39.KELINCI DI AIR
Panas nya sang surya menusuk hingga ke tulang.Menyisik kulit yang putih menjadi kusam.Hingga beberapa orang yang lalu lalang menyusuri trotoar di kota menghempaskan keringat yang menyusur di tubuh mereka.
Tari berjalan mengikuti arahan jalan yang mengarah ke sebuah toko buku di dekat pusat kota.Gramedia tepatnya.Ia memasuki gedung berlantai 2 itu dengan terburu-buru.Menyusuri beberapa bilik rak buku bertuliskan genre "NOVEL REMAJA".Itulah yang ia cari saat ini,ya seperti biasanya,itu hanya untuk mengisi kesepian nya saat ini dan menambah wawasan menulisnya.
3 buah novel sudah ia pegang di kedua tangannya.Sesekali,ia menatap novel tersebut dan membaca sinopsis nya berulang-ulang.Seperti yang lain,ia juga bingung hendak memilih mana.
Kemudian,dengan niat yang cukup ia meletakkan 2 novel lainnya kembali ke atas rak.Dan berlanjut membayar novel yang ia pilih ke kasir.Selepasnya,ia langsung beranjak meninggalkan toko tersebut dan kembali berjalan menuju halte bus.
Cukup lama Tari menunggu di dalam halte.Ia langsung mengambil ponsel yang ia letakkan di dalam sling bag nya.Beberapa pesan dan panggilan masuk dari Dio beberapa menit lalu.
Lo dimana?
Rumah lo kosong,kemana semua?
Tari,kemana sih? Gue jemput ya,shareloc babe❤
Tari langsung mengetikkan sesuatu di ponselnya.Ia memberi tahu kalau ia sdang berada di halte Jalan Pandanaran.Halte itu sekarang dipenuhi banyak orang.Bahkan,ada bapak-bapak paruhbaya yang sekarang mendesak ke sebelah Tari.
Bapak itu mulai kelewatan.Di rangkulnya pundak Tari dari belakang.Ia geram,dan berusaha menghindari bapak itu.Tari keluar dari halte dan berharap Dio akan segera datang.
Tak lain,bapak itu terus mengikuti Tari.Ia berusaha mencegah Tari menghindar.Tari berteriak meminta pertolongan kepada orang-orang disekitar.Akhirnya,seorang ibu-ibu berseragam pegawai dan beberapa orang laki-laki datang menghampiri keributan itu.Tari melihat bapak penggoda itu babak belur dihajar orang-orang.
Hingga akhirnya,seseorang datang.Orang yang ditunggu Tari sejak tadi.Dio memarkirkan motor besar nya di pinggir jalan.Tari mendaratkan tubuhnya ke dalam pelukan Dio.Ia takut,hal yang baruaan terjadi akan terulang lagi.
"Lo kenapa?" Tanya Dio memastikan,"Emm kamu kenapa Tari?"
"Anter aku pulang aja," pinta Tari kepada Dio.Ia menggandeng tangan Tari lalu merangkulnya dari belakang,menuntun nya hingga sampai ke motor Dio.
-o0o-
Tari memicingkan matanya.Melihat jalan di sekitar yang mereka lewati bersama.Tentu,ini bukan jalan menuju rumahnya.Dio berbohong.Lagi.
Tari menjitak kepala Dio yang tertutup helm.Dio kaget dan menatap Tari dari kaca spion lalu merendahkan laju motornya.Memakai helm full face seperti pengendara motor sport itu memang menyusahkan seseorang untuk berbicara saat berkendara.Karena,mulutnya tertutup oleh bagian helm bawah.Kecuali jika dengan model lain.
"INI KAN BUKAN JALAN KE RUMAH KU, MAS DIO?!" Ujar Tari agak keras karena bising nya jalanan karena kendaraan yang lalu lalang.
Dio hanya diam dan tetap menatap lurus jalanan yang kian ramai.Ia belok arah menuju arah Jalan Diponegoro.Melewati jalan masuk Universitas Diponegoro yang terlihat sangat megah.
Sudah 20 menit berlalu.Dio masih saja belum menghentikan motornya di suatu tempat.Malah kini,mereka sudah melewati perbatasan antara kota Semarang dan Kota Ungaran.Udara siang ini sangat panas.Make up yang dibalut pada muka Tari pun terlihat sedikit luntur.Jika mereka ke mall,sudah tentu harus memoles wajah nya lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
END OF SADNESS [ON GOING]
Novela Juvenil-HARAP FOLLOW DULU SEBELUM BACA- (Dilarang copast🚫) Mengira bahwa Dio adalah Monster abadi di sekolah,membuat banyak orang menjauh darinya.Namun,sebuah tarikan bermunculan saat pria tersebut tiba-tiba bersikap lembut.Dengan paras yang memukau kaum...
![END OF SADNESS [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/156699456-64-k901008.jpg)