12 - Heat seorang Omega

21.6K 2.4K 353
                                        


Mangkok bubur merah yang mulanya penuh itu kini telah habis dilahap oleh Jimin. Tentunya dengan sedikit paksaan oleh Yoongi, mengingat sang alpha bersikeras meminta Jimin menghabiskan semua makanan yang ditinggalkan Hoseok. Ia sangat yakin perutnya akan meledak jika saja Yoongi meminta lagi untuk menyumpalkan sepotong sandwich yang tersisa.

"Sepotong ini saja lagi, Jiminie."

"Sudah kenyang blondie. Berapa kali aku harus bilang, eoh? Cepat sinikan obatnya!Punggungku sakit, aku mau tiduran lagi."


Dengan enggan Yoongi meletakkan piring yang berisi sandwich itu lalu meraih segelas rebusan dedaunan herbal berwarna hijau transparan. Ia bergerak cekatan untuk membantu Jimin menegak obat itu. Sesaat permukaan gelas bertemu bibir Jimin, sontak sepasang mata sang omega membelalak. Dapat Yoongi tebak bahwa obat racikan Hoseok terasa cukup pahit bagi Jimin. Maka terpaksa sebelah tangan Yoongi bergerak menyanggah kepala belakang Jimin agar Jimin tak memuntahkan obat yang telah diracik susah payah oleh Hoseok.

"Uhuk kau ingin aku mati tersedak eoh?" Protes Jimin dengan pelototan matanya ke arah Yoongi.

"Jangan terlalu sering berpikiran buruk tentangku, Jiminie. Lagipula minuman pahit tak masalah pagi seorang pria sejati bukan?" Goda Yoongi dengan senyuman miringnya.

"T-tidak pahit! Memang aku bilang begitu?! Kan kubilang aku tersedak." Bela sang omega.

"Yasudah aku tidak akan berkomentar lagi. Lebih baik sekarang kau memunggungiku. Ada obat lagi yang harus dioleskan pada punggung memarmu." Pinta Yoongi sembari menuntun tubuh Jimin miring ke samping.


Yoongi tak menghiraukan decakan malas Jimin yang enggan mengikuti ucapannya. Ia perlahan menurunkan balutan mantel bulu yang membungkus tubuh Jimin hingga batas pinggang. Baru ia sadari bahwa siluet punggung Jimin terlihat sangat menawan dengan bubuhan otot-otot yang terbentuk. Tidak dempal berlebihan. Cukup untuk menandakan bahwa gizi Jimin tepat dan proporsional.

"Iri eoh dengan tubuhku?" Bangga Jimin tatkala ia menyadari tak ada pergerakkan Yoongi dibalik tubuhnya.

"Hm.. tidak juga. Kau bisa lihat sendiri tubuhku tak seburuk itu. Hanya sedikit terkesan kau menjaga tubuhmu dengan baik." Jelas Yoongi.


Seketika jemari Yoongi bergerak lembut membalurkan minyak pohon kayu putih pada bagian-bagian memar Jimin yang mulai memudar. Memar yg paling ketara berupa goresan biru keunguan yang melintang sepanjang 30 sentimeter di sisi kiri punggung. Jimin mendesis lirih setiap Yoongi menekan-nekan ringan bagian memarnya.


"Kau sebenarnya tadi ada masalah apa dengan Namjoon? Tatapan matanya seolah sangat membencimu." Tanya Yoongi hati-hati.

"Tak tau! Dia memang benci sekali padaku dari awal. Aku dibilang membangkang lah, pembuat onar lah, tak menghormatinya lah. Bullshit!" Omel Jimin.

"Ya ya aku tau yang itu. Tapi kejadian hari ini sedikit lebih serius sepertinya. Masalah apa?"

"'Sedikit serius' katamu? Hell! Dia berniat membunuhku itu tadi! Ini semua salah Seokjin-nim yang memfitnahku! Aku baru tau kalau ternyata ia sama saja dengan pasangan homonya itu."

"Memfitnah bagaimana? Rasanya Seokjin bukan orang seperti itu."

"Kau juga tidak percaya padaku? Dia bilang akan membantuku bertemu inner wolfku. Tetapi nyatanya ia malah menarikku paksa ke depan si hitam galak itu, lalu memfitnah kalau aku tak suka dengan Seokjin-nim"

"Ah.. begitu rupanya. Keke ide Seokjin benar-benar gila. Kenapa harus lewat Namjoon? Lewat aku saja kan bisa harusnya."

Suara kekehan Yoongi sontak membuat Jimin terperangah heran memandang sang alpha.

Courting You (Yoonmin)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang