Puncak

2.1K 78 0
                                        

Jangan pernah tanyakan apa alasanku memilihmu, karena jawabanku akan tetap sama, yaitu karena kamu adalah dirimu.

-Alerik-

Hari berganti minggu dan minggu telah berganti bulan. Sudah 3 bulan Erik dan Lea menjadi sepasang kekasih, dan selama itu tak jarang ada perdebatan kecil diantara mereka. Contohnya sekarang, saat ini mereka sedang berdebat dimana mereka akan berlibur bersama para sahabatnya.

"Gimana kalau kita ke pantai aja?" Usul Lea semangat. "Bosen ke pantai terus. Yang lain, mending kita ndaki aja, itu lebih seru." Balas Erik.

Merasa usulnya ditentang oleh Erik, Lea pun marah. "Gak, nanti capek kalau ndaki. Liburnya juga cuma 3 hari doang." Protes gadis itu. "Lah kalok ke pantai juga mau ngapain. Cuma liat air. Dirumah aku banyak air tuh." Kata Erik.

Para sahabat mereka yang melihat pasangan itu debat hanya menghembuskan nafas berat. Karena pemandangan itu sudah biasa menurutnya, paling bentar lagi juga baikan. Pikir mereka.

"Diem kalian. Ribut aja. Mending kita ke Villa punya keluarga gue aja yang ada di puncak." Lerai Aldo sambil memberikan usul. Erik dan Lea yang sedari tadi debat pun langsung bertatapan, "Kenapa gak ngomong dari tadi." Ucap mereka barengan. "Kan kalok gitu, gue tadi gausah debat sama Lea. Iya kan sayang." Jawab Erik sambil meminta persetujuan dari Lea. Gadis itu pun hanya mengangguk lalu menyenderkan kepalanya didada bidang milik Erik. Itu merupakan tempat ternyaman menurut Lea, apalagi ditambah dengan usapan lembut dari Erik di kepalanya.

Mendengar jawaban dari pasangan itu membuat Aldo memutar bola matanya, "Yaudah. Jadi ini kita fiks ke Villa gue kan?" Tanya Aldo memastikan dan diangguki oleh semuanya.

Setelah itu mereka menyusun apa yang akan dibawa dan jadwal keberangkatan. Akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat Jumat pagi berkumpul di rumah Aldo dan pulang Minggu pagi. Setelah itu mereka masuk ke kelas masing masing.

***

Hari ini mereka akan berangkat ke villa milik keluarga Aldo. Mereka kesana menggunakan 2 mobil, yaitu mobil milik Erik dan milik Ryan. Erik memakai mobil sport, katanya biar bisa berduaan dengan Lea dan perkataan itu membuat para sahabatnya serasa ingin muntah. Setelah semua berkumpul mereka pun langsung berangkat dengan mobil Ryan yang berada di depan.

Sedangkan Erik bersama Lea mengikutinya dibelakang. Didalam mobil Ryan ada Ryan yang sebagian sopir, Rain yang duduk disampingnya dan Dimas, Nata, Aldo yang duduk dikursi penumpang. Ryan memang sengaja membawa mobil keluarga agar semuanya bisa satu mobil, eh ternyata si curut Erik punya rencana sendiri.

Dimobil Erik dan Lea selalu bercanda, hampir tak ada keheningan diantara mereka. "Le, kalok kamu ngantuk mendingan tidur aja. Nanti kalau udah sampe aku bangunin." Kata Erik lembut sambil mengusap kepala Lea. Lea sebenarnya sudah mengantuk dari tadi, karena semalam ia begadang menonton oppa oppa Korea di laptopnya dan Lea baru tidur puku 2 pagi. Gadis itu jika sudah disuguhi dengan drama Korea pasti akan lupa dengan segalanya.

Akhirnya Lea pun menuruti usulan Erik tidur. Melihat gadisnya terlelap Erik hanya tersenyum lalu kembali fokus terhadap jalan yang ada didepan.

Setelah menempuh waktu yang cukup lama akhirnya mereka sampai di Villa milik Keluarga Aldo. Merasa mobilnya telah berhenti Lea pun perlahan membuka matanya. "Udah sampe ya,  Rik." Tanya Lea dengan suara khas orang bangun tidur. Erik pun melepaskan sabuk pengamannya, "Iya udah sampe.  Yuk turun biar aku yang bawain tas kamu." Ajak Erik lembut, Lea pun menurutinya.

"Gimana enak berduaan dimobilnya?" Sindir Ryan saat melihat Lea menempel terus dengan Erik. "Brisik." Ketus Lea karena ia masih sangat mengantuk. Melihat kekasihnya masih mengantuk akhirnya Erik berjalan duluan ke dalam Villa. "Malem mang." Sapa Erik kepada mang Ujang, penjaga villa milik keluarga Aldo. "Eh den Erik. Lama nggak kesini. Bagaimana kabarnya? Tanya mang ujang. Erik pun menjawab seadanya.

Jangan heran mengapa Erik bisa akrab dengan mang Ujang, itu karena dulu Erik pernah kesini bersama Aldo dan disaat itu ia kenal dengan mang Ujang.

Setelah masuk akhirnya Erik mendudukkan dirinya sofa panjang ruang tamu begitu pun dengan Lea. Melihat sahabatnya sangat merasa lelah, akhirnya Aldo membagi kamarnya.

"Cewek cewek jadi satu kamar ya. Kamarnya dilantai dua." Jelas aldo sambil memberikan kuncinya dan diterima oleh Rain. "Yang cowok juga satu kamar aja. Tapi dilantai satu. Sekalian buat jagain yang cewek." Perintah Aldo.

"Hah berempat? Ntar umpek umpekan dong. Ih gamau." Protes Ryan. Mendengar itu, Aldo menatapnya sebal. "Gak sempit kamarnya Yan, ada dua kasur yang cukup buat berempat." Jelas Aldo mencoba Sabar menghadapi temannya yang idiot itu. Ryan pun tersenyum dan mengangguk setelah mendengar penjelasan dari Aldo.

Setelah pembagian kamar selesai akhirnya mereka bergegas membawa barangnya. "Aku bawain tas kamu ya. Kan kamu masih ngantuk." Tawar Erik sambil mencoba mengambil tas yang dipegang Lea.

"Eh gausah. Kan kamu juga baru capek. Mending sekarang kamu masuk kamar dan istirahat aja. Gaada penolakan." Tolak Lea dan tidak dapat diganggu gugat. Mendengar itu Erik pun hanya menurut saja.

"Yaudah aku masuk ke kamar ya. Kamu juga langsung masuk dan langsung tidur. Jangan begadang. Selamat malam tuan Putri." Ucap Erik sambil mengecup puncak kepala Lea. Gadis itu pun hanya mengangguk dan langsung menyusul sahabatnya yang telah berjalan duluan. Setelah memastikan Lea telah masuk ke kamar, Erik pun juga segera masuk dan membersihkan diri. Jujur ia benar benar capek hari ini.

Paginya mereka memutuskan untuk pergi ke kebuh teh. "Nata, Lea ayo cepetan dong kan kita mau ke kebun teh." Teriak Rain dengan sangat keras dari luar kamar. "Iya bentar." Jawab nata dan Lea dari kamar tak kalah keras.

Tak lama setelah itu mereka turun kebawah untuk sarapan bersama. "Selamat pagi. Gimana tidurnya? Nyenyak kan?" Sapa Erik. Lea pun mengangguk, "Nyenyak kok."

"Yaudah sekarang kita sarapan ya, setelah itu ke kebun teh." Kata Erik sambil menggenggam tangan Lea untuk ke ruang makan bersama. Sampai disana Erik mempersilahkan Lea duduk, lalu ia duduk disampingnya. "Udah kayak pengantin baru aja." Kata Nata sambil memakan nasi gorengnya. Erik yang mendengar itupun meng aminkan perkataan Nata.

Selesai sarapan mereka langsung pergi ke kebun teh. Mereka memutuskan untuk berjalan kaki saja. Selain karena dekat katanya buat olahraga sekalian. Sampai disana mereka disuguhkan dengan pandangan yang sangat indah. Hamparan daun daun hijau yang segar dan udara yang sangat sejuk. Bahkan saat ini mereka sedang sibuk ber-selfie ria.

"Foto sama aku yuk." Mendengar suara dari belakang membuat Lea yang sedang fokus membidik sebuah gambar menjadi kaget. Setelah menengok kebelakang ia tau siapa penyebabnya. "Ih Erik ngagetin aja sih." Sebal Lea sambil memukul bahu Erik.

"Hehe maaf, yuk foto." Ajak Erik sekali lagi dan lea menganggukan kepalanya. Setelah itu Erik memanggil Nata yang sedang berada didekat mereka untuk meminta tolong buat mengambil foto dirinya dan Lea.

Lalu mereka pun berfoto dengan banyak gaya. Foto pertama Erik merangkul Lea dan mereka tersenyum sangat lebar seperti tak ada beban apa pun.

Foto kedua dengan Lea yang menggembungkan pipi tembemnya sambil melirik Erik. Dan foto yang ketiga mereka berfoto dengan saling menatap dengan jarak yang cukup dekat. Foto terakhir Erik mencium kening Lea , dan gadis itu memejamkan matanya sambil tangan mereka berpegangan. Nata yang melihat gaya foto mereka pun menjadi iri.

Setelah selesai, ia langsung mengembalikan kamera milik Erik. "Makasih ya Nat." Ucap Erik sambil tersenyum manis dan hanya dijawab dengan anggukan Nata. Setelah itu ia pamit pergi menuju yang lainnya.

"Ih fotonya lucu banget. Aku cantik banget itu." Kata Lea memuji dirinya sendiri saat melihat hasil jepretan dari nata. Erik yang mendengar perkataan tersenyum, "Kan kamu emang cantik dari dulu." Jawab Erik dan membuat Lea salting.

"Jangan jangan kamu nembak aku karna aku cantik ya." Tuduh Lea dengan ketus untuk menutupi salah tingkahnya. Mendengar tuduhan dari kekasihnya membuat Erik mendengus

"Cantik itu cuma bonus, aku jadiin kamu pacar karena alasan yang dulu pernah aku kasih tau sama kamu. Yaitu karena kamu itu Alea Renata gadis judes yang membuat hati aku luluh dengan sikap judes kamu itu." Jelas Erik sambil mencubit pipi tembem Lea. Mendengar jawaban Erik lagi lagi membuat jantung Lea berdetak lebih cepat, pada bukan pertama kalinya Erik menggoda dirinya dengan gombalan receh miliknya.

ALERIK ( COMPLETED )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang