Camping

3.8K 347 176
                                        


Musim panas adalah waktu yang sangat tepat untuk berkemah. Cuaca biasanya cerah, hutan sedang bagus-bagusnya, dan kau bisa dengan mudah menemukan berbagai macam serangga dan binatang lainnya.

Ngomong-ngomong soal kemah, gue emang sedang mengikuti acara kemah yang rutin diadakan SD Niconico setiap liburan musim panas. Yap, acara rutin. Itu artinya gue bakal terus mengikutinya setiap tahun sepanjang karir gue di SD ini.

Setiap kelas mendirikan dua tenda. Tenda untuk putra, dan tenda untuk putri. Berhubung kelas gue murid ceweknya cuman tiga, mereka gabung sama tenda putri kelas sebelah.

Ternyata semuanya antusias mengikuti acara ini. Mereka mendirikan tenda yang sangat besar itu bersama-sama. Gue dan Pak Tenchou ikut membantu. Meskipun udara sangat panas, mereka seakan tak punya lelah. Gue sebaliknya, udah lemes dan kebelet pulang.

"Pak! Ini masang pasaknya gimana?" tanya Kogeinu yang sedang mengacungkan beberapa bilah pasak di samping tenda.

"Kayaknya harus pake palu, deh," sahut Mafu yang asyik menggeret sebilah kayu untuk menyangga tenda. Tenang, bocah itu ngga sendirian. Dia dibantuin Amatsuki, Kashi, sama Luz.

"Oh, palu?" Soraru merasa terpanggil, "kayaknya ini bisa dipake."

Gue melotot ketika ngeliat ntu bocah ngeluarin palu segede gaban dari tasnya. Kalau tak salah gue pernah melihatnya...

"Lha, Sor, palu di rumah Krad dibawa kamu ternyata?" tukas Kradness, membuat gue mengingat dimana dan kapan gue pernah melihat palu itu.

Soraru mengangkat bahu, masa bodo. Terus dia menyeret palu itu dan menedengkannya pada Kogeinu, "Nih, pake."

"Eeiiissshhh!!!! Ini biar Bapak aja yang masangin. Bahaya, tahu! Ntar kalo njatuhin kaki gimana?" sambar gue sambil menjauhkan palu itu dari mereka berdua.

"Kalo njatuhin kaki ya tinggal diobatin," balas Soraru seenak jidat. Kesel gue ngeliat dia ngeles sambil pasang tampang rata begitu.

"Ntar kalo kakinya putus gimana?" tanya si Araki dengan sadisnya. Gue ngga heran, soalnya di rumah Krad gue liat dia nonton Final Destination dengan santainya. Gue ngga yakin kalo nih anak ngga nonton sebangsanya Crocodile Hunter di rumah. Nonton Insidious ama Annabel aja dia berani. Entah Emak apa Bapaknya yang ngajarin.

"Ei sudah sudah!! Ayo lanjutin kerjanya!" potong Pak Tenchou yang mulai merinding.

Menjelang sore tenda kami sudah berdiri. Kini kami semua memasak bersama untuk makan malam sekelas. Rasanya cukup menyenangkan juga, lho... apa lagi masaknya bareng sama anak-anak didik gue yang imut-imut. Readers dilarang iri yeeaa... /// Shoosedigamparauthor

Kami memasak sup. Bahan-bahan yang digunakan memang bahan makanan yang sudah ditugaskan masing-masing anak membawanya dari rumah. ada yang membawa wortel, ada yang membawa bumbu, ada yang membawa jamur, ada juga yang membawa daging atau ikan. Untuk kompor dan lain-lain, Kradness yang bersedia membawakannya.

Gue membagi tugas masing-masing anak. Ada yang tugas ngupas-ngupasin sayuran, ada yang tugas bantuin gue ngurusin kompor, ada yang bikin minuman, ada juga yang menyiapkan tempat untuk makan.

Setelah makanan jadi, kami menyantapnya bareng-bareng. Sambil bercengkerama, kami juga berbagi dan bertukar makanan dengan kelas lain. Sunggguh suasana yang akrab.

Acara malam itu ditutup dengan pesta mengelilingi api unggun besar bersama-sama. Pak Sekihan memainkan gitar dan mengajak seluruh murid serta guru untuk bernyanyi bersama. Benar-benar sangat menyenangkan.

Menjelang pukul 9, kami semua tidur di tenda masing-masing.

Di SD Niconico ada aturan yang cukup unik. Setiap guru akan meng-handle muridnya-maksudnya jadi walasnya- sampai anak-anak itu lulus. Dengan kata lain, kelas 2-C ini bakal diampu gue sampai mereka lulus kelas 6. Sekali dibagi kelas, mereka akan terus sekelas. Karena itulah agar tidak terjadi genk yang tidak menghargai kelas lain, sekolah rutin mengadakan kegiatan bersama-sama.

Little Utaite and Their School [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang