27.LMLY (Belanda (Faizha aneh))

89.8K 4.7K 248
                                    

Arga terdiam di balkon kamarnya menatap keluar. Pikiranya masih berputar memikirkan Faizha. Entah sudah berapa ratus bahkan ribuan kali Arga coba menghubungi Faizha tapi tak juga ada balasan dari sebrang sana. Arga menghela nafasnya kasar, tanggannya terulur memijat kecil kepalanya yang terasa pening. Kurang tidur, tidak selera makan. Mata Arga sudah membengkak menampilkan lingar hitam di matanya. Badanya lemas, tapi tak juga Arga berkeinginan untuk mengisi perutnya. Pikiranya tertuju pada Faizha.

Dreett dreett drettt...

Ponsel Arga bergetar. Senyum lebar mulai mucul dari bibir Arga yang tadinya melengkung kebawah. Dengan cepat Arga meraih ponselnya dan melihat nama yang tertera dalam pangilan ponselnya.

Erina

Senyum Arga mulai pudar dari wajahnya. Kekecewaan muncul di wajahnya. Arga berharap sangat-sangat berharap jika yang menghubunginya itu adalah Faizha istrinya. Mungkin Arga terlalu berharap dengan itu. Arga tau bagaiman kekecewaan Faizha terhadapnya.

Arga perlahan mengeser tombol hijau dan mulai menempelkanya ke telinganya.

"Assalamualaikum, halo kak."

"Wa'alaikumusalam, iya kenapa?" Tanya Arga masih dengan suara malasnya. Erina yang dari sebrang sana bisa merasakan sura Arga yang nampak berbeda.

"Kakak kenpa? Suaranya kakak kenapa begitu?"

Arga mengehala nafas dalam dan mulai menyesuaikam suaranya seperti biasa.

"Nggak pa-pa Er. Ada apa nelfon?"

"Emm.. kak. Erina sekarang ada pemeriksaan lagi. Erina boleh minta tolong antrin nggak?----- tapi kalo kakak sibuk nggak usah deh Erina nanti pergi sendiri."

Arga terdiam. Hari ini Arga ingin mencari tau di mana istrinya itu pergi. Tapi--- Erina membutuhkanya. Tak mungkin Arga tega membiarkan Erina pergi sendiri dengan kondisinya yang seperti itu. Bukan kah Arga pernah berjanji akan menjaga Erina.

"Bentar kakak kerumah mu Er. Kakak antar ya."

***


"Zha. Kamu kenpa sih dari tadi ngelamun terus. Muka kamu pucet lagi kamu sakit Zha?" Tanya Hela khawatir melihat Faizha yang terduduk melamun dengan pandangan kosong. Wajah Faizha pun nampak memucat dengan bibir sedikit putih dan kelopak mata yang sedikit menghitam.

"Eh! Enggak ko Hel," Faizha tersadar menatap Hela sekilas dan tersenyum tipis menyakinkan jika dirinya sedang baik-baik saja.

Faizha kembali terdiam menatap bunga bunga tulip dengan berbagai warna di depanya. Mata Faizha menatap bunga itu namum pikiranya tetap melayang memikirkan Arga. Bukankah Faizha kemari ingin menenagkan pikiranya tapi sepertinya sulit, karna pikrianya tak mau lepas memikirkan Arga di sana. Ada bagian dari diri Faizha yang memberontak ingin segera pulang. Tapi Faizha terus coba mengutkan jika dirinya sedang baik-baik saja. Faizha ingin menengkan semuanya. Faizha menggeleng kecil mengilangkan pikiranya tentang Arga itu.

"Ngapain kamu geleng-geleng Zha. Aneh kamu." Hela melihat Faizha aneh. Sedangkan Faizha hanya tersenyum kecil.

"Oh iya zha. Kamu mau di Belanda sampai kapan?" Tanya Hela.

Faizha berpikir sejenak "emm.. mungkin. Aku nggak tau. Sampe aku bosen lah." jawab Faizha Asal. Faizha kembali menatap bunga-bunga di depanya mengalihkan pandagan dari Hela.

"Kamu tu ya. Udah nikah juga. Nggak kasian kamu sama suamimu itu,"ucap Hela sambil menggeleng kecil. Sahabatnya ini masih seperti dulu rupanya, batin Hela. Faizha terdiam mendengar ucapan Hela. Sedang Hela kembali melanjutkan ucapanya. "Kamu tu ya Zha. Kamu nggak boleh tau ninggalin suami kamu lama-lama. Kewajiban kamu itu ngurus dia zha." Kali ini Hela berbicara dengan penuh penekanan. Memang dirinya belum menjalin rumah tangga seperti Faizha. Karna Hela masih ingin fokus pada pendidikanya. Tapi sebagai sahabat Hela harus selalu mengingatkan sahabatnya ini.

"Iya-iya Hel. Ih!" Faizha sedikit terusik dengan ucapan Hela. dirinya meninggalkan kewajibanya itu. Bisa di katakan dirinya telah durhaka pada Arga. Tapi apa Faizha egois. Bukankah Faizha juga punya hati untuk di tenangkan.

"Jagan iya-iya aja Zha." Hela menatap tajam Faizha. Faizha hanya tersenyum masam.

"Iya sahabatku yang cantik," ucap Faizha dengan penekanan. Faizha mencubit gemas pipi cabi Hela.

"Awwww," ringis Hela sambil mengusap-usap pipinya.

Keduanya kini kembali terdiam dan menatap bunga tulib di depanya. Sampai Hela kembali bersuara.

"Zha," Panggil Hela membuat Faizha menatap Hela.

"Kapan sih aku di kasih ponakan. Nggak sabar tau aku gendong ponakan," Ucap Hela di buat seperti anak kecil yang sedang ngambek.

Faizha terdiam mencerna ucapan Hela sahabatnya ini. Soal anak Faizha pun ingin. Perempuan mana yang setelah menikah mereka tak berkeinginan memiliki anak. Faizha dan Arga sudah 'melakukanya' tapi memang belum di beri kepercayaan untuk menimang anak. Faizha menunduk meremas tanganya. Tapi  Apa dengan keadaan dan situasi seperti ini--- apa itu akan baik.

Hela yang melihat perubahan dari wajah Faizha yang nampak murung. Serta menundukan kepalanya kebawah. Menjadi merasa bersalah.

"Aduh. Maaf ya Zha, aku nggak bermaksud loh," Ucap Hela tak enek hati. Hela menarik tubuh Faizha dan memeluknya.

Kini Faizha terisak di pelukan Hela. Entah kenapa Faizha ingin sekali menagis saat ini. Sebenarnya ucapan Hela tak salah tapi entah kenapa atau mood  Faizha yang sedang tidak baik. Rasanya ingin Faizha mengis sekencang-kencangnya saat ini. Mungkin jika bukan di tempat umum atau Faizha tak malu pasti Faizha sudah menangis.

"Aduh Zha, aku minta maaf aku nggak bermaksud jagan nangis dong zha," ujar Hela tak enak hati. Sebenarnya Hela pun tak bermaksud apa-apa pada Faizha. Hela mengelus-elus lembut punggung Faizha untuk menengkan Faizha.

"Aku nggak pa-pa kok Hel. Tapi nggak tau kenpa pengen aja nangis. Biar aku nagis dulu ya." Faizha terus menangis saat ini benar-benar dirinya ingin mengis entah kenapa. Memang benar akhir-akhir ini Faizha sangat sensitif dengan apapun emosinya naik turun tidak menentu. Kadang dirinya ingin marah kadang seperti ini ingin mengais Faizha pun tak tau kenapa.

"Aduh zha." Hela menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap sahabatnya ini. Saat ini Faizha seperti anak kecil yang sedang menagis. Hela tak tau. Hela terus menepuk pungung Faizha lembut. Mungkin dengan menagis Faizha bisa menengkan diri. Hela tau ada sesuatu pada Faizha karna Hela sudah bersahabat sejak lama dengan Faizha dari mereka masih sekolah dasar Hela tau sifat dan sikap Faizha. Tapi Hela tak mau menanyakanya. Biarlah Faizha bercerita dengan sendirinya.

"Hel di sini ada es krim nggak. Kok aku pengen banget Es krim ya," ucap Faizha sambil menghadap Hela memperlihatkan senyumnya. Hela tak habis pikir dengan Faizha. Baru saja tadi Faizha menangis sesengukan kini Faizha tersenyum lebar di hadapanya. Sungguh perubahan mood yang hebat.

TBC😊

Maafkan Typo
Lanjut baca

Aku kok kurang srek sama part ini. Tapi kalo mau di ubah, harus hapus semua 😭 maaf ya kalo agak gimana gitu. Aku juga lagi mikir LMLY 2 ni😭

Let Me Love You (Complete✔)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang