42.PERTEMUAN TERAKHIR

389 13 0
                                        

42.PERTEMUAN TERAKHIR

__________________
________

Kondisi Tasya masih belum pulih.Kata dokter barusan,Tasya shock dengan kejadian yang menimpanya.Ia masih butuh istirahat total.

Vino dan kawan-kawan pun masih setia menunggu Tasya di depan ruangan.Sesekali mereka bergantian jaga di dalam.Mama dan papa Tasya juga menemani Tasya di dalam.Andai kalian tahu,mereka murka dengan Tari.Mereka mengira kalau Tari lah penyebab Tasya seperti ini.

"KENAPA KAMU MASIH DISINI?! KELUAR KAMU SEKARANG GADIS BIADAB!" Terka Aini,mama Tasya.Ia benar-benar marah ketika mendengar bahwa Tasya seperti ini karena ulah Tari.Itu semua Tari juga yang mengatakan.

"Tante tenang,ini semua bukan salah Tari.Malah Tari yang menyelamatkan Tasya Tante," ujar Vino.

"Iya tante,maafin Tari.Itu semua bukan salah Tari,percaya sama kami tante.Tante Aini pasti kenal dekat kan dengan Tari,kalau Tasya itu sahabat terdekat Tari? Percaya tante,Tari enggak ngelakuin semua itu." Ujar Dio menenangkan Aini yang masih terpatung menatap Tasya.

"Pokoknya,suruh Tari keluar dari sini.Pergi Tari,jangan sampai saya menyuruh satpam untuk mengusir kamu," ujar Aini.

Tari menundukan kepala nya.Sebuah cairan kristal sudah mengalir menyeluruh pada pipi mungil Tari."Tapi tante.."

"KELUAR TARI!"

Dio menggandeng tangan Tari keluar dari ruang inap Tasya.Mereka berjalan menuju keluar rumah sakit itu.Sonya juga menelpon beberapa kali untuk mengetahui kabar Tasya.Tari menyuruh Sonya agar ia tenang saja,semua pasti baik-baik saja.

"Mau makan?" Ujar Dio.Sudah malam hari,tapi perut Tari belum terisi apapun sedari tadi.Dio tahu kalau Tari sekarang ini hanya memikirkan kondisi Tasya yang terbaring lemah.Tapi,kondisi Tari juga penting.Ia tidak mau melihat Tari jatuh sakit juga.

Tari menggeleng pelan,lalu Dio mengehentikan langkah nya.Menarik bahu gadis itu agar berdiri tegap di depannya."Kenapa sih? Masih mikirin Tasya? Dia pasti baik-baik aja Tari.Lo enggak boleh kayak gini,bukan Tasya aja ntar yang sakit.Lo juga!" Tegas Dio.

"Tapi Tasya kasihan!"

"Tasya kasihan bukan berarti lo juga lemah kayak gini Tari.Ayo makan,ntar gue suapin!" Ujar Dio.

Mereka tiba di sebuah food court atau biasa disebut warung Pujasera yang berjejer menampilkan banyak sekali menu makanan.Mereka memasuki kedai mie ayam,favorite Dio.

"Mbak,mie ayam 2 ya pakai pangsit,minuk nya es teh aja satu." Ujar Dio kepada salah satu pelayan.

"Kok satu aja? Lo enggak?" Tanya Tari,Dio malah tertawa.

"Satu untuk berdua awokwok," ujar Dio sambil terkekeh.Tari pun juga ikut tertawa mendengar ucapan Dio.Bahkan tidak di sangka,si ibu penjual mie ayam itu juga ikut terkekeh melihat mereka berdua.

Ibu penjual itu datang dengan membawa dua mangkok mie ayam dan meletakannya di meja."Udah lama banget lho mas ini enggak beli mie ayam di ibu.Ibu kira mas nya udah pindah dari sini." Ujar ibu itu.

"Enggak bu,saya sedang sibuk aja kemarin hehe." Ujar Dio.

"Sibuk nopo to le,wong yo durung kerja to?" Ujar ibu penjual itu.[Sibuk apa to nak,orang belum kerja kan?]

"Sibuk pacaran mas nya bu," ujar Tari.

"Pacaran sama mbak nya to? Dulu kan mas nya ini sering kesini sama laki-laki,nggak pernah sama perempuan."

"Laki-laki?" Gumam Tari penuh tanya.

"Kak Revan itu,enggak usah jealous dong zeyeng," ucap Dio menggoda Tari.Mereka bertiga tertawa.Ibu penjual itu pun menggelengkan kepalanya.

END OF SADNESS [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang