Selebihnya,gue serahin semua buat lo.Terserah lo aja,gimana cara untuk menjaganya.Yang terpenting,gue masih disini,untuk mencintai.
-DioAlfarizi-
○○○
Dio terbangun dari tidurnya.Dibuka nya tirai jendela yang langsung terbuyar cahaya terang masuk ke dalam ruangan.Afran berdiri di samping tempat tidur.Dengan tangan yang sedekap,ia menatap tajam putranya itu.Sepagi ini,Afran sudah terlihat sangat rapi.Dikenakannya kemeja berwarna hitam dengan celana jeans yang serupa.Umurnya sudah berkepala empat,tetapi gaya modis penampilannya membuat Afran terlihat 10 tahun lebih muda.
"Pah," Dio bangkit dari tidur.Namun,ia masih terlihat ngantuk.Sesekali ia mengucek matanya yang memerah.Disusul oleh Afran yang duduk di samping Dio.
"Lain kali,kalo bangun itu pagi.Ingat,kau ini penerus keluarga Wijaya.Kau harus menjadi kebanggaan keluarga ini.Ingat,dulu perjuangan kakek mu yang berusaha dengan susah payah mendirikan perusahaannya.Kau harus menjadi pribadi yang baik,Dio Wijaya." Bukan disebut Dio Alfarizi,malah Dio Wijaya.Nama itu,memang digunakan untuk penerus Wijaya Sutanto.Kakek Dio,yang kini sedang sakit parah di Rumah sakit Singapura.
"Dio paham pah.Tetapi,bukannya Dio bermaksud untuk menolak.Dio masih sekolah,Dio ingin fokus dengan pendidikan Dio dulu.Besok pagi,Dio pulang ke Indonesia."
"Kenapa secepat itu? Om Tio sudah berencana akan membuat kontrak sama kamu." Tegas Afran.
"Nggak pah,Dio nggak mau." Dio langsung beranjak menuju toilet.Meninggalkan Afran yang masih duduk di kasur.
Setelah merapikan rambutnya,Dio langsung keluar dari Apartement dan menuju ke sebuah cafe di tengah kota Melbourne.Disana,terdapat berbagai lukisan yang bercorak desain Eropa.Dio,begitu menyukai berbagai jenis karya asli yang begitu menggiurkan tangan untuk meraihnya.Bahkan,ia rela mengeluarkan banyak uangnya hanya untuk membeli lukisan itu.
Dio merogoh kantongnya.Meraih ponselnya yang kini ia letakkan di meja.Seorang pelayan datang dengan membawa selembar kertas dan bolpoint."What do you want to choose sir?"
"Oh,i just want a cup of toracoffe and carbonarry pasta,can i get it?"
"Right,wait for a minutes sir." Ucap pelayan wanita itu,sebelum meninggalkan pembelinya.
Nampaknya Dio merasa kesepian tidak ada Tari di sampingnya.Dio pun langsung mengambil ponselnya dan menuliskan pesan untuk Tari.
Pacar
Gutten morgen!
Pesannya terkirim beberapa saat.Dio menunggu agak lama sampai pesanan Dio sampai di hadapannya.Seruputan kopi hangat menemani setiap detik rasa sepinya.
Morgen Dio!
Jangan Dio dong -_-
Terus apa?
Sayang,hehehe
Lo ngebet banget sih dipanggil sayang?
Ya masa pacaran tapi nggak sayang-sayangan.Kan percuma kita pacaran.
Apa pacaran diharuskan untuk memanggil sayang? Oh,Tari sekarang tahu tuan Dio.Anda pacaran dengan nona Tari hanya untuk status anda saja kan? Ha?
Enggak nona cantik,Dio beneran sayang sama Tari.Dio kangen :(
Kalo kangen,kenapa harus pergi ke Australi?
KAMU SEDANG MEMBACA
END OF SADNESS [ON GOING]
Teen Fiction-HARAP FOLLOW DULU SEBELUM BACA- (Dilarang copast🚫) Mengira bahwa Dio adalah Monster abadi di sekolah,membuat banyak orang menjauh darinya.Namun,sebuah tarikan bermunculan saat pria tersebut tiba-tiba bersikap lembut.Dengan paras yang memukau kaum...
![END OF SADNESS [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/156699456-64-k901008.jpg)