Part 18.2

1K 62 0
                                    

Aldrick melihat Aurora berlari menuju lantai 2 dan menutup pintu dengan kencang. Perilakunya membuat Aldrick semakin mengerutkan keningnya.

"Kakaknya meninggal 2 tahun yang lalu, Al" kata Keanu menjelaskan tingkah laku anak keduanya.

"Maksud Om? Meninggal karena sakit?" tanya Aldrick bingung

"Panggil Papa aja. Setelah ini kamu kan juga jadi anakku. Hufth...Ara dan Sam sangat dekat.dibandingkan dengan adik bungsunya, Sam selalu tukar pendapat dengan Ara, apapun yang akan dilakukannya pasti atas dasar ijin Ara. Meskipun begitu, adik bungsunya tidak pernah iri akan kedekatan mereka. Sam begitu menyayangi kedua adiknya. Waktu itu Sam baru saja menikah dan mendapat kabar bahwa istrinya sedang hamil. Dia begitu bahagia. Sangat bahagia Al. Ara dan Lieta juga bahagia mendengar kakak iparnya mengandung. Mereka berdua selalu saja ribut jika membahas tentang calon anaknya Sam." ujar Keanu sambil menerawang jauh. Seakan-akan kejadian itu sedang terjadi di depan matanya. Samar-samar terlihat senyum yang tercetak meskipun tipis. Sentuhan lembut di punggung dan bahunya membuat Keanu menoleh dan tersenyum pada Brenda, istrinya.

"Sejak saat itu, Sam selalu protective pada istrinya. kemana-mana diantarkan sama Sam. Begitu juga Ara. Hehehe,,,bahkan Lieta cemburu melihat kasih sayang kedua kakaknya tercurah pada istri Sam. Sampai pada akhirnya...Kejadian itu..Hiks..Kejadian dimana...Hiks..Oh astaga...Anakku yang malang..." ucap Brenda sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

"Apa yang terjadi pada Kak Sam Pa?" tanya Aldrick penasaran

"Tepat di hari ulangtahunnya, dia ditemukan tewas dengan tubuh penuh dengan luka tusuk. Wajahnya babak belur. Kata dokter, Sam mengalami pendarahan di otaknya akibat pukulan benda keras. Bukan hanya itu saja Al, Sam juga dipaksa minum minuman yang mengandung racun. Akibatnya tubuh bagian dalam rusak dan tidak bisa tertolong lagi. Organ dalamnya banyak yang rusak. Bahkan jenazah putraku digeletakkan begitu saja di pinggir jalan. Persaingan bisnis yang membuat Sam meninggal dengan tragis. Sejak saat itu, Istri Sam kembali ke Italia bersama dengan Lieta. Sedangkan Ara....Huuuh...Dia menyibukkan diri dengan kegiatan kuliahnya. Beberapa bulan setelah kematian Sam, Ara sempat melakukan percobaan bunuh diri dengan menenggak obat apa juga itu aku tidak tahu.  Salah satu ART yang menemukan dia tidak sadarkan diri di kamar Sam. Tangannya memegang bingkai foto Sam. Dia sempat dirawat di ICU  selama seminggu...."

"Iya Al...Jika menyangkut orang yang disayanginya, dia selalu bertindak bodoh. Waktu itu kami sangat ketakutan. Kami tidak mau kehilangan anak kami lagi. Bahkan sampai sekarang pelaku pembunuhan Sam belum ditemukan..." lanjut Brenda karena tahu suaminya tidak kuat saat mengingat betapa menderitanya Aurora saat itu.

"Jadi gitu ya Ma. Terus kenapa Ara selalu menghindari laki-laki yang dekat sama dia ya Ma? hmm,,kalian kan orang penting, bukan keluarga biasa-biasa. Tapi kenapa kalian selalu berpura-pura menjadi orang biasa-biasa aja Ma?" tanya Aldrick penasaran

"Hahahahaha...Duh menantu mama ini ya..Jika hal itu sebenarnya bukan kita kan Pa...Aurora dulu sering dihina temannya karena warna mata Ara yang sebenarnya berwarna biru dan banyak yang memanfaatkan dia karena dia anak kami. Sejak saat itu dia ingin penampilan yang biasa karena dia ingin punya teman yang benar-benar tulus."kata Brenda menjelaskan. Aldrick hanya menganggukkan kepala.

"Erick, aku minta tolong sama kamu. Cari tau siapa yang sudah membunuh Kak Sam. Segera...!!"perintah Aldrick yang tidak bisa dibantah. Erick menganggukkan kepala dan segera menghubungi orang-orangnya. Setelah itu Aldrick pamit untuk menemui Aurora. Keanu mengantarkannya sampai didepan pintu kamar Sam.

"Papa percaya padamu, Nak. Jaga Ara dengan baik."

Aldrick membuka pintu dengan hati-hati. Kamar Sam bernuansa maskulin dengan warna merah maroon yang mendominasi. Terlihat di mata Aldrick semua barang-barang Sam masih tertata rapi. Matanya tertuju pada gadisnya yang sedang meringkuk di sofa pinggir jendela. Matanya yang sembab, rambut yang acak-acakan, serta pandangannya yang kosong, membuat hati Aldrick merasakan sakit yang dirasakan gadisnya. Aldrick segera mendekat dan memeluk Aurora dengan erat. Dielusnya rambut panjangnya. Saat menyadari ada seseorang yang memeluknya, Aurora langsung membalas pelukan itu dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Aldrick. Mendapat balasan seperti itu, jantungnya berdegup tidak karuan.

"Ssstttt,,,sudah sayang. Ada aku disini. Ssstt...sudah ya,,,Aku akan mencari siapa yang membunuh Sam. Aku janji padamu sayang,,aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada pembunuh itu. Tapi berhentilah bersedih baby....Kasihan nanti Sam juga ikut sedih melihat adik tersayangnya seperti ini..."hibur Aldrick. Aurora mendongak dan mata mereka saling bertemu. Aldrick baru sadar jika Aurora tidak memakai kontak lensa. Benar yang dikatakan orangtuanya. Matanya berwarna biru terang. Beautiful eyes,,,batin Aldrick.

"Benarkah? Kau akan melakukannya untukku?"tanya Aurora dengan sesengukan. Aldrick mengangguk dan tersenyum padanya.

"Terimakasih Al....." Aurora memeluk erat pinggang Aldrick. Menyadari perbuatannya itu, Aurora langsung melepas pelukannya dan berlari keluar. Aldrick langsung tertawa kencang melihat Aurora yang malu.....

My Lovely NurseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang