Haihai...
jadi, kali ini Kafka mau numpang nge-post songfict aja nih... yah, ngga bisa dibilang songfict juga, sih... tapi intinya, ini one-shoot doang dan Kafka males bikin lapak baru lagi cuman buat bikin satu chapter. dan karena ide ini berasal dari nonton dan dengerin mv SoraMafu Anticlockwise, makanya Kafka bilang ini songfict. padahal ya ngga mirip-mirip amat...
oke, enjoy aja deh the storynya...
Doushite oboetenai no?
Sesak, lagi-lagi airmatanya tumpah. Entahlah, sudah beberapa kali hal ini terjadi ketika pucuk albino itu kembali mengingatnya. Rasa sakit yang bertambah-tambah seakan menusuk kalbunya.
"Dare?"
Si albino membelalak kaget. Tidak mungkin. Bagaimana bisa pucuk kelam itu tak mengenalnya? Hatinya seakan dipatahkan, kemudian dihancurkan berkeping-keping.
Perlahan ia mundur, kemudian berlari menjauhi orang itu, menyembunyikan airmatanya yang kini menganak sungai. Ia tak pernah menoleh kembali, meninggalkan orang itu yang masih menatapnya penuh tanda tanya.
Si albino kini sesenggukan, meringkuk memeluk lutut. Bibir kecilnya menggumam lirih, "...Gomen na, Soraru-san... ini semua salahku..."
***
Si pucuk raven mendudukkan tubuhnya pada kursi taman, di bawah sebatang pohon. Dibukanya bungkus permen raspberry yang dari tadi berada dalam kantongnya. Setelah itu mulai mengemutnya dalam mulut.
Pikirannya melayang, menerawang jauh ke masa lampau.
"Yokatta... Soraru-san baik-baik saja..."
Seorang bocah albino tiba-tiba muncul di hadapannya. Menggenggam tangannya erat dan berkata dengan penuh semangat. Sontak saja membuat si pucuk raven itu merasa heran.
"A-ano..." ia membuka suara. Hal itu membuat si pucuk putih mengangkat wajahnya.
Kemudian sambil memiringkan kepala, dengan polosnya si pucuk raven itu bertanya,
"Dare?"
Masih mengemut permennya, Soraru kini menatap langit. Jernih, cerah, tak ada tanda-tanda bahwa hujan akan segera turun.
"Mafumafu-san... sebenarnya siapa dia? Kenapa dia seperti sudah mengenalku sebelumnya? Kenapa waktu itu dia bersikap seolah aku sudah mengenalnya? Padahal kami baru bertemu saat itu. Urata dan Sakata juga tak mengenalnya," Soraru bermonolog.
Kemudian ia menunduk, menatap tangannya sendiri, "Aku... tidak melakukan sesuatu yang salah, kan?"
-
-
-
"Ayolah... Mafu-kun, kau masih di sana?" Amatsuki terus memelas. Mafu tak menjawab. Ia masih meringkuk di samping jendela kamarnya.
Amatsuki mengetuk pintu yang terkunci itu, lagi. Sudah berapa lama dan berapa kali ia melakukannya. Sungguh, dia tak habis pikir dengan si albino yang satu itu. Sejak pertama kali mereka berteman, dia selalu begini. Sering tiba-tiba galau tanpa sebab. Atau hanya Amatsuki yang menganggapnya begitu.
Hari itu, ia melihat seorang albino yang bicara pada seorang pemuda kelam yang tengah bersama dengan kedua temannya. Tak lama, albino itu justru berlari sambil menangis. Karena iba, Amatsuki memutuskan untuk mengikutinya.
Mereka lalu berkenalan dan mengobrol cukup banyak. Meskipun pemuda yang ia ketahui bernama Mafumafu itu sama sekali tak menyinggung soal pemuda kelam yang -sepertinya- menyebabkan ia menangis. Amatsuki tahu orang itu, namanya Soraru. Tetapi ia tak mengerti, apa hubungan Soraru dengan pemuda albino ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Utaite and Their School [END]
Fanfictionpara utaite berubah jadi anak SD unyu-unyu sekaligus kurangajar. seorang guru baru bernama Pak Shoose ditugaskan untuk mengajar anak kelas 2-C yang memiliki keanekaragaman hayati berupa anak-anak yang imut-imut sekaligus amit-amit. akankah guru baru...
![Little Utaite and Their School [END]](https://img.wattpad.com/cover/132520418-64-k820770.jpg)