Gadis itu terisak sendirian, ia bersembunyi dalam sebuah lemari. Di luar sana, ia bisa mendengar samar-samar suara orang memecahkan barang-barang. Orangtuanya tidak di rumah, dan dia justru kedatangan tamu tak diundang?
"Sialan!!! Mana mereka?! Sembunyi dimana???" suara orang yang terdengar sangat kalap membuat nyali gadis kecil itu semakin ciut. Ia berusaha untuk tetap tenang, meminimalisir suara. Kalau sampai mereka menemukan tempat persembunyiannya, habis sudah. Kalau tidak langsung dibunuh, ia akan jadi sandera untuk memancing orangtuanya datang.
Seperti yang terjadi pada si pucuk merah.
Tiba-tiba terdengar beberapa suara tembakan dan sabetan benda tajam. Kemudian disusul erangan kesakitan para penjahat. Surai merah mudanya terangkat, apa ayah dan ibunya sudah pulang?
Tak lama, seseorang membuka pintu lemari tempatnya bersembunyi. Bocah kecil itu menatapnya lega sambil tersenyum.
"Yo, sudah kuduga kamu bersembunyi di sini. Sekarang sudah aman. Ayah dan aku sudah datang, Nqrse."
Manik gadis kecil itu berair, semakin lama semakin deras, "A...raki..."
Sedetik kemudian, ia langsung menyambar bocah berambut semerah apel di hadapannya. Terisak kencang sambil memeluk orang itu. Araki kecil mengusap rambut merah mudanya, membantunya untuk tenang.
***
"Ayo! Semuanya semangat!!" seru Amatsuki riang sambil melompat-lompat di belakang panggung. Hari ini adalah harinya, hari pementasan drama.
Anak murid hilir mudik di belakang panggung, menyiapkan pentas seni masing-masing. Anak murid gue juga sudah pada bersiap. Semuanya sudah memakai kostum masing-masing. Kelas gue emang beda. Keknya kostum mereka paling bagus diantara kelas lain. Ya... karena kalo kelas lain nyewa atau patungan buat kostum, sedangkan kelas gue ada si Kradness, jadi...
Yah, begitulah.
"Iiiihh... Soraru cantik banget, deh!" puji Mafu dengan mata berbinar-binar melihat sohebnya dalam balutan gaun putih-biru-ungu baru saja keluar dari kamar ganti.
Soraru nge-blush. Dilihatnya Luz yang juga sudah cakep pake baju pangeran. Eh, Luznya juga nge-blush. Bikin Soraru auto nambahin pasokan eritrosit ke wajahnya, jadi tambah merah deh itu wajah. Itu sih, kata Sou yang waktu itu pernah gue tanyain kenapa orang bisa nge-blush.
"Mendadak jadi mindell..." gumam Luz. "Kenapa?" Kain yang ada di sebelahnya peka. Luz kemudian nutupin mukanya pake kedua tangan, "Maca Luj jadi pangelan tapi cadel??"
Teman-teman yang lain memandang dia dengan pokerface. Setelah sekian lama latihan kamu baru sadar sekarang?? Batin mereka.
"Yaudah, kalo gitu Mafu aja yang jadi pangeran, yaa?" celetuk si Mafu sambil tepuk-tepuk Luz dari belakang. Kashi yang ada di sebelahnya mengernyit heran, "Emang kamu tau dialognya?" Mafu menunjukkan wajah inosen ke Kashi, "Engga, hehe..." dan Kashi hanya memandangnya dengan tatapan 'pengen nampol tapi ini temen gue'.
Gue lantas menghampiri Nqrse. "Nqrse, kamu udah siap? Kamu kan naratornya..." tanya gue. anak itu gelagapan, kemudian ia menundukkan kepalanya, "Pak... kayaknya Nqrse emang ngga cocok jadi narator, deh..."
"Lho? Kenapa? Dan kok kamu ngomongnya baru sekarang? Udah terlambat lah," ujar gue heran. Nqrse hanya menundukkan kepalanya dalam. Gue heran banget. Apa ini anak ngerasa minder?
"Tenang aja, Nqrse pasti bisa, kok!" tahu-tahu Araki menepuk bahu Nqrse sambil menghiburnya, "Nqrse bisa mbaca narasinya pake nada yang bener, kan? Jadi aku yakin Nqrse pasti bisa!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Utaite and Their School [END]
Fanfictionpara utaite berubah jadi anak SD unyu-unyu sekaligus kurangajar. seorang guru baru bernama Pak Shoose ditugaskan untuk mengajar anak kelas 2-C yang memiliki keanekaragaman hayati berupa anak-anak yang imut-imut sekaligus amit-amit. akankah guru baru...
![Little Utaite and Their School [END]](https://img.wattpad.com/cover/132520418-64-k820770.jpg)