17.WHITE CHOCO

587 22 0
                                        

Diam dan sekedar menyapa rerumputan yang datang begejolak.Menembus bayangan yang seakan hilang dalam alunan angin yang hening.Tanpa disadar,dia sudah berada di samping.Dibawanya sekotak coklat yang di kombinasi dengan 2 warna.Hitam dan putih.Pikirnya,dunia hanya sekedar fantasi.Tidak ada dernyuhan harap yang hinggap pada pelipis.

Dio datang pagi-pagi sekali.Tanpa suruhan dari nyonya Tari,ia langsung datang begitu saja.Lagi-lagi ia datang tanpa diundang."Pagi-pagi main gedor pintu aja lo,"

"Tapi kan,lo suka kan gue bawain ini? Hayolo jujur hayo hayo."

"Apaan sih," Tari duduk di sebelah Tari.Ia masih mengenakan piyama bermotif hello kitty kesukaannya.Bisa dibilang,ini belum waktunya Tari bangun tidur di hari minggu.Tari mengucek matanya sesekali.Jika saja,kali ini Tari belum menjadi pacar Dio.Pasti,Tari sudah pergi meninggalkannya dan beralih ke kasur favorit nya.

Dio menepuk pipi Tari pelan.Namun,seenaknya saja ia menepuk sambil mengejek pacarnya itu."Lo dekil," Sontak,muka Tari langsung memerah.Ia beranjak pergi meninggalkan Dio yang masih duduk terdiam di tempat.

"Eh,mau kemana?"

"Tari,"

"Sayang," Panggilan itu,seakan-akan membuat langkah Tari terhenti.Apa yang akan dilakukan Sonya jika ia mengetahui kelakuan Dio dan putrinya saat ini.

"Woy berisik! Gangguin orang tidur aja.Tuh,entar liat aja sebentar lagi lo bakal diusir sama tuan rumah ini!" Ucap Tari kesal.

"Biarin,apaan lo? Wleee." Dio mengejek Tari lagi.Tidak ada bosannya ia mengganggu cewek yang sekarang menjadi kekasih nya.

"Siapa yang mau ngusir Dio?" Sahut seorang wanita paruh baya yang sedang berjalan menuju ruang tamu dengan membawa segelas teh hangat.Ya,itu Sonya.
"Mama malah seneng kalo Dio disini,dia kan anak baik,masa kamu omelin mulu sih princess?" Lanjutnya.

"Tuh dengerin,"

"Diem lo,"

Tak disangka,Dio mengikuti Tari dari belakang.Sebelum itu,Dio memang sudah izin kepada Sonya untuk ikut dengan Tari.Ia berniat untuk mengajak Tari jalan-jalan hari ini.Tari terlihat sedang mengambil handuk dan pakaian nya untuk pergi bersama Dio.Alhasil,Tari tersentak kaget.Wajahnya memerah,seluruh tubunnya gemetar,bahkan matanya pun sampai terbelalak.

"Ataghfirullahhaladzim!!!!!" Jerit Tari sambil mengelus dadanya."Woi! Demi apa lo ngikutin gue kesini Dio?"

"Mau numpang charger handphone," Ucap Dio dengan lagak yang begitu santai.

"Ya kan--ih Dio,disana di itu apa,di ruang tamu itu ada,udah sana pergi ih jijik dikira zina lagi." Tari mendorong tubuh Dio hingga keluar dari kamar.Dio menuruti permintaan Tari.Dio tidak langsung men charge handphone nya.Ia membohongi Tari,karena Dio hanya ingin menggoda pacarnya itu.

Tari segera merapikan rambutnya.Ia menyisir rambutnya ke belakang.Di selinginya japit rambut yang sengaja ia jepitkan di sela-sela tengah rambutnya.Terlihat sangat anggun.Pasti akan menyenangkan hati Dio.Memang,tingkah nya pagi ini seperti wanita yang sedang datang bulan.Padahal,belum saatnya bulan itu datang.

"It's so comfort," Dio bersiul pelan sambil menatap Tari yang sedang berjalan ke arahnya.

Dasar laki-laki penggoda.Batinnya

"Gak cocok ya sama gue?" Ujar Tari melas.

"Cocok kok,bahkan sangat-sangat cocok.Yuk,pergi."

"Pamit dulu,"

Tari berjalan menuju ke belakang.Disana ada Sonya yang sedang meracik bumbu masakan bersama bi Inah.

Dio menekan pedalnya.Jalanan masih terlihat sepi di daerah kompleks Tari pagi itu.Namun,juga ada beberapa ibu rumah tangga yang keluar dan bergosip dengan tukang sayur.Tari tidak suka seperti itu.Sonya pun juga sering menggosip dengan tukang sayur,bahkan hingga panas menerpa,ia tidak akan pulang sebelum topik pembicaraan itu selesai.

END OF SADNESS [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang