Rasanya tadi pagi gue udah nyuruh Luz istirahat di rumah begitu dia pulang. Kok sekarang gue liat dia lagi duduk di kursi taman sendirian, sih?
Emang, tadi pas di sekolah mendadak dia ambruk pas pelajaran olahraga. Ngga taunya kepala dia pusing dan badannya panas. Langsung dah gue bawa dia ke UKS. Gue tawarin mau dianter pulang apa kagak, dianya ngeyel, nolak minta pulang.
Akhirnya karena dia tetep bandel, gue cuman bisa nyuruh dia buat minum obat dan berpesan untuk langsung istirahat pas nanti nyampe rumah.
Eh, kagak taunya ntu anak malah di taman gini??
Langsung aja gue samperin dia. "Eh, Luz, kok kamu di sini, sih? Kan kamu lagi kurang sehat!" tutur gue. Anak itu tersentak, perlahan ia menoleh menatap gue. Ya ampun... tuh kan muka dia masih agak merah gitu!
"Lho... Pak Chooce habic dalimana?" dengan inosen dia balik nanya.
Gue menghela napas. "Ada lah tadi ngobrol bareng sama Om Aisu... eh! Bapak nanya ini lho! Kok, kamu ngga pulang, sih???"
Ia membuang pandang. Bibir mungilnya mengerucut, "Luj ngga mau pulang!"
Gue lantas duduk di sebelahnya. "Kenapa? Luz berantem sama Ayah?" Tak ada jawaban. Anak itu tetap bersidekap sembari menatap langit. Gue ikut duduk di sebelahnya, mengamat gerak-geriknya yang tampak resah.
"Ayah mau nikah lagi katanya..." setelah agak lama, akhirnya ia buka suara. Kemudian ia menunduk, memeluk lututnya sendiri. "Tapi Luj ngga cetuju cama Ayah..."
Gue menghela napas. Senyuman kecil gue sunggingkan. Setelah itu gue usap kepalanya lembut. Luz kecil tersentak, lantas mendongak menatap gue.
"Luz... Ayahmu mungkin punya alasan sendiri kenapa memutuskan begitu. Yang pasti, Ayah sayang sama Luz. Orang yang mau sama Ayah Luz juga pasti baik, kok. Coba deh, Luz ngobrol dulu. Siapa tahu ternyata Ibu baru Luz ngga seburuk yang Luz kira," tutur gue bijak.
Tiba-tiba gue autofokus ke arloji di tangan gue. "Waduh, dah jam segini aja! Udahan dulu, ya, Luz. Bapak ada kerjaan, nih. Takutnya ntar telat. Istirahat yang bener, ya, Luz!"
Kemudian gue berlalu sambil melambai pada anak itu. Luz membalas lambaian dari gue sambil tersenyum. Namun setelah gue pergi, wajahnya kembali murung.
"Coba bicala, kah?"
-
-
-
"Aku ngga akan memaksa Luz untuk menerimaku, kok. Kalau misal Luz tidak mau, sebaiknya jangan dipaksakan. Kasihan Luznya," kata Rahwia sambil memakai sepatunya.
"Tidak, anak itu hanya masih ngerasa asing aja, kok. Nanti coba akan kuajak dia ngobrol lagi. Jangan terlalu dipikirkan. Maklumlah, Luz masih anak-anak," hibur Ayah Luz sambil mengantar Rahwia keluar.
Rahwia tersenyum, "Aku tahu, kok."
Hari semakin senja. Perempuan itu menapaki jalan yang kini mulai sepi. Ia termenung, memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan.
Ia masih ingat betul mengapa ia memilih pria itu. Ia tahu itu salah, tetapi pekerjaannya kala itu membuka mata hatinya secara tak sengaja.
Saat itu ia terpilih untuk menyelidiki bos Cityfog. Awalnya ia melakukannya dengan serius. Bahkan penuh semangat dan ambisi menangkap pria itu.
Ia mengikuti si pria kemanapun ia pergi. Mengumpulkan informasi, bahkan memata-matai rumahnya. Hingga tiba-tiba pertahanannya luluh begitu saja ketika melihat...
Luz
Ia mencari data tentang anak itu dan menemukan fakta bahwa ibunya telah tiada. Setiap hari Rahwia mendapati Luz akan bermain bersama dengan ayahnya. Sang ayah selalu meluangkan waktu meski sesibuk apapun untuk menemani sang anak dan mengajarinya berbagai hal. Saat itulah dia berpikir...
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Utaite and Their School [END]
Fanfictionpara utaite berubah jadi anak SD unyu-unyu sekaligus kurangajar. seorang guru baru bernama Pak Shoose ditugaskan untuk mengajar anak kelas 2-C yang memiliki keanekaragaman hayati berupa anak-anak yang imut-imut sekaligus amit-amit. akankah guru baru...
![Little Utaite and Their School [END]](https://img.wattpad.com/cover/132520418-64-k820770.jpg)