Chapter 24

24.2K 937 30
                                        

Setelah Anggun keluar, Afgan segera memanggil sekertarisnya untuk datang ke ruangannya. Dia tidak mau jika ada orang lain masuk ke dalam ruangannya tanpa seizinnya walau itu keluarganya atau pun sahabatnya.

"Cepat kamu ke sini" ucap Afgan pada sekretarisnya.

Saat menutup telponnya, tak berapa lama pintu Ruangannya di ketuk.

Tok... Tok... Tok...

"Masuk" teriak Afgan dari dalam, pintupun akhirnya terbuka sekertaris Afgan pun masuk dengan wajah menunduk takut jika dia melakukan kesalahan.

"Maaf pak, ada apa bapak memanggil saya" tanya sekertaris yang bernama Elis.

"Saya tugaskan kamu, jangan pernah pernah mengizinkan siapa pun masuk ke ruangan saya tanpa seizin saya. Termasuk wanita yang bernama Anggun, kamu mengerti" ucap Afgan dengan nada tegasnya.

"Baik pak saya mengerti" jawab Elis sambil menunduk.

"Ya sudah kamu bisa kembali, siapkan berkasnya kita akan mengadakan pertemuan setelah ini" ucap Afgan.

Akhirnya Elis pun keluar dari ruangan Afgan untuk segera mengambil berkas yang akan di berikan kepada Afgan, Afgan memijit keningnya karena tiba-tiba kepalanya berdenyut.

Entah kenapa, memimpin perusahaan sang papa lebih berat dari pada memimpin perusahaan sendiri. Rasanya dia ingin liburan untuk menenangkan otaknya karena memikirkan orang yang masih berada di dalam hatinya.

"Cha aku ingin ketemu kamu"batin Afgan.

Akhirnya siang itu Afgan dan sekretarisnya mengadakan pertemuan di ruangan yang biasanya untuk di buat Meeting, ternyata pertemuan kali ini membahas soal proyek yang sedang di kerjakan di kota Semarang. Karena masih tahap awal maka Afgan menyuruh orang untuk pergi ke Semarang untuk melihat Proyek yang sedang di kerjakan.

"Baiklah,saya akan setuju jika proyek yang anda bangun bisa membantu orang-orang yang benar-benar membutuhkan sebuah pekerjaan " ucap Afgan kepada orang yang menemuinya.

"Terima kasih pak Afgan, terima kasih anda sudah mau membantu untuk proyek yang sedang kami bangun" ucap laki-laki yang bernama Hardi.

Afgan hanya mengangguk, dia segera mengambil sebuah berkas untuk di tanda tangani. Dan setelah semuanya di urus, akhirnya pertemuan dua perusahaan pun selesai. Dan siang itu Afgan ingin segera pulang, karena semuanya sudah beres.

Kali ini dia tidak akan lembur lagi, karena dia bukan Direktur Utama perusahaan tersebut jadi dirinya bisa pulang lebih awal.

"Elis, saya akan pulang jika ada berkas atau lainnya kirim lewat email saja atau taruh di meja kamu" ucap Afgan sambil merapikan jasnya.

"Baik pak saya mengerti"ucap Elis.

Afgan pun keluar dari ruangan tersebut dan di ikuti oleh Elis di belakangnya, jika Elis kembali ke ruangannya maka Afgan berjalan menuju lift untuk pulang.

Walau banyak mata yang menganggumi ketampanan Afgan tapi Afgan berjalan memperlihatkan wajah dinginya.
Dan akhirnya Afgan meninggalkan kantornya dengan mobil BMWnya yang mewah.

***

Setelah makan siang, Rossa dan Arum membersihkan piring dan beberapa gelas kotor. Rossa selalu membantu Arun walau kadang Arum melarangnya karena Rio selalu rewela, tapi kali ini Rio tidak rewel padanya karena ada Arsen sang kakak.

"Cha apa kamu sudah bersiap-siap Barang yang kamu bawa untuk besok " tanya Arum saat mencuci piring.

"Belum sebagian bunda, karena Rio selalu rewel jadi belum semuanya ocha masukin ke koper " jawab Rossa sambil membantu membilas piring yang sudah di cuci.

MY BABY BOY (SLOW UPDATE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang