para utaite berubah jadi anak SD unyu-unyu sekaligus kurangajar. seorang guru baru bernama Pak Shoose ditugaskan untuk mengajar anak kelas 2-C yang memiliki keanekaragaman hayati berupa anak-anak yang imut-imut sekaligus amit-amit. akankah guru baru...
"Ya, kalian semua tunggu di sini, ya, sebentar lagi kelas seni bakal dimulai!" gue memberi aba-aba. Seluruh anak menurut, mereka duduk tenang di bangku masing-masing.
Saat gue baru beranjak, masuklah seorang anak kecil berseragam siswa dengan rambut ikal hitam dan mata heterochromia. Gue mendelik kaget.
"Lho, Kaf, kok elu sih yang masuk? Bu Lon mana?" tanya gue heran.
Si Kafka berkacak pinggang, "Eh, gue udah minta izin sama Bu Lon buat ngajar kelas hari ini, tau! Ini semua gegara komen-komen readers akhir-akhir ini yang sangat menuntut gue buat muncul.
Kemudian Kafka menyodorkan hpnya, menunjukkan bejibunnya komen yang ada.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gue garuk-garuk kepala, "I-iya juga, sih... lo kan kagak bisa mengabaikan keinginan readers ya. Tapi kenapa lo pake berubah jadi anak kecil segala sih Kaf? Mana pake seragam sekolah lagi!"
"Suka-suka gue dong. Lagian kan gue ini imut sangad. Jadi gue harus bertransformasi jadi bocil dong biar makin imut!" balasnya seenak jidat.
"Jijik gue dengernya!" potong gue sebel. Mana gue dinistain mulu sama ini author satu!
Eh, gue dikacangin. Si Kafka malah lanjut jalan ke depan kelas yang entah sudah sejak kapan tiba-tiba ada meja dan kursi tambahan di sana. "Yo! Teman-teman, hari ini Kafka mau ajarin kalian nggambar sama mewarnai pake watercolor, yaa..." katanya.