Aurora Evren Naureen, Gadis manis berdarah campuran Indonesia-Turki-Portugis. Dengan tinggi 178 cm dan memiliki warna mata biru terang. Aurora sering dihina oleh teman-temannya karena warna matanya yang aneh sehingga Aurora harus menggunakan kontak...
Hari pun semakin gelap. Aurora membersihkan diri di kamar mandi. Guyuran air hangat mampu membuat badannya menjadi rileks. Jangan lupakan jika sekarang Aurora masih berada di rumah kontrakannya ya. Karena demi penyamarannya menutupi jati dirinya yang sebenarnya. Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Aurora segera bersiap-siap karena dia tidak ingin terlambat dan mendengarkan omelan Catherine.
Aurora mengenakan dress dengan jenis knee high dress berwarna biru tua dengan heels yang berwarna senada. Rambutnya digelung. Malam ini Aurora tampak cantik dan anggun.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Terdengar suara ketukan pintu kontrakannya, dengan cepat dia menuju pintu. Betapa terkejutnya saat melihat beberapa pria berpakaian rapi dan berbadan tegap. Aurora tidak menyangka jika kekasihnya memberikan bodyguard yang menurutnya terlalu berlebihan. Bayangkan saja, dia hanya datang ke pesta pernikahan sahabatnya, tetapi ada 10 orang yang mengawal. Aurora hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Aldrick yang begitu protective.
"Selamat malam Nona. Saya Anton, kepala keamanan. Malam ini saya dan 10 anak buah saya akan mengawal nona kemanapun nona Aurora pergi."
"Oh, okeee...Tunggu sebentar."
Dengan gerakan yang lincah, Aurora segera menghubungi Aldrick. Dia tidak mau diperlakukan seperti layaknya tahanan. Terdengar nada sambung dan hembusan nafas dari seberang telpon.
"Aku tau kalau aku sudah gila sayang. Tapi setidaknya turuti calon suamimu ini. I just want you save. Apa aku salah sayang?" kata Aldrick sebelum Aurora berbicara. Karena dia tahu jika dia membiarkan kekasihnya berbicara, yang ada malah telinganya panas mendengarkan tunangannya cerewet. Aurora hanya menghembuskan nafas.
"Baiklah, hanya malam ini Al. Untuk berikutnya, no more bodyguard. Love you sayang. Aku berangkat dulu dan terimakasih untuk keamanannya. Jangan terlalu bekerja berlebihan ya." ujar Aurora sambil menutup telponnya.
Setelah mengambil tas kecilnya, Aurora berangkat dengan bodyguard dari Aldrick. Meskipun dulu dia pernah mengalami hal ini, tapi rasanya masih aneh juga jika dirinya dikawal oleh orang-orang yang berbadan besar dan wajah yang kaku.
Sepanjang pesta pernikahan Catherine, Aurora menikmatinya dengan bahagia. Banyak kolega dari keluarganya yang dijumpai. Pesta pernikahan sahabatnya digelar dengan sangat mewah, seperti apa yang diimpikannya sejak masih kecil. Dari kejauhan dia melihat wajah bahagia sahabatnya. Aurora membayangkan bagaimana nantinya jika dia menikah dengan Aldrick. tampak semburat merah di kedua pipinya dan dia tersenyum malu-malu. Dering telfon membuyarkan angan-angannya. Setelah dia menjauh dari keramaian, Aurora segera mengangkat telfon dari Aldrick
"Kenapa wajahmu seperti tomat, sayang?"tanya Aldrick di seberang telfon
"Enggak kok. Siapa juga yang wajahnya kayak tomat. Asal nebak aja kamu itu"
"yakin? Emang tadi bayangin apa? Kita menikah? Hmmmm"
"Hmmm,,,enggak tuh. Siapa juga yang bayangin kita nikah. Percaya diri banget sih nih bapak-bapak"
"Turn back sweetheart......"
Aurora memandang handphonenya dengan pandangan aneh, tapi tetap saja dia melakukan apa yang diperintahkan Aldrick. Dia berputar menghadap belakang dan begitu terkejut sampai handphone yang dipegangnya terjatuh. Aldrick tersenyum dan merenggangkan kedua tangannya. Aurora begitu terkejut hingga teriak dan menutup mulutnya. Sambil berlari, dia memeluk Aldrick dengan sangat erat. Entah kenapa sejak bertunangan dengan Aldrick dan dia menyadari perasaannya,Aurora menjadi begitu manja. Menjadi seperti anak kecil.
Aldrick mencium puncak kepala Aurora dengan penuh cinta. Jarak yang begitu jauh membuatnya sering frustasi dan terkadang pula membuatnya gampang marah jika berada di kantor.
"Kenapa gak bilang kalo mau kesini? terus kenapa kok aku malah dikasih bodyguard yang nyeremin gitu sih....." omel Aurora dengan posisi masih memeluk Aldrick
"Aku hanya ingin membuat surprise untuk kekasihku tercinta. Catherine, mama dan papa juga sebenernya sudah tahu kalau aku mau pulang ke rumah mertua selama seminggu. Bosan juga disana gak ada Mrs. Hawkins juga kan.."
Mendengar pernyataan Aldrick, Aurora tersenyum malu. Aurora pamit ke kamar mandi karena malu setelah tunangannya menyebut dia sebagai Mrs Hawkins..
Saat dia menuju kamar mandi, Aurora berpapasan dengan orang yang sangat aneh gelagatnya. Entah perasaannya yang tidak enak atau memang aura dari orang tadi yang memang benar-benar aneh.
Sebelum masuk ke kamar mandi, sesuatu mengenai punggung Aurora. Dengan lihai dia menunjukkan kemampuannya berkelahi. Namun tidak disangka, dia kalah jumlah. Orang yang berpakaian serba hitam itu memukul lehernya.
Pandangannya mulai kabur, kesadarannya mulai turun. Namun dengan posisi seperti itu, Aurora segera mengaktifkan gps yang terpasang di jam tangannya, yang hanya Catherine dan almarhum kakaknya yang tahu. Sesaat sebelum kesadarannya menghilang, dia menarik topeng salah satu dari mereka.
"Ka....kamu...."
disaat itu juga kesadarannya pun mulai menghilang dan hanya kegelapan yang menyelimutinya..........