Gue menatap Arfan dengan tatapan tidak percaya. Putus katanya? Tapi kenapa? Apa gara gara dia kesal ke gue? Atau gue yang keterlaluan ke dia? Tapi kenapa harus putus?
Gue belum siap benar benar belum siap, lagian untuk apa sih dia ngajak gue ketempat seindah ini kalo cuma mau bilang putus? Dasar kurang ajar, apa gue seburuk itu sampai harus di putusin oleh dua orang cowok? Pertama Aldo lalu kini Arfan. Apa gue benar benar tidak pantas bagi seorang laki laki?
Saat ini gue sudah seperi wanita yang menyedihkan. Namun pada akhirnya, Gue memberanikan diri untuk menatap wajah Arfan, karena sedari tadi gue hanya diam dan menundukkan kepala setelah dia mengucapkan kata putus yang tidak pernah gue duga dan yang tidak pernah gue harapkan itu.
Gue melihat wajah Arfan yang tenang dan tidak ada raut sedih sedikit pun. Bukankah dia baru mengatakan putus tadi? Bahkan dia lebih buruk dari Aldo. Setidaknya, dulu Aldo masih ada rasa sedih sedangkan dia sepertinya memang tidak punya perasaan.
"muka lo nyebelin tau ngga," gue menatap Arfan tajam, namun tidak tahu kenapa malah air mata yang turun dari mata gue. Sialan! Benar benar menyedihkan. Gue segera menghapus air mata gue dan menginjak sepatu Arfan lalu melangkah menjauh menuju mobil Arfan.
"aw Kei, lo apaan sih," rintih Arfan.
Gue mengabaikan Arfan dan tetap melangkah.
"dengerin gue dulu," Arfan menahan lengan gue dan secara spontan gue menatap ke arahnya yang berada tepat di samping gue. "denger apa lagi? Lo mau bilang, kalo alasan lo mutusin gue itu gara gara lo kesel ke gue? Atau gara gara gue cium pipi lo tadi hah?" emosi gue hampir meledak ledak dan gue tidak memanggilnya dengan panggilan 'kak Arfan' lagi. Gue benar benar tidak peduli dengan embel kak di namanya.
"gue mutusin lo karena gue suka lo Kei," ucap nya dengan datar dan seketika membuat gue emosi. Apa dia tidak ada ekspresi lain hah? Kenapa memberikan ekspresi datar di saat momen menyedihkan? Apa cuma gue yang merasa sedih?
"kalo suka ngga bakal mutusin," jawab gue datar. Meniru gayanya bicara.
Arfan menatap gue dengan tatapan bingung. Kemudian tangannya mengelus rambut gue, namun gue segera menepis nya.
"keputusan gue udah bulat Kei, kita harus udahin hubungan kita," gue menatap Arfan penuh emosi setelah ia mengucapkan kalimat menyakitkan itu.
"terserah lo!" gue memberi tatapan tajam kepada Arfan dan segera berlari menjauh.
"Kei!" gue berhenti berlari ketika mendengar teriakan Arfan. Gue masih enggan untuk berbalik dan menatapnya.
"maksud gue, kita udahin hubungan keterpaksaan yang menggunakan perasaan palsu kita, dan kita mulai hubungan baru dengan perasaan asli!" Arfan berteriak, dalam hitungan detik, gue berbalik ke arahnya. Maksudnya apa? Apa kita mulai dari awal? Jadi ini bukan mutusin hubungan seperti yang gue kira?
Arfan berjalan mendekati gue dan langsung memeluk gue. "hahaha lucu banget sih lo, gitu aja nangis, lagian kalo lo kesel tampar gue kek, ini malah injak kaki gue."
Gue membalas pelukan Arfan, "jadi mau di tampar hah?" balas gue.
Arfan tertawa, "ngga mau lah."
Beberapa detik kemudian, Arfan melepas pelukan nya. "mau ngga jadi pacar gue?" Arfan memegang tangan gue dan menatap langsung ke manik mata gue.
Gue terdiam menatap raut serius di wajahnya. Kemudian, gue menghembuskan nafas, "maaf kak, gue ngga bisa."
Arfan mengernyit bingung, "maksud lo, gue ditolak?" gue hanya diam, bingung harus menjawab apa, "maksud gue-" ucapan gue terpotong karena Arfan menyela.
KAMU SEDANG MEMBACA
PACAR CUEK [COMPLETED✔]
Roman pour AdolescentsSeorang gadis SMA yang bernama Akeila Zefa dijodohkan oleh orang tua nya dengan seorang laki laki yang bernama Arfanda Pratama yang ternyata adalah kakak kelas Akeila di sekolah. Arfan di kenal sebagai orang yang paling cuek dan tidak peduli terhada...
![PACAR CUEK [COMPLETED✔]](https://img.wattpad.com/cover/169621192-64-k280503.jpg)