sontak aja kami nanya ada keperluan apa.

"Ada keributan di ruang penerimaan tamu kantor. Anda berdua harus ikut saya sekarang," terang Inspektur itu tanpa perubahan ekspresi pada kami.

Gue dan Pak Tenchou saling pandang. Lha yang ribut kan situ, kok kami jadi dibawa-bawa?

Tetapi pertanyaan barusan langsung terjawab begitu kami sampai di ruangan besar khusus tamu.

"PAK SHOOSE, PAK TENCHOU, HUUWWEEEE...."

"Kami kangen Bapak... huhuhu..."

"Kok Bapak dipenjara, sih? Bapak kan ngga salah.... hweee..."

"Kami minta maaf, Pak..."

Anak-anak itu mengerubung, memeluk gue dan Pak Tenchou serempak begitu kami datang. Tentu saja kami berdua bingung. "Eh... anak-anak, ada apa ini? Bukannya harusnya kalian di klinik?" tanya gue heran.

Little Utaite and Their School [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang