[10] Back

2.5K 268 8
                                        

Di saat-saat seperti ini, ingin rasanya gadis itu menyerah. Meskipun harapannya membumbung begitu tinggi. Tak pernah ia merasa setakut ini. Bukan takut karena ia yang mungkin saja akan mati. Namun lebih pada hal lain.

Jika dirinya pergi, lalu bagaimana dengan Wenzell. Ia tentu saja masih memikirkan nasib pria itu jika saja dirinya pergi atau bahkan mati.

Juga bibi Greta. Entah bagaimana reaksi wanita itu jika dia mengetahui tentang ini semua. Tentang makhluk supranatural sekaligus immortal. Tentang ia yang menjadi seorang Luna bagi sekawanan serigala. Dan tentang musuh yang terus menyerangnya tanpa tahu belas kasih.

Erysca masih saja bertahan dalam posisinya. Matanya menatap lurus pada pria dan wanita yang berdiri angkuh beberapa meter di depannya itu. Tangannya yang bergetar masih berusaha mencari pegangan pada apapun yang bisa menahannya.

Sampai suara derap langkah itu semakin mendekat. Tidak tahu siapa atau apa yang akan datang nanti. Harapannya tetap sama seperti di awal. Berharap mereka adalah penolongnya saat ini.

Erysca menatap pria dan wanita itu yang tidak lagi menatap ke arahnya. Ia mengikuti arah pandang mereka. Kepalanya menoleh ke belakang dengan gerakan lemah. Napasnya memburu.

Seorang pria yang berdiri paling depan memimpin anggotanya yang berdiri di belakangnya. Pria berambut putih itu beralih menatapnya. Sorot matanya menyiratkan kesedihan dan amarah. Entah apa maksudnya itu.

"Lepaskan gadis itu," ujar pria itu penuh penekanan. Kedua tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya.

Wanita di sebelah Vinnic tertawa keras.

"Apa maksud tujuanmu datang kemari? Menyelamatkan seorang Luna dari kawanan Werewolf?"

Pria yang menjadi lawan bicaranya tak menjawab apapun.

"Tidak perlu mencampuri urusan kami, Tuan Hugo yang terhormat. Vampir sepertimu lebih baik berada di mansion, menikmati suguhan para slave untuk menghangatkan ranjang kalian," ujar wanita bertudung itu dengan nada mengejek.

Pria bernama Hugo itu berdecih sinis. Bodoh! Tentu saja tidak semua Vampir seperti itu.

Lalu semuanya kembali hening. Mereka hanya saling menatap dengan aura permusuhan. Erysca yang berada di tengah-tengah mereka hanya bisa pasrah.

Hugo adalah Vampir yang pernah ditemuinya bersama Wenzell. Sekarang ia bisa bernapas lega karena ada yang akan menyelamatkannya. Entah apa maksud pria itu yang mau menolongnya. Padahal yang ia tahu Vampir dan Werewolf saling bermusuhan. Atau mungkin kali ini berbeda.

"Aku tidak akan segan-segan membunuhnu jika kau semakin membuat gadis ini kesakitan," ujar Hugo. Matanya menatap nyalang ke arah wanita bertudung yang sedang memegang rantai.

Dirinya bisa saja langsung menyerang pria dan wanita itu. Namun ia tidak mau bertindak gegabah karena ada seorang gadis yang menjadi taruhannya. Ia akan mengulur waktu untuk mencari waktu yang tepat.

Hugo kembali pada gestur tenangnya. Kedua tangannya beralih ke belakang tubuh. Jari-jarinya bergerak memberi isyarat pada mereka yang berdiri di belakangnya. Dan mereka tahu itu.

Salah satu diantara mereka bergerak sangat pelan tanpa diketahui musuh. Keahliannya dalam mengintai sudah tidak diragukan lagi. Selagi Hugo sedang mengulur waktu dengan sedikit berbincang, wanita vampir yang menjadi pengikut Hugo itu terus mendekat ke arah Vinnic.

Saat sampai di belakang Vinnic, dia menyerangnya dengan tiba-tiba. Membuat semua temannya langsung bergerak siaga.

Disaat Vinnic berteriak kesakitan karena gigitan Vampir. Wanita bertudung tadi justru berhasil melarikan diri setelah rantai yang mengikat kaki Erysca menghilang dalam kejapan mata. Beberapa bawahan Hugo mengejarnya.

Alpha Wenzell [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang