Pandangan mereka bertemu dengan waktu yang cukup lama, tidak ada yang mau memutuskan tatapan itu walau hanya sekejap. Keduanya berusaha menyalurkan kerinduan yang di rasa.
Kerinduan akan hal hal yang pernah mereka lalui bersama.
Merasa ada yang salah dari tatapan mereka kali ini, Septian langsung memutuskan untuk menatap ke arah lain, hal itu membuat wajah Nabila yang tadinya sedikit ceria berubah menjadi sendu.
"Septian, kok malah diem disitu sih? Ayok sini maju" ujar sang pembawa acara mengagetkan Septian. Tatapan para murid kali ini mengarah pada dirinya, termasuk Nabila.
Pembawa acara itu terus menerus meneriakkan namanya, di bantu dengan sorak sorai dari para penonton membuat Septian menghela nafas berat sebelum akhirnya berjalan dengan ragu menuju panggung.
Septian masih terus berjalan dengan santai menaiki panggung, wajahnya yang datar dan tatapan matanya yang tajam mampu membuat siapa saja yang melihatnya segan.
Sesampainya di atas panggung pun Septian masih saja diam, belum mengeluarkan suara apa apa, bahkan menghiraukan Nabila yang sedang menatapnya dengan tatapan sendu.
Septian hanya tidak ingin melihat manik mata indah Nabila yang saat ini menyiratkan luka.
"Septian, setuju nggak kalau misalnya tampil sama Nabila di sini gitu, berdua?" pembawa acara dan para penonton menatap Septian dengan tatapan penasaran sekaligus memohon supaya Septian mau tampil di depan panggung.
Satu menit.
Septian masih diam membuat pembawa acara sedikit kesal dibuatnya. Sedangkan Nabila, gadis itu sedang berusaha untuk menormalkan detak jantungnya yang tiba tiba bekerja sangat cepat.
"Nggak." jawab Septian setelah sekian lama diam.
Sekarang, mereka semua yang diam setelah mendengar perkataan Septian.
"Loh kenapa?" pembawa acara itu bertanya hanya untuk mencairkan keheningan yang terjadi.
"Gue tampil sendiri" sindir Septian sedikit tajam. Pembawa acara itu berpura pura menepuk jidatnya seolah olah dirinya lupa akan hal itu.
"Ohh iya, yaudah kalau gitu sekarang aja tampilnya kan? Tapi di temenin Nabila. Mau nggak kalau gitu?" pembawa acara ini sangat menyebalkan menurut Nabila dan Septian, terlalu memaksa.
"Nggak. Gue. Mau. Sendiri" sarkas Septian tajam, menekan setiap kalimatnya membuat pembawa acara itu mau tidak mau mempersilakan Septian untuk mempersiapkan diri dan mulai bernyanyi.
Sedangkan Nabila dan Kelvin, keduanya turun dari panggung dan langsung menuju ke arah paling depan. Menyaksikan Septian yang tengah mempersiapkan semuanya.
Septian sudah siap dengan gitar yang berada di pangkuannya, entah kemana Septian yang selalu bersikap ramah dan selalu tertawa, semua itu seolah hilang dalam waktu sekejap.
Senar gitar di petik oleh Septian secara perlahan lahan, yang lama kelamaan menciptakan nada yang sangat indah di dengar. Semua pandangan mata hanya tertuju kepada Septian, wajah tampan Septian terlalu sayang untuk di lewatkan.
Coba tanya hatimu sekali lagi
Sebelum engkau benar benar pergi
Masihkah ada aku di dalamnya,
Karena hatiku masih menyimpanmu
Kisah kita memang baru sebentar,
Namun kesan terukir sangat indah
Ku memang bukan manusia sempurna
Tapi tak pernah berhenti mencoba
Septian menahan nafasnya sesaat, mengingat pertemuan singkat antara dirinya dan Nabila. Pertemuan singkat yang terjadi di antara mereka malah membawa mereka menghadapi berbagai macan masalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Annoying Badboy
Подростковая литература"Jadi lo cuman jadiin gue bahan taruhan lo doang?" Berawal dari sebuah taruhan dengan teman temannya. Septian Arya mendekati Nabila anindya sebagai target taruhannya. Nabila, sekertaris kelas yang terkenal cerewet dan rajin. Apakah bisa Nabila yang...
