Gue masuk kedalam Kafe yang disebutkan oleh Arfan. Gue melihat Arfan telah duduk sambil memainkan ponsel nya.
Gue menarik kursi yang berada di depan Arfan dan menduduki nya.
Arfan tidak bergeming dan tidak mengalihkan pandangan nya dari ponsel, padahal sudah ada gue di sini.
"ekhem," gue mendehem pelan agar Arfan menyadari kedatangan gue. Namun Arfan tidak juga menyadari kehadiran gue. Dia memang tidak menyadari, atau memang sengaja?
"ekhem, ekhem ...," kali ini gue berdehem lebih keras agar dia menyadari kehadiran gue. Hasil nya tetap nihil, Arfan tidak menganggap gue ada di depan nya. Memang tidak ada sopan santun.
Huh! ingin gue tampol wajah tampan nya. Gue menggeram kesal dan menaikkan tangan gue ke udara seperti ingin mencakar wajah nya, namun gue masih waras tidak mungkin gue melukai seseorang karena hal sepele.
"lo telat 10 menit," gue segera menurunkan tangan gue, ketika Arfan melirik gue.
"oh, nona Akeila Zefa kau terlihat kesal," belum sempat gue berbicara, Arfan kembali berucap dan tersenyum miring.
Dari mana dia tahu nama panjang gue?
"mau ngomong apaan lo sama gue?" gue mengabaikan ucapan nya dan langsung to the point bertanya.
"lo engga sopan banget jadi adek kelas, panggil gue kakak," gue mengerut kan kedua alis karena ucapan nya.
Gue menganggukkan kepala sebagai tanda kalau gue akan menyanggupi permintaan nya, hal ini karena gue ngga mau berdebat dengan orang menyebalkan seperti Arfan ini, lagian beda satu tahun aja bangga!
"lo harus terima perjodohan ini," Arfan kembali memainkan ponsel nya. Ni orang memang gak sopan, kalo bicara sama gue pandangan nya ke gue dong, ini malah mandangin ponsel, oke anggap saja dia berbicara pada ponsel nya itu dan gue tidak perlu membantah atau menjawab semua perkataan nya, kecuali dia berbicara dengan menatap gue.
Gue hanya diam dan menikmati semangkuk ice cream yang telah di sediakakan di atas meja. Wow! rasa nya seger banget gue sukaa.
"lo ngapain diam? gue bicara sama lo, lo budek ya?" Arfan mengalihkan pandangan nya dari ponsel dan menatap gue dengan ekspresi datar, dan nada suara yang datar.
"oh lo bicara sama gue ya? gue kira lo bicara sama ponsel lo, ya jadi gue diam aja," gue berucap santai dan melanjutkan aktivitas memakan ice cream gue yang segar ini.
"yang mau dijodohin itu kan gue sama lo, bukan gue sama ponsel gue."
Gue menaik kan kedua bahu "terserah lo," gue berucap sambil menatap wajahnya dengan malas.
"dan satu lagi, lo harus panggil gue kakak ... gak sopan kalau lo manggil gue dengan ucapan lo gue an," laki laki yang berada di depan gue ini memang sangat pemaksa, gue gak bisa membayangkan jika gue hidup sama dia, huh sudah pasti penuh dengan paksaan.
"lalu apa ubah nya sama lo yang ketika berbicara tidak melihat lawan bicara nya dan malah menatap ponsel, apa itu bisa dikatan sopan tuan Arfanda Pratama?" gue tersenyum miring menatap Arfan yang kini sedang menaruh ponsel nya di atas meja. Mungkin dia merasa tersindir. Ah tapi itu memang sebuah sindiran kasar sih, jadi dia pasti langsung paham.
"baik lah gue akan menatap lo saat lo lagi ngomong," Arfan mengetuk kan jari nya diatas meja. Tak lupa mata nya menatap gue dengan tatapan datar, gue berasa lagi ngomong sama patung. Bahkan gue rasa patung ada juga yang lebih ekspresif dari ada orang ini.
"oke ... gue juga akan memanggil lo dengan
panggilan 'kakak' jadi kita impas."
Arfan menaikkan satu alis nya setelah gue berbicara dan gue langsung menghentikan aktivitas menyuap kan ice cream kedalam mulut gue. Karena ice cream nya udah abis.
KAMU SEDANG MEMBACA
PACAR CUEK [COMPLETED✔]
Novela JuvenilSeorang gadis SMA yang bernama Akeila Zefa dijodohkan oleh orang tua nya dengan seorang laki laki yang bernama Arfanda Pratama yang ternyata adalah kakak kelas Akeila di sekolah. Arfan di kenal sebagai orang yang paling cuek dan tidak peduli terhada...
![PACAR CUEK [COMPLETED✔]](https://img.wattpad.com/cover/169621192-64-k280503.jpg)