Aldo mengantar gue pulang, setelah sampai di depan pagar rumah, Aldo menghentikan mobil nya. Gue turun dari mobil, dan Aldo ikut turun sambil melebarkan senyuman nya dan berdiri di hadapan gue.
Gue membalas senyuman Aldo, "ngapain senyum lo lebar banget?" tanya gue secara spontan. Aldo tertawa pelan, "baru putus udah hilang aja panggilan kamu sama aku cepat banget move on nya.
"serah dong, ini cara buat move on tau," jawab gue seraya terkekeh. "ya udah gue juga ikut cara move on lo deh," balas Aldo tersenyum singkat.
Gue hanya tersenyum sekilas setelah Aldo mengatakan itu, rasanya sangat banyak peristiwa yang terjadi malam ini gue sangat butuh istirahat tapi setelah putus dari Aldo apa dia tetap mau jadi teman gue?
Gue melirik Aldo sekilas "Al, walaupun kita udah putus lo tetap mau kan jadi teman gue? Lo ngga bermaksud jauh dari gue kan setelah apa yang terjadi tadi? Lo ngga bakal lupa ke gue kan? Lo ngga ...," gue menghentikan ucapan gue, karena Aldo mengelus pipi gue dengan lembut.
"ngga Kei, gue ngga bakal lupa, atau menghindar dari lo, gue masih jadi teman lo kok dan asal lo tau gue masih punya perasaan ke lo, cuman kita memang butuh jeda," tutur Aldo yang mencoba menjelaskan. Mendengar penuturan Aldo, gue tersenyum lebar.
"teman kan?" tanya gue seraya mengangkat alis dan tersenyum lebar. Aldo terkekeh pelan dan balas tersenyum, "ya kita teman."
Aldo memeluk gue sangat erat, dan gue membalas pelukan itu. "jangan lupa kenangan kita Kei," bisik Aldo pelan di telinga gue. Tiba-tiba air mata gue meluncur begitu saja. "ngga akan Al, ngga akan, gue ngga akan lupa."
Isak tangis gue membuat Aldo melepas pelukan, "jangan sedih, karena seorang Akeila ngga pantas bersedih, dia harus tetap bahagia apa pun yang akan terjadi, i Love you Kei," lirih Aldo.
"umm ini udah malam aku pulang dulu ya, jaga diri ya Kei, jangan ceroboh gue pergi dulu nih bye!" Aldo mengusap bahu gue pelan lalu menghapus air mata gue dan masuk kedalam mobil.
"bye Al, take care ya!" gue tersenyum dan Aldo membalas nya, setelah itu dia pergi.
PACAR CUEK
Gue masuk ke dalam rumah, dan sebelum gue masuk gue melihat sebuah mobil yang kayak nya gue kenal sih, tapi gue menghiraukan nya dan masuk ke rumah.
Di ruang tamu, bunda lagi asyik membaca majalah, dan ayah sedang menyeruput secangkir kopi nya.
"bunda itu di luar mobil siapa?" tanya gue dan langsung duduk di samping bunda. "loh kamu udah pulang? Ucap salam dulu kek tadi, dasar anak jaman sekarang," omel bunda.
"iya lupa bun maaf deh."
"dari mana Kei?" ayah menatap gue heran.
"keluar bareng teman tadi yah," jawab gue apa adanya. "jawab dulu dong, di luar mobil siapa?" tanya gue lagi.
Ayah buka suara dan menjawab, "itu mobil ...."
"liat aja di kamar kamu sana," bunda memotong ucapan ayah dan gue mendengus kesal, seperti ada yang di sembunyikan dari gue. Karena penasaran gue langsung pergi ke kamar dan melihat jika ada ARFAN!!!
"eh kak lo ngapain di kamar gue?" gue bergegas masuk dan menghampiri Arfan yang tengah sibuk membuka buku matematika gue. Duh mampus gue Arfan pasti tau kalo gue goblok banget dalam matematika.
"eh kak ini buku keramat lo kak, ngga boleh dilihat orang lain selain gue," gue merampas buku matematika itu dari tangan Arfan yang sedang menatap gue bingung. "keramat apanya? Keramat karena nilai lo lima semua?"
DHUARR!
Hati gue serasa bergemuruh setelah mendengar ucapan Arfan, kenapa yang dia bilang benar? Gue memang dapat nilai lima terus, dapat tinggi kalo lagi minta contekan ke Aldo atau karena jawaban gue ketiban rezeki. Benar satu soal aja gue udah syukur.
Apa lagi benar semua? Bisa terbang gue pindah ke planet Mars.
"itu mata lo kenapa sembab?" Arfan berdiri dan melirik mata gue, "masa habis mesra mesraan matanya sembab," sindir Arfan. Wait! Apa Arfan tadi liat gue sama Aldo?
"maksud kakak apaan?" gue pura pura polos. Arfan menatap gue dengan tatapan tak percaya. Dia pergi ke balkon kamar gue dan gue mengekori nya dari belakang.
"di situ," Arfan menunjuk tempat gue berduaan dengan Aldo tadi. Gue masih pura-pura bingung, sedangkan Arfan memutar bola matanya, "di situ lo pelukan Aldo, lalu Aldo senyum terus."
"idih, kak Arfan ngintip ya!" tunjuk gue ke arah nya, Arfan menurunkan jari telunjuk gue dari hadapan nya dan memasang tampang cool nya. "bukan ngintip tapi kelihatan, kan gue punya mata dan tempat itu bukan tempat yang cocok buat mesra mesraan, dasar bocah!" desis Arfan di akhir ucapan nya.
Kini giliran gue memutar bola mata dan kembali menuju kasur lalu duduk, Arfan ngga tau sih kalo gue baru putus kan sakit banget, masa iya orang yang gue suka bilang ke gue mau putus itu kan sangat menyedihkan huh!
Mesra mesraan apaan coba itu kan seperti salam perpisahan, Arfan sih ngga ngerti lagian ngapain dia perlu ngerti kan ngga penting banget. Gue liat Arfan berjalan mendekati gue lalu duduk di samping gue.
Dengan canggung gue melirik sekilas ke arah nya. "kenapa ikut duduk?" tanya gue.
"ngga tau," jawabnya singkat padat dan ngga jelas. Suasana hening Arfan diam dan gue sibuk memikir kenapa dia mau duduk di samping gue, sungguh bahan pemikiran yang ngga bermutu. "kenapa mata lo sembab?" Arfan mengulang pertanyaan nya yang tadi, gue bingung harus cerita masalah gue ke Arfan atau tetap diam. Gue memang lagi butuh teman curhat, tapi ngga mungkin gue datang ke Yumi yang udah jelas bahkan sangat jelas mengkhianati gue. Dan kalau gue datang ke Karin gue ngga tau harus percaya dia saat ini, gue takut dia bersekongkol dengan Yumi dan banyak hal lainnya yang membuat gue ragu terhadap mereka.
"kenapa ngga jawab? Lo ngga mendadak jadi bisu kan?" pertanyaan Arfan membuat gue segera menoleh ke arah nya. "asal ngomong aja lo kak!" sewot gue.
Arfan mengangkat bahu acuh, "kalo ngga bisu ya jawab," ucap nya dengan ekspresi datar. Gue diam sejenak memikirkan apakah gue harus cerita ke Arfan masalah ini? Apa dia bisa bantu atau bisa dengar cerita gue? Banyak pernyataan yang berkeliaran di kepala gue.
Pikiran gue menolak untuk bercerita ke Arfan, sedangkan perasaan gue ingin sekali bercerita ke Arfan, lalu di mulai lah perdebatan antara pikiran dan perasaan gue.
"nyesel ntar kalo ngga cerita," perasaan gue.
"ngga bakal nyesel deh, Arfan belum bisa di percaya harus kasih kartu merah dulu ke Arfan tanda nya dia harus berhenti dulu," pikiran gue.
"ya elah gue kan butuh teman curhat nih," perasaan gue.
"tapi Arfan ngga cocok jadi teman curcol?" pikiran gue.
"ahh cocok ngga cocok lanjut aja deh," perasaan gue
"umm jangan deh," pikiran gue
"iya aja deh," perasaan gue.
"tapi dia ngga cocok kampret!"
"STOP!" gue berteriak keras. Arfan menatap gue bingung, "lo kenapa?" tanya nya heran.
Gue menutup mulut gue, gue kaget karena kata itu langsung keluar dari mulut gue. Duh ini karena perdebatan dari pikiran dan perasaan gue yang ngga membuahkan hasil malah membuahkan malu.
Gue memandang Arfan dengan cengengesan, "gue mau cerita kak," ucap gue pada akhirnya.
"oke gue dengerin."
Yuhuuu, gue up nih yeayy!! Semoga suka maap kalo ada kekurangan dan makasih udah mau baca lope uuu
Gue mau curhat, eh masa ya tadi gue udah buat cerita panjang banget eh malah ke delete kan adkxudvduwbs. Bingung gue mau bilang apa lagi, intinya gue kesel :'
Eh udah dulu deh jangan lupa vomment! :)
Big hug 💙
KAMU SEDANG MEMBACA
PACAR CUEK [COMPLETED✔]
Teen FictionSeorang gadis SMA yang bernama Akeila Zefa dijodohkan oleh orang tua nya dengan seorang laki laki yang bernama Arfanda Pratama yang ternyata adalah kakak kelas Akeila di sekolah. Arfan di kenal sebagai orang yang paling cuek dan tidak peduli terhada...
![PACAR CUEK [COMPLETED✔]](https://img.wattpad.com/cover/169621192-64-k280503.jpg)