Ponsel Hiro berbunyi, setelah ia menggeser tombol jawab ia lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Halo." Kata Hiro.
"Hiro, Nessa hilang." Kata Dania di ujung telfon sana.
"Bagaimana bisa hilang, kan dari tadi sama mama. Dan gak mungkin dia kabur, selama ini kalau ke rumah mama dia baik-baik aja gak kabur." Kata Hiro panic.
"Gak tau Hiro, yang jelas ini gak ada di rumah. Tadi kata pak Maman, Nessa pamit ada yang mau di beli. Kira-kira jam satuan. Sekarang udah mau jam empat, dia beli apa coba lama begini. Duh mama kok jadi khawatir gini." Kata Dania yang benar-benar cemas. Mendengar nada mamanya, Hiro sadar dan menekan amarahnya. Ia marah dan khawatir dengan keadaan Nessa yang tiba-tiba menghilang.
"Ya udah mama tenang aja dulu. Aku sekarang langsung cari Nessa, kita berkabar aja kalau Nessa sudah pulang ke rumah mama atau aku udah ketemu." Kata Hiro yang langsung mematikan telfon mamanya.
"Nessa hilang?" Tanya Kim yang mendengar percakapan antara Hiro dan istrinya.
"Iya gak ada di rumah." Kata Hiro sambil memencet ponselnya terburu-buru.
"Aish." Teriak gemas Hiro, lalu ia mencoba menelfon Nessa tapi ternyata benar ponsel Nessa gak aktif.
"Kenapa?"
"Hp Nessa gak aktif, Hiro gak bisa ngelacak GPS dia kalau kaya gini." Kata Hiro setengah frustasi, setelah beberapa lama Nessa terlihat tenang dan gak berusaha kabur lagi tapi sekarang Nessa menghilang.
"Cepat kamu cari Nessa sekarang, nanti abeoji suruh matius dan beberapa orang lainnya untuk mencari Nessa juga." Kata Kim yang dijawab anggukan oleh Hiro dan langsung keluar menuju mobilnya untuk mencari Nessa.
***
Nessa POV
Setelah berhasil keluar dari kamar Hiro, aku lalu melihat keadaan. Aku rasa sudah aman karena mama Dania masih sibuk di dalam ruang kerjanya, para ART yang bekerja pun gak menampakkan diri. Aku terus keluar dengan sangat hati-hati agar tak dilihat orang yang berada di dalam rumah.
Di luar Aku hanya perlu bertemu dengan pak Maman, security yang bertugas menjaga gerbang di rumah Hiro. Setelah itu semuanya aman dan aku dapat keluar dari rumah mama Dania.
"Mau kemana non Nessa?" Tanya pak Maman heran. Semua orang disini pasti sudah tau kalau aku gak pernah keluar sendiri, gak boleh keluar sendiri lebih tepatnya.
"Saya mau ke depan sebentar pak, mau beli kebutuhan saya. Tadi pagi saya lupa bawa karena buru-buru. Tadi saya sudah bilang kok ke kak Hiro dan mama." Kataku lagi meyakinkan pak Maman.
Muka pak Maman masih berkerut tanda gak mudah mempercayai aku, aku harus lebih meyakinkan dia lagi supaya bisa keluar dari rumah ini tanpa membuat Hiro menyeret aku lagi seperti dulu saat aku akan kabur dari apartemennya dan ketahuan.
"Pak Maman gak percaya sama saya? Pak Maman mau saya telfon Hiro atau saya panggilkan mama?" Kataku berusaha meyakinkan pak Maman yang rasanya sulit ini.
Jujur aku merasa bersalah telah membohongi pak Maman, tapi aku mau sedikit saja kebebasan. Walau hanya sebentar tapi aku rasa aku bisa bernafas. Aku hanya ingin pergi sebentar saja, lepas dari lingkaran Hiro sedetik saja.
"Tapi benerkan non?" Tanya pak Maman kepada ku masih sedikit ragu tapi juga berjalan mendekati gerbang dan membuka pintu.
"Makasih yah pak." Kataku sambil tersenyum. Dan maaf tambahku dalam hati. Aku langsung melangkah keluar gerbang takut nanti bohong ku ketahuan.
***
Author POV
Kabar dari mamanya tentang hilangnya Nessa membuat Hiro langsung panic, sambil mengemudi ia menghubungi pak Maman bagaimana dan kapan Nessa bisa keluar dari rumah mamanya.
Ia masih terus mencoba menelfon Nessa tapi nihil karena hp Nessa di matikan. Hiro mengemudikan mobilnya dengan kencang menembus jalanan ibukota mencari di tempat-tempat yang mungkin Nessa kunjungi.
Mobil sedan hitam milik Hiro memasuki perumahan tempat rumah orang tua Nessa dan Nessa dulu tinggal. Ia melihat gerbang itu masih di gembok. Hiro lalu melompat gerbang agar dapat masuk ke dalam pekarangan rumah itu. Dicoba membuka pintu itu, terkunci dan gak ada suara Nessa ataupun lampu yang hidup dari dalam rumah.
Hiro melajukan mobilnya lagi menuju ke makam orang tua Nessa, ia melihat ada setangkai mawar putih di masing-masing makam orang tua Nessa. Ini tanda Nessa tadi berkunjung ke makam orang tuanya. Hiro terus berputar-putar berharap Nessa masih ada di sekitar makam orang tuanya. Tapi hasilnya tidak ada, Nessa sudah meninggalkan komplek pemakaman ini.
Hilang arah dan putus asa, itulah yang di rasa Hiro saat ini. Ia mulai bingung kemana lagi harus mencari Nessa. Mamanya, bi Ati dan orang-orang yang menyebar untuk mencari Nessa masih belum menemukan Nessa.
Hiro meletakkan keningnya di stir mobil, rasanya sulit sekali menemukan Nessa. Ia menyesal semalam menuruti permintaan Nessa untuk berkunjung ke rumah Hiro. Andai ia tak menuruti permintaan Nessa atau Nessa masih di kawal body guard pasti gak akan begini ceritanya. Hiro merasa bodoh yang tidak mengunakan body guard kalau pulang ke rumah mamanya.
Hiro merasakan sesak itu datang kembali, sesak yang lebih menyakitkan dari pada saat kehilangan Indi. Kali ini ia benar-benar takut kehilangan Nessa. Hiro merasa tak sanggup bila harus kehilangan orang yang ia sayang untuk kedua kalinya. Dulu Indi, sekarang ia harus kehilangan Nessa.
Mobil Hiro mulai melaju lagi, hanya menempuh lima belas menit dari kawasan pemakaman orang tua Nessa. Kini Hiro sudah sampai di pemakaman lainnya, tempat dimana Indi dimakamkan.
"Hai cantik. Maafkan aku udah lama gak kesini. Apa kamu merindukan aku dari atas sana?" Kata Hiro yang mulai bermonolog lagi dengan makam Indi.
"Kamu dari atas sana pasti tau apa yang aku alami saat ini. Jujur kehilangan kamu membuat aku sangat hancur, tapi kali ini aku akan lebih hancur lagi kalau aku kehilangan dia. Bantu aku untuk memastikan apa yang aku dan dia rasakan, apakah rasa ini sama atau hanya aku aja yang ngerasain." Kata Hiro lalu menghapus sudut matanya yang mulai basah.
Hari sudah mulai petang, Hiro lalu bergegas meninggalkan makam Indi karena harus melanjutkan pencarian Nessa. Ia selalu merasa khawatir jika Nessa berada di luar jangkauannya.
Belum lagi Hiro berjalan terlalu jauh meninggalkan makam Indi, sudut matanya menangkap seperti perempuan bergaun putih lewat. Hiro sempat mengidikkan bahunya, ngeri mengingat ini hampir menjelang petang dan di kawasan pemakaman.
Hiro ingin melangkah cepat meninggalkan kawasan pemakaman ini tapi tiba-tiba sebuah pemikiran terlintas dikepala gantengnya.
"Tadi itu siapa yah, itu manusia atau hantu?" Pikir Hiro.
Mengabaikan rasa takutnya, Hiro lalu kembali menuju ke makam Indi. Entah mengapa firasatnya menyuruh kembali ke makam Indi. Dan yang di lihat Hiro di depannya benar-benar ingin membuat mata Hiro hampir salto dari tempatnya. Ia terus mengelus-ngelus dada dan mengelap keringat yang keluar di pelipis kepalanya. Kakinya sudah tak bisa diajak bekerja sama lagi untuk melangkah dan hanya mampu berdiri terdiam di tempatnya.
Udah mau tamat semua cerita ak, tp cerita baru belom lse ak garap. Galau. Kebanyakan zumba moment 17an ini. Hadeh 😪
Tangerang, 13 Agustus 2019
KAMU SEDANG MEMBACA
(Not) An Incurable Heart
RomansaTAMAT ~Novel 3~ Rank 25 mama (180519) Rank 33 kebebasan (250519) Rank 134 rahasia (050619) Rank 394 penyesalan (080619) Aku amat sangat menyesal tentang kejadian kemarin yang menjungkir balikkan duniaku, seseorang yang tak bertanggung jawab yang me...
