para utaite berubah jadi anak SD unyu-unyu sekaligus kurangajar. seorang guru baru bernama Pak Shoose ditugaskan untuk mengajar anak kelas 2-C yang memiliki keanekaragaman hayati berupa anak-anak yang imut-imut sekaligus amit-amit. akankah guru baru...
Malam itu, ya, malam itu. Malam dimana gue menginap di rumah Kradness benar-benar tidak terlupakan. Kenapa? Karena kami berhasil menguak sebuah misteri...
Gue lagi asyik-asyiknya mantengin kolong meja ruang tengah yang super antik ketika tahu-tahu terdengar suara teriakan dari lantai tiga. Sontak gue dan empat bocah pelangi itu berlari mendatangi sumber suara.
Ternyata bukan cuma kami yang menyadari suara itu. Ketika kami baru sampai di lantai dua, kami melihat yang lain sudah berkumpul di ruangan yang tadi kami pakai untuk kamar.
Disana kami melihat Mafumafu dan Kradness memeluk Soraru yang tergencet diantara mereka. Keduanya gemetar ketakutan, wajah mereka begitu pucat. Jelas banget bikin gue khawatir.
Ah, Soraru? Tak usah dipikirkan. Dilihat dari sikap dan ekspresinya sudah ketahuan bukan kalau anak itu baik-baik saja?
"Hiks... kasian Soraru... dia ketakutan banget. Maaf ya tadi Mafu sama Krad tinggal... pasti serem banget. Ya, kan? Sor?" rengek Mafu yang masih memeluk sohebnya itu.
Aduh, Maf... kayaknya malah sebaliknya, deh-
"Un...," Soraru mengangguk pelan sambil membenamkan wajahnya dalam dekapan tangan putih Mafu.
Etdah! Heran bat gue sama nih anak satu! Dengan ekspresi dan gerak-gerik sedatar triplek begitu ternyata dia lagi ketakutan, tha?
Sekali lagi gue salut sama Mafu yang bisa paham betul sama orang ini di saat Dimas Kanjeng aja belum tentu ngerti. Emang rada absurd si Soraru ini.
Gue garuk-garuk kepala, mumet. Sejujurnya gue pusing sama situasi ini. "Jadi? Kenapa kalian lari-lari sampai njerit-njerit ketakutan begitu?"
Kemudian Kradness menceritakan semuanya. Kami semua yang mendengar hal itu terkejut bukan main.
"Sosok hitam? Kira-kira apaan, sih?" Pak Tenchou mengerutkan dahi, bingung. Sama, gue juga kagak paham.
"Jangan-jangan... itu hantu, lagi!" celetuk Kogeinu.
Oke, hipotesis anak kecil.
"Hah? Hantu??!!" yang lain langsung percaya. Emang dasar anak kecil. Itulah sebabnya kalian ga boleh ada di jalan sendirian, tahu!
"Hik...hik..." terdengar suara dari belakang.
Semua menoleh, melihat Luz mengucek-ucek matanya, "Hueee.... jangan-jangan, Kain cama yang lainnya pada dimakan hantu itu.... huwaaaaa...."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Etdah! Semuanya pada langsung ikutan nangis. Gue sama Pak Tenchou kalang kabut. Masih untung si Soraru kagak ikutan mewek! Dia cukup tahu diri dan menenangkan Mafu yang menangis keras. Kalian tahu? Sulit sekali menenangkan anak-anak kecil yang udah telanjur mewek begini. Digimanain juga kagak mempan, euy!
"Pokoknya, Luj haluc cali Kain!" Luz berseru sambil berlari keluar kamar, masih dalam keadaan mewek.
"Oi- Luz!!" gue berusaha mencegah, tapi anaknya udah keburu ngilang. Karena khawatir, gue segera bangkit hendak mengejar bocah itu.