Kelas 2-C

5.9K 502 242
                                        

Gue berjalan mengikuti Pak Sekihan. Gak berani di sebelahnya, jujur bikin gue takut, ngehe.

Selang beberapa lama berjalan melewati koridor SD yang cukup panjang ini, kami sampai di depan sebuah pintu kelas. Disana ada seorang laki-laki berseragam guru yang kayaknya memang sudah menunggu kedatangan kita dari tadi.

"Ini Pak VipTenchou, wakil wali kelas 2-C. Wali kelas yang lama dipindahkan untuk mengajar kelas 6, sehingga Bapak akan menggantikan posisi sebagai Wali Kelas." Pak Sekihan menerangkan situasi secara gamblang.

"Eh, T-tapi, Pak, kenapa Pak VipTenchou ini ngga naik pangkat jadi Walas aja, Pak? Kenapa malah saya yang jadi Walas?" gue bertanya, menyadari ada keganjilan.

Bapak VipTenchou ini menggeleng, "Saya ngga mau jadi Walas. Saya kurang kompeten. Ada yang bilang Bapak Shoose ini bagus kalau menghadapi anak-anak ketika tes masuk, maka dari itu lebih baik Bapak saja yang jadi Walas 2-C ini."

Oke, dari sini gue pasrah. Kalau mengelak lagi takut kena bacok Bapak Sekihan yang bermuka mencurigakan ini.

Kelas yang bakal gue tempati ini berisi 20 anak, itu gue ketahui setelah membaca buku absen. Kata Pak Tenchou, anak-anak kelas 2-C ini baik-baik, tapi ya namanya juga anak-anak pasti ada nakalnya juga. Yah, gue sih angkat tangan. Gak ada salahnya juga mencoba mengajar mereka.

Nah, begitu gue dan Pak Tenchou masuk, kayaknya anak-anak sekelas lagi kompak main perang-perangan. Sumpah ancur banget! Kalau begini, sih, lebih parah ketimbang kapal pecah. Lo bayangin aja duapuluh meja-berikut kursi dibagi jadi sepuluh-sepuluh. Kubu dua deret deket jendela sama kubu dua deret deket pintu masuk. Terus ditumpuk-tumpuk sedemikian rupa-ceritanya benteng.

Dan masing-masing kubu ngelemparin barang apapun - termasuk kolor temennya - ke kubu lain. Diantara mereka semua ngga ada yang sadar kami berdua masuk dan masih sibuk ngurusin dunia imajinasi sendiri-sendiri.

Takut keadaan semakin memprihatinkan, gue berinisiatif mengakhiri segala kegajean ini dengan menepuk-nepuk tangan sambil koar-koar.

Kelas hening seketika. Semua mata langsung tertuju ke arah gue. Sedetik kemudian mereka ribut sendiri, mengembalikan meja-kursi ke tempat semula. Cepet benget mereka membersihkan kekacauan. Tahu-tahu semua anak sudah duduk manis di kursi masing-masing.

"Selamat pagi anak-anak?" Pak Tenchou memulai rutinitas seakan gak terjadi apa-apa seperempat detik lalu.

"Selamat pagi Pak Tenchou!!!" koor seluruh anak kompak.

"Anak-anak, mulai hari ini kalian akan diajar sama Walas yang baru. Silakan, Pak, memperkenalkan diri!"

Gue maju selangkah, pasang muka sumringah, dan memulai perkenalan. "Selamat pagi, semuanya. Kenalkan, saya Shoose. Kalian bisa manggil saya Pak Shoose. Mulai hari ini, saya akan mengajar kalian dengan sepenuh hati. Salam kenal, semuanya!"

"Selamat pagi. Salam kenal, Pak Shoose!!!" lagi-lagi jawaban mereka kompak.

"Nah, karena semua sudah kenal Bapak, sekarang Bapak yang akan berkenalan dengan kalian, ya?" dan mulailah gue memanggil nama mereka satu-satu pake buku absen.

Selesai dari A sampai Z, gue lantas menutup lagi buku absen tersebut.

"Ya, sampai sini ada pertanyaan?" gue melakukannya, akhirnya gue melakukannya! Pertanyaan rutin yang wajib diajukan oleh seorang guru ketika mengajar di kelas.

Tiba-tiba seorang murid berambut pirang mengacungkan tangannya. Gue awalnya udah lupa lagi nama anak itu, syukurnya setelah memproses data di otak gue yang emang rada lola gue berhasil menemukan nama anak itu, "Ya... Kradness, mau tanya apa?"

"Bapak masih jomblo ya, Pak?"

Jleb! Gue tertohok. Sialan ini anak satu, kecil-kecil udah berani ngomong gitu sama orangtua! Ini pasti gara-gara sinetron, emang dasar kidz jaman now! Bikim gue keki aja. Akhirnya gue Cuma njawab dengan dumelan-dumelan ga jelas yang dilirihkan. Ga penting juga gue jawab pertanyaan macem gini.

Dan setelah kejadian itu, gue selalu paling inget nama Kradness.

Sebenarnya ga cuma bocah itu aja yang berkesan. Yang lain sama variasinya. Gue inget yang rambutnya putih matanya merah kek kelinci adek gue di kampung itu namanya Mafumafu. Suara dia ngga nguatin, terlampau melengking buat anak cowok kelas dua SD. Terus depan dia yang rambutnya coklat pake kacamata merah namanya Amatsuki. Gue sempet berhipotesis dia kebanyakan main gejet sampai pake kacamata gitu.

Bangku sebelahnya ada anak yang rambutnya mirip dia (menurut gue) tapi ngga kacamataan. Malah pake topeng rubah bertengger di samping kepalanya kayak layang-layang nyangkut. Namanya Ito Kashitaro. Biar singkat gue panggil aja dia Kashi.

Waktu gue tanya buat apa dia pake topeng rubah segala, dia jawab dengan entengnya, "Biar nanti kalo aku mau tidur pas pelajaran bisa buat nutupin muka, Pak, jadi ngga ketahuan."

Iya,Nak, habis ini Bapak langsung tahu kalo kamu pake topeng pas pelajaran Bapak itu artinya kamu lagi tidur. Enak, langsung Bapak suruh berdiri di depan kelas.

Selain itu, ada empat anak warna pelangi yang duduk di bangku belakang; selalu ribut ga bisa diem. Mereka ialah Urata, Sakata, Shima, dan Senra.

Gue jadi lumayan pusing juga ngadepin mereka. Entah karena mereka kurang ilmu atau punya imajinasi diluar batas kewajaran manusia, gue ngga tahu. Akhirnya gue pijet-pijet pelipis gue sendiri sambil berharap ada orang yang mau berbaik hati bawain para*mex bwt gue.

Sedetik kemudian, pandangan gue tertuju pada seorang anak yang menelungkupkan kepala dia dalam lipatan tangannya; satu-satunya murid yang saat ini ngga berisik kek temen-temennya. Rambutnya hitam raven dan ikal. Dia duduk di bangku pojok belakang samping jendela, sebelah Mafumafu.

Dari situ gue bisa berasumsi kalau nih anak dari tadi tidur. Memang hal yang sudah lumrah terjadi, dan sudah lumrah juga seorang guru ngga akan biarin anak muridnya tidur di tengah jam mengajar.

Akhirnya gue coba mendekati anak itu. Gue perhatikan nama yang tercantum di papan nama mejanya: Soraru.

Dengan lembut dan penuh kasih sayang (eaaa...) gue menepuk-nepuk bahunya sambil membangunkan dengan suara terdengar baik padahal ngerasa terusik, "Soraru...Soraru... ayo, bangun, Nak!"

Gumaman kecil dan ngga jelas terdengar. Anak itu bangun sambil kucek-kucek mata lalu menatap ke arah gue, masih dengan mata mengantuk.

Gue sempat terpana melihat matanya. Biru, mengingatkan gue pada batu akik mbah gue di kampung. Warnanya entah kenapa bikin gue adem. Terkesan elegan tapi juga misterius. Seakan menggambarkan dalamnya samudra sekaligus megahnya langit malam. Joss lah pokoke.

Takut keburu nginces, gue segera sadar dari lamunan gue. "Soraru, kalau lagi pelajaran ngga boleh tidur, ya... nanti pelajarannya ngga masuk plus dihukum Bapak, loh..."

Bocah biru itu diem sebentar, sejenak kemudian masih dengan wajah ngga berekspresi plus nada bicara ngga berkespresi juga dia menjawab dengan santainya, "Berisik, ah, lu banyak bacot."

Wuuuaaannnjeeeerrr!!!!! Ingin ku berkata kasar! Nih anak masih kelas dua ngomongnya buerat buanget! Asem! Bikin gue pengin nabok mulutnya itu.

Sabar, Shoose, sabar... mereka masih anak kecil. Lo ngga boleh gampang emosi gitu. Toh kalau micin ama sinetron mereka dikurangin dan lo mendidik mereka dengan bener, mereka semua bakal jadi anak manis.

Ya, itu tantangan buat gue mulai sekarang: gimana cara gue menghadapi anak-anak lunar binasah ini.

***

Maafkan saia bila gaje... maklum ini ff pertama kafka, kawan...

intinya,setelah ini ff bakal bercerita tentang manis-paitnya jadi seorang guru SD yang kelabakan karena muridnya punya banyak varian rasa, tinggal pilih coyy... belum lagi kelakuan murid-muridnya hampir semua absurd tak terkira. tingkahnya anak kecil memang ada-ada aja, percayalah...

makasih banyak tengkyu verymuch syukron katsiiron arigatou gozaimasu maturnuwun sanget loh yang dah mau baca karya Kafka ini... segala macam kritik dan saran terbuka luas asal kritik yang membangun, yah, kawan... dengan senang hati bakal Kafka terima bwt mengembangkan kemampuan Kafka. sekali lagi nyuwun tengkyu...<3

Little Utaite and Their School [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang