30.PERGI

454 9 0
                                        

Dio terbangun dari lelap nya tidur di sofa.Ia sengaja pulang larut malam bersama Revan untuk menghabiskan waktunya di club malam.Mereka tidak berbuat nekat disana,cuma hanya minum sedikit saja,sudah membuat kepala nya serasa berputar.

Revan membuka tirai jendela berwarna putih keemasan.Membuat cahaya matahari merambat masuk ke dalam ruangan berukuran sangat besar itu.

"Yuk makan,udah disiapin tuh sama bu Atik," ujar Revan yang sedang berdiri dengan membawa selembar kertas berwarna hitam di tangannya.

"Ya," ujar Dio singkat.Mereka berdua berjalan menuju ruang makan.Disana ada Afran yang sedang mengaduk teh panasnya dan bu Atik yang sedang mencuci piring kotor di wastafel.

Afran menoleh ke arah mereka.Kini,posisi duduk mereka terpisah.Dio dan Revan memilih duduk menjauh dari Afran."Kenapa kalian menjauh dari saya? Cepat duduk di depan saya," ucap Afran sedikit menegas.

"Pah,Dio nggak mau berdebat dulu.Ini masih pagi,nggak bisa apa ngehargai perasaan orang?" Ucapan itu membuat Afran menepuk keras meja makan.Ketiga nya berdiri.Dan sekarang pun,posisi mereka berhadapan.

Plakk!

"Anak durhaka kamu!" Tegas Afran membuat Dio merintih sedikit kesakitan.Tidak biasa Afran menamparnya seperti ini.

Revan menenangkan Dio dan berusaha menghalau keduanya agar tidak semakin ribut.Bu Atik pun juga ikut menghalau keduanya."Sudah pah,cukup semuanya.Kalau memang Revan bukan anak kandung papa dan pembuat onar di rumah ini.Revan pergi pah,"

"Kak Revan! Lo pergi gue juga pergi dari sini.Gue nggak betah tinggal di rumah ini." Sahut Dio sambil menepuk pundak Revan.

Tapi,Afran mengelak Dio untuk pergi dari rumah ini.Dia berpikir,kalau Dio pergi siapa lagi yang akan menjadi penerus perusahaan nya?

"Dio,cuma Revan yang boleh angkat kaki dari rumah ini!"

"NGGAK PAH!" Dio tetap mengelak Afran.Ia tidak ingin jika Revan tinggal sendirian apalagi tanpa orang tua dan saudara.Akan seperti apa masa depan Revan nanti? Pikirnya.

"Gue pergi,permisi." Revan melangkah menuju kamar nya dan mengemas pakaian nya ke dalam koper hitam besar miliknya.

"Kak,please gue mohon jangan pergi dari sini.Lo mau tinggal dimana nanti? Lo mau makan apa? Kita udah nggak punya keluarga yang bisa kita percaya di luar sana.Semua itu pengkhianat!"

"Dio,gue juga nggak tahu mau tinggal dimana nanti.Tapi,ini semua demi hubungan keluarga lo sama papa.Lo nggak boleh ikut gue pergi,karena lo adalah penerus bisnis papa kedepannya." Ujar Revan sambil merangkul Dio.

Dio menggelengkan kepalanya,"Cuma karena bisnis papa benci sama lo kak! Gue nggak terima itu.Cuma bu Atik sama lo doang yang sayang ke gue,"

"Papa juga sayang sama lo Dio,"

"Itu dulu kak,sekarang nggak akan."

Seseorang lalu datang mengetuk pintu.Kemudian,mereka berdua mempersilahkan nya masuk.Bu Atik masuk dengan raut wajah yang sedih.Karena,keluarga yang dulunya sangat bahagia,kini sudah terpecah belah semuanya.

"Den Revan,jangan pergi den.Coba den Dio bujuk tuan Afran lagi supaya bisa memaafkan den Revan.Bibi yakin,kalau den Dio bisa membujuk tuan Afran," ujar bu Atik dengan penuh kasih sayang.

"Tapi bi--"

"Jangan pesimis den,bibi yakin kalau den Dio bisa membujuk tuan," ujar bu Atik meyakinkan Dio.

Dio seraya menganggukkan kepalanya.Sekarang,ia pergi menuju ruang kantor pribadi milik Afran."Pah,"

"Ada apa lagi? Nggak ada bosan-bosannya kamu buat papa malu di hadapan orang rumah,hah?"

END OF SADNESS [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang