"Sedang dalam tahap friendzone"
Gitu aja terus dek,sampai abang jadi jaka tua,kok gemas aku jadinya.
-Arnold Milkagana-
-o0o-
"Sudah papa booking kan tiket pesawat dan papa siapkan Appartement inti untuk kamu," ujar Afran ditengah makan paginya.Dio tertegun saat itu.Ia lupa kalau Dio ada janji dengan papa nya untuk pergi ke Australia malam nanti.Bodohnya Dio,ia ceroboh dengan semua hal.Di sisi lain,ia harus bertanding basket dengan Reynold.
"Pah,Dio nggak bisa." Ujar nya singkat sambil menaruh sendok dan garpu diatas piringnya.Afran langsung menatap tajam ke arahnya.Ia tersenyum kecil dengan ucapan Dio.
"Papa nggak bicara sama kamu.Papa sedang bicara dengan kakak mu,Revan.Papa sudah memilih Revan untuk yang pertama melanjutkan bisnis papa.Setelah kamu lulus Perguruan tinggi nanti,kamu juga akan meneruskannya Dio," Dio bernafas lega setelah mendengar semuanya.Untungnya,keluarga kecil ini berubah menjadi lebih baik.Beruntung nya juga,Afran sudah memaafkan putra sulung nya.
"O-oh begitu ya,syukurlah kalau gitu pah.Dio juga ada urusan penting soalnya," Ujar Dio sambil memamerkan deretan gigi putihnya yang terlihat rapi.
Revan terkikik mendengar ucapan Dio barusan.Tidak biasanya Dio segugup dan mengatakan ada urusan yang sangat penting.Pasti,ini bukan urusan biasa."Urusan apa sih adek ku yang ganteng? Pacar kamu ya?" Ucap Revan sambil menjulurkan lidahnya sedikit.
"Dio udah punya pacar ya diem-diem?" Sahut Afran ditengah lahap nya ia makan.
"Ngarang lo.Eng-nggak pah,nggak punya kok hehe," dusta Dio kepada Afran.Yang kemudian,ia langsung mendelik sebentar kepada Revan.
"Papa nggak ngelarang kamu pacaran.Kenalin dong sama papa tentang pacar kamu itu," ujar Afran lagi-lagi membuat Dio tersipu malu.Bukankah Dio kali ini sedang marahan dengan Tari? Bagaimana mungkin ia dapat mengajak Tari kerumahnya?
"I-iya besok ya pah,"
"Cielah HIYA HIYA HIYA! Dio BUCIN!!" Sahut Revan sambil tertawa terbahak-bahak di sela makannya.Dio hanya duduk terdiam menatap tingkah laku Revan yang tiba-tiba saja berubah 99%.Dulunya yang pendiam,kini malah mengeluarkan kebisingan di rumah ini.Apalagi,setelah membeli drum dan gitar baru.Setiap pagi,sore dan malam tidak ada henti-hentinya konser solo di kamar.Kamarnya pun sudah tidak terbentuk seperti kamar.Namun,malah terlihat seperti studio musik.
-o0o-
Kantin yang selalu ramai.Tari dan kedua temannya datang ketika pertengahan bel istirahat.Sudah dipastikan kursi di kantin penuh saat ini.
"Lo sih Meg,pake acara nganterin Sinyo makanan," ujar Tasya sambil menggerutu.Mereka berdua selalu bertengkar,dimanapun itu.
Tari melihat sekeliling kantin.Terlihat beberapa anak Oscar duduk di bangku paling ujung kantin.Tapi,sepertinya bangku itu masih sisa banyak.Karena banyak anak yang meregangkan kakinya di kursi jadi terlihat penuh.
"Permisi,tempat nya masih sisa nggak?" Ucap Tari basa-basi terlebih dahulu.Vino yang menangkap sosok ibu bos di depannya langsung meluangkan tempat untuk Tari dan teman-temannya."Disini Tar,masih longgar kok," ujar Vino.
"Eh disini aja Tar juga masih lenggang kok," Ujar Arnold yang sambil mengedipkan sebelah matanya.Leonard langsung menyenggol bahunya untuk melanjutkan permainan game online tersebut.
"PUNYA DIO INGET BUJANK!" Ketus Vino sambil membersihkan meja yang sedikit terkena tumpahan-tumpahan kuah mie ayam dan bakso.Perhatian sekali bukan si Vino itu? Walaupun otaknya agak gesrek sedikit,tapi dia masih punya hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
END OF SADNESS [ON GOING]
Fiksi Remaja-HARAP FOLLOW DULU SEBELUM BACA- (Dilarang copast🚫) Mengira bahwa Dio adalah Monster abadi di sekolah,membuat banyak orang menjauh darinya.Namun,sebuah tarikan bermunculan saat pria tersebut tiba-tiba bersikap lembut.Dengan paras yang memukau kaum...
![END OF SADNESS [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/156699456-64-k901008.jpg)