Mungkin,hari kemarin bukanlah hari yang baik.Tapi,bagaimana jika hari esok akan berujung dengan baik? Bukankah itu yang kita inginkan? Atau hanya aku yang mengharapkan?
-DioAlfarizi-
○○○
Jutaan kendaraan dengan asap,membuat siapapun di sekitarnya menghirup udara yang kotor.Tari duduk terdiam di jok belakang.Ini saat yang mereka tunggu bukan? Berkendara bersama angin pagi,di telusuri udara yang semerbak dingin merasuk ke dalam kulit.
Sesekali,Dio mengajak Tari berbicara.Tetapi,helm full face yang di kenakan Dio menghambat mulutnya untuk mengeluarkan suara.Kadang memang membuat seseorang merasa sebal dan bahkan bergidik geli sendiri.
Tiba mereka di toko buku yang sudah mempunyai nama di seluruh Indonesia ini.Gramedia,biasa di sebut Gramed.Toko buku dengan perusahaan publisher terbanyak dan kebanyakan dari mereka adalah penerbit mayor pada umumnya.Tari sengaja mengajak Dio ke toko buku terlebih dahulu.Sebelum mereka pergi ke sekolah untuk melakukan rapat koordinasi Perkusi.
Apalagi,saat itu Dio adalah ketua panitia pelaksana.Tanggungannya sangat banyak.Semua yang dibutuhkan saat hari H,terkadang ia cari sendiri sampai dapat.Rekan kerja yang lain,bahkan enggan peduli untuk membantunya.Nasib.
Mereka berdua naik ke lantai 1.Mencari novel fiksi yang baru saja keluar dan akan menjadi best seller bulan ini.Tari kebingungan memilih novel yang akan ia beli.Sedangkan Dio malah asik melihat-lihat gitar dan alat musik di ruang paling ujung.
Beberapa kali ia membaca sinopsis cerita.Tapi,tidak ada yang menarik baginya.Cerita nya itu-itu saja,alurnya juga tidak jauh beda,bahkan tema nya sama.Tari menyerah.Ia tidak pandai memilih barang jika ia sendirian saat memilih.Tari langsung menghampiri Dio.Di tepuknya pundak lelaki itu."Eh,ada apa sayang?"
"Sayang-sayang! Bantuin gue cari buku!" Ujar Tari dengan wajah yang menggerutu.
"Iya,tapi ini bagus nggak?" Dio menunjuk salah satu gitar di hadapannya.Gitar yang terlihat sedikit unik.Ada ukiran-ukiran yang tertempel di bagian body nya.Bisa dikatakan seperti gitar antik.
Tari mengangguk dan tersenyum miris,"Bagus,kok lo jadi pingin beli gitar?"
"Ya nggak beli sih,cuma kagum aja gitu.Bagus banget soalnya,aesthetic banget Tar," Sahutnya berlebihan,"Apalagi,kalo gue main gitar ini plus nyanyiin lagu kesukaan lo waktu api unggun Perkusi besok,"
"Wuu,apaan sih? Suara lo terlalu merdu mas,"
"Iya makannya terlalu merdu,sampe lo nggak tahan dengerinnya.Jujur aja lo nangis kalo denger suara gue iya kan iya kan?"
"Merdu itu merusak dunia ya,jadi jangan nge-fly dulu mas Dio,hahaha."
Tari berlari meninggalkan Dio sambil tertawa kelewatan.Beberapa karyawan toko melihat tingkah mereka berdua.Ada yang juga ikut tertawa,ada yang diam saja,geleng-geleng tidak percaya,bahkan ada yang ngomel sendiri.Dio berjalan menyusul Tari.Di cubitnya pipi sebelah kanan."Ih,apaan sih lo?"
"Marah mulu,tadi gue suruh ngapain?"
"Ini,bagus yang mana?"
"Bagus kamu,"
"Ih gila lo,tanya apa jawabnya apa?"
Dio serba salah.Memang benar sepertinya bahwa nasib cowok akan seperti itu."Setengah jam lagi,gue rapat.Kalo lo nggak cepet,gue tinggal."
"Bodo amat,tinggal aja sono."
Tari kembali fokus memilih.Dio mengacak rambutnya yang sedikit pirang,sambil mengerutkan dahinya.Ia langsung menarik tangan Tari keluar dari pusat toko.Cewek kalo digituin udah deh,dijamin bakalan BADMOOD.Frekuensi panas nya bakalan naik tingkat dewa.
"Kenapa lo tarik-tarik gue? Nggak jadi beliin gue novel?"
"Nggak,"
"Loh,kenapa? Aku salah ya tadi? Hmm?" Ujar Tari yang terlihat sangat manis.Ya,supaya Dio nggak marah beneran sama Tari.Itu lah strategi Tari,mengatakan hal manis ketika hati seseorang sedang ter iris.
Dio menggelengkan kepala nya,ia langsung memberi kode kepada Tari untuk segera naik ke atas motor.Tari naik dengan terpaksa.Wajahnya cemberut,bibirnya menggerutu,bahkan manik matanya sangat sadis.
Laju motor Dio berubah menjadi pelan saat memasuki sebuah pagar besi besar Kartika Abadi.Sekolah yang terlihat sepi,hanya ada beberapa murid yang diantaranya termasuk ke dalam anggota OSTIKA.
Mereka berjalan menyusuri koridor kelas 12.Koridor yang terlihat lebih menyeramkan,dari biasanya.Kini,hanya ada kesunyian yang terpampang nyata saat ini.Tiba di depan ruang OSIS,terlihat sudah lumayan banyak siswa-siswi yang berkumpul di dalam nya."Sampai jam berapa nanti?"
"2 jam-an paling,"
"Kalo gitu,gue pulang dulu aja,daripada nungguin lo di lorong sendirian?"
"Tapi,gue nggak bisa nganter."
"Nggak papa,biar gue naik ojek online aja."
"Yaudah,hati-hati ya." Tari tersenyum mendengar kata-kata manis dari Dio.Hati nya sangat berbunga ketika ia sedang bersama pangerannya itu.Tak jarang,Tari selalu membayangkan betapa bahagianya dia saat hari-harinya dipenuhi oleh kehadiran Dio.Ah,semoga semua angan nya bisa terkabul,amin."Sun jangan?"
"Jangan dulu,besok aja kalo udah ke KUA."
"Kelamaan,"
"Yaudah,di tahan dulu aja.Bentar lagi juga lulus kok,"
"Masih lama,"
"Yaudah,gue pulang dulu,dahh."
○○○
Hai,terimakasih udah baca sekaligus masih nungguin End Of Sadness update part baru.Maaf ya,aku kelamaan update soalnya banyak acara akhir ini.
Btw,yang lagi PHT semangat ya.Belajar terus,sabar ngadepin soal-soal kayak kalian ngadepin sikap doi yang lebih sulit dari PHT,huhuu :(
Thanks❤
KAMU SEDANG MEMBACA
END OF SADNESS [ON GOING]
Teen Fiction-HARAP FOLLOW DULU SEBELUM BACA- (Dilarang copast🚫) Mengira bahwa Dio adalah Monster abadi di sekolah,membuat banyak orang menjauh darinya.Namun,sebuah tarikan bermunculan saat pria tersebut tiba-tiba bersikap lembut.Dengan paras yang memukau kaum...
![END OF SADNESS [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/156699456-64-k901008.jpg)