22. LMLY (Cerita Erina)

83.1K 4.9K 183
                                    

Sehabis menjenguk Zahra Faizha keluar dari rumah sakit. Sekarang satu tujuan Faizha. Mendatangi seseorang yang mungkin bisa memberikan jawaban dari segala pertanyaannya.

Faizha langsung mengendarai mobilnya membelah jalan yang lumayan lenggang. Faizha menenangkan hatinya untuk tidak gegabah menyelesaikan masalah. Faizha ingin mengetahui dengan perlahan bukan dengan gegabah yang membuatnya tidak mengetahui masalah dan membuat beberapa pihak sakit hati nantinya.

Mobil Faizha berhenti di jalan tepat di depan rumah Erina. Pikiranya melayang entah apa yang akan di perbuatnya. Tak mungkin dirinya langsung menanyakan semuanya. Bukanya mendapat jawaban malah di anggap aneh nantinya.

Faizha berjalan perlahan kearah rumah Erina kebetulan sekali Erina sedang berada di depan teras sambil menyemprot tanaman.

"Assalamualaikum, Er," Sapa Faizha dengan senyum manisnya.

"Wa'alaikumusalam, mbak Putri." Erina membalikan badannya kearah Faizha. Erina tersenyum manis kearah Faizha.

"Tumben mbak kemari. Lama sekali mbak nggak main kerumah ku," ucap Erina sambil menuntun Faizha untuk duduk di kursi kayu teras rumahnya.

"Heheh. Ini habis dari rumah teman deket-deket sini jadi mampir deh." bohong Faizha. Nyatanya dia jauh-jauh dari rumahnya sengaja ingin kemari.

"Oh begitu ya mbak."

"Kamu nggak ada acara kan hari ini?"

"Tidak ada mbak. Soalnya badan saya belum enakan," ucap Erina sambil sedikit meringis.

"Loh kenpa memang kamu sakit?" Tanya Faizha. Sebenarnya Faizha sudah mengetahui jika Erina sakit. Bukankah dua hari yang lalu Faizha melihat Arga mengantar Erina pulang dari rumah sakit. Biasanya seseorang yang habis dari rumah sakit harus beristirahat untuk memulihkan tenaganya.

"Hemm. iya mbak. Cuma sakit biasa kok," jawab Erina sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.

Faizha mengamati wajah Erina dengan lekat. Wajah Erina terlihat pucat. Matanya sayu, bibirnya putih pucat tapi senyum itu masih tercetak jelas di wajahnya. Wajah damai Erina. Faizha berputar dengan otaknya. Apa mungkin gadis baik seperti Erina ini ada sesuatu dengan Arga suaminya? Apa sebenarnya hubungan Erina dengan Arga, tak taukah Erina mengenai hubungan Faizha dengan Arga?.

"Mbak putri kok ngelamun sih." Erina mengibas-ibaskan tanganya di depan wajah Erina.

"Eh. Maaf-maaf." Faizha tersadar dari lamunannya.

"Oh iya Er, kamu sakit apa sih? Kelihatan muka kamu pucat sekali loh."

"Hemm. Nggak sakit apa-apa kok mbak. Cuma lagi meriang nggak enak badan aja. Kan sekarang cuaca sering hujan."

"Oh iya."

"Hemm--maaf-maaf ya Er. Kamu memangnya nggak punya saudara ya. Kenapa kamu tinggal sendiri. Maaf ya Er aku tidak bermaksud," tanya Faizha tak enak hati. Wajah Erina seketika berubah seperti sedih tapi sedih di tutupinya dengan senyum tipis.

"Mbak tau kan orang tua ku sudah meninggal. Aku punya kakak laki-laki tapi meninggal juga karena kecelakaan. Saudara? Ibu ku dan Ayah aku itu sama-sama anak tunggal. Kalau nenek. Kedua nenek dari Ayah atau Ibu semua sudah menghadap kepadaNYA juga." Erina tertuduk lesu. Faizha tak enak hati karena sudah menayakan hal sesensitif itu pada Erina. Tapi mulutnya sudah tidak bisa di kontrol penasaran untuk menanyakan semuanya. Faizha mengelus lembut bahu Erina.

"Maaf ya Erina. Aku. Aku. Nggak bermaksud," ucap Faizha tak enak hati.

"Tak apa mbak. Mereka sudah tenang di sisiNYA mereka sudah berkumpul di sana. Aku senang kok mbak mau mendengarkan sedikit ceritaku,"ucap Erina sambil tersenyum tipis.

Faizha terdiam memikirkan semuanya. Erina gadis yang menurutnya mempunyai pribadi yang baik. Lemah-lebut dan kuat. Faizha terkagum melihat. Faizha bisa membayangkan bagaimana jika dirinya ada di posisi Erina mungkin dirinya tak akan sanggub.

Faizha sampai lupa dengan tujuan awalnya ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Faizha tak enak hati mengetahui keadaan Erina yang seperti ini. 'Biarlah semua menggalir nanti juga aku akan tau semuanya' batin Faizha.

"Tapi mbak. Aku boleh cerita sedikit nggak?" Tanya Erina antusias.

"Boleh."

"Makasih mbak, Aku seneng lho cerita sama mbak, seperti aku punya saudara," ucap Erina sambil terkekeh.

"Aku juga seneng kok dengernya. Kamu boleh kok anggap saya saudara kamu." Faizha tersenyum manis. Faizha pun merasa sangat cocok jika mengobrol dengan Erina. Seperti ada kedekatan kusus.

"Beneran mbak. Aku seneng banget." Erina tersenyum manis. Di balas senyum yang tak kalah manis dari Faizha.

"Mbak tau heheh. Malu aku mau cerita." Erina ternyum malu-malu "mbak tau laki-laki yang dulu pernah aku bilang mau aku kenalkan sama mbak?" Tanya Erina. Faizha menyerit memikirkanya laki-laki yang ingin di kenalkan denganya. Deg jantung Faizha perdetak semakin kencang. Apa mungkin--- dulu Erina sempat berkata ingin memperkenalkan laki-laki pada Faizha. Dan Faizha tau itu adalah Arga. Tapi ada apa dengan Arga.

Faizha mengganguk tak yakin.

"Dia laki-laki baik mbak," ucap Erina sambil tersenyum manis. "Memang aku tidak punya keluarga tapi dia yang selalu membantu aku mbak, dia seperti pelindung untuk ku." Erina tersenyum membayangkannya.

Awalnya Faizha ingin berhenti menanyakanya. Tapi nyatanya Erina mulai bercerita dengan Faizha. Dan semua pertanyaan yang tadi Faizha pikirkan kini mencuat kembali.

"Kamu punya hubungan dengan dia?" Lolos sudah pertanyaan yang terus berputar di kepalanya. Faizha menatap wajah Erina yang berubah merona. Apa maksudnya batin Faizha. Faizha harap-harap cemas mendengar jawaban dari Erina.

"Hemm- aduh gimana ya mbak." Erina meremas-remas tanganya nampak gerogi dan malu-malu untuk bercerita.

"Kami dekat mbak. Dia udah aku anggap pelindungku, soalnya aku dah nggak punya siapa-siapa. Hem sekaligus calon ku," ujar Erina malu-malu.

Ingin sekali saat ini Faizha berteriak, menangis melontarkan semua yang ada di otaknya. Menjerit ingin Faizha meliapkannya saat ini. Nyatanya semua--Semua yang selama ini Faizha bayangkan, semua yang Faizha pikirkan. Apa semua kenyataan?. Ya semua nyata. Ingin segera Faizha lenyap dari sini. Apa? Arga telah membongi Faizha. Apa Faizha yang dengan bodohnya terus percaya pada Arga.

'Aku bodoh. Aku bodoh terus percaya padamu. Aku bodoh telah mempercai semua yang kamu katakan mas. semua telah terbukti. Ada hubungan Antara kalian mas. Antara mas dengan Erina. Aku seperti wanita bodoh sekarang' jerit Faizha dalam hati.

Seperti tertusuk ribuan jarum sakit, Sangat sakit di bohongi seperti ini. Ingin Faizha menumpahkan air matanya saat ini. Tapi semua harus di tahan untuk saat ini.

Tbc

Di lanjut ya
Maafkan Typo😊

Kesel nggak tu?

Let Me Love You (Complete✔)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang