SEDIKIT PERCAKAPAN, BANYAK NARASI
Happy reading :)
________________________________
Redmoon pack kembali dihebohkan dengan Alphanya yang pulang larut malam dalam keadaan mabuk berat. Seorang Werewolf apalagi Alpha pastinya tidak akan mudah mabuk hanya karena minuman buatan manusia. Pria itu pasti sudah sangat hancur sehingga tubuhnya melemah.
Hal ini sudah berlangsung sejak Lunanya pergi. Wanita itu benar-benar membuat suasana pack yang semula berwarna menjadi mencekam setiap harinya. Alphanya selalu mengamuk jika bawahannya tidak berhasil mendapatkan petunjuk mengenai hilangnya sang Luna.
Mereka semua hanya mampu menunduk sedih dengan keadaan seperti ini. Tidak ada yang berani menemui Alphanya kecuali Samuel. Emosi Alphanya yang meledak-ledak tak jarang membuat beberapa bagian mansion rusak parah dan para Warrior terluka. Namun mereka semua memaklumi keadaan ini. Mereka hanya terus berharap semoga Lunanya cepat kembali.
Pagi harinya keadaan mansion sudah kembali seperti semula. Ini sudah hampir tiga minggu sejak Lunanya menghilang tanpa jejak. Wenzell akan pergi lagi untuk mengecek hutan tempat ditemukannya robekan pakaian matenya. Dia yakin istrinya masih hidup. Berdasarkan penyelidikan tidak ditemukan mayat seorang wanita di dasar jurang.
Bahkan sudah berkali-kali Wenzell memerintahkan Warriornya untuk kembali ke dasar jurang dan mencarinya lagi. Dia sendiri juga menyisir seluruh hutan di wilayahnya berharap Lunanya ditemukan. Tetapi semuanya sia-sia. Tak ada jejak apapun selain robekan kain dengan noda darah itu yang kini Wenzell simpan di dalam sebuah kotak kayu.
Para tetua sangat yakin jika Lunanya sudah meninggal. Namun Wenzell tetap tak percaya itu. Dirinya terus mengelak ucapan para tetua yang selalu membuat amarahnya meluap. Tetua-tetua itu bilang mungkin saja mayat istrinya sudah habis diterkam hewan liar atau masuk ke lumpur hisap sehingga jejaknya hilang. Lagi-lagi Wenzell tak memercayai itu. Dia tetap pada pendiriannya bahwa istrinya masih hidup.
Seorang Warrior menghampiri Wenzell yang sedang berdiri di tepi jurang. Wajahnya tampak tenang. Tetapi siapa yang tahu apa isi pikiran dan hati pria itu.
"Saya sudah mengecek dasar jurang, Alpha. Tetapi tak ditemukan apapun di sana," lapor Warrior tersebut dengan nada takut dan kepala menunduk.
Iris mata Wenzell menggelap karena amarah. Kedua tangannya mengepal dengan kuku yang memanjang. Dia berteriak murka seraya memukul Warrior tersebut sampai menghantam pohon. Samuel dan dua Warrior lain menahan tubuh Wenzell yang sudah diambil alih oleh serigalanya. Mereka cukup kuwalahan. Sedangkan Warrior yang Wenzell pukul segera dibantu temannya. Darah segar keluar dari hidung dan mulutnya.
Wenzell sudah seperti tak bisa membedakan mana kawan mana lawan. Napas pria itu terdengar memburu bersamaan dengan geramannya. Urat lehernya menonjol dan wajahnya memerah. Kaki tangannya terus bergerak dengan brutal.
Sang Beta melirik ke arah sampingnya dan mengangguk. Seseorang menembakkan bius ke arah Wenzell. Pria itu ambruk seketika. Untuk kesekian kalinya Samuel harus melakukan hal ini sebelum korban kembali berjatuhan karena hantaman tangan Wenzell.
"Bawa Alpha ke mansion," titah Samuel pada para Warriornya yang langsung segera dilaksanakan.
Samuel berdiri di tepi jurang dan menatap ke arah bawah dengan wajah datar. Semilir angin menerbangkan rambut ikalnya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Dia menghela napas berat.
Pikirannya kembali melayang pada keadaan saat ini. Matenya masih dalam keadaan berduka, dia tidak terima sang Luna pergi begitu saja. Begitu pula dengan Luna Clara dan Greta. Mereka sangat terpukul. Banyak yang terluka di sini. Tidak hanya Alphanya. Dia pun sebagai anggota pack merasa sedih meskipun tak sesedih Wenzell atau Clara.
Usaha sudah semaksimal mungkin dilakukan. Meminta bantuan pada detektif handal juga tak membuahkan hasil. Semua orang semakin percaya jika Lunanya memang sudah meninggal. Mayleen yang menjadi saksi jika Lunanya dibawa pergi oleh orang asing pun tak tahu banyak. Dia hanya mengingat tentang itu. Tidak tahu siapa yang membawanya.
Anggota Redmoon Pack sudah mendatangi sarang Rogue yang waktu itu menyerang pack. Namun para Rogue tak mau membuka mulut sampai Wenzell memerintahkan untuk membantai mereka semua. Menyisakan sang pemimpin Rogue yang mereka bawa untuk diinterogasi. Sayangnya lagi pria itu mati bunuh diri di dungeon.
Jadi sekarang tidak ada lagi yang bisa menjadi saksi kemana orang asing itu membawa Lunanya. Tetapi bukti mengarah pada dasar jurang. Membuat spekulasi semakin jelas jika pemimpin kedua mereka memang telah tiada.
***
Mayleen nekat pergi seorang diri ke kastil milik Hugo. Gadis itu dengan mantap menjejakkan kakinya di pelataran kastil. Tanpa basa-basi ia menginginkan bertemu dengan pangeran Vampir di sana. Penjaga gerbang menuntun Mayleen untuk menuju bagian dalam bangunan mengerikan itu.
Kini mereka berdua berdiri berhadapan di ruang tamu kastil yang sangat luas. Hugo yang awalnya berwajah sumringah berubah heran saat melihat Mayleen datang dengan gestur menahan amarah.
"Ada apa—"
"Dimana kau membawa Luna pergi?" Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Mayleen sudah lebih dulu memotong. Wajahnya memerah.
Hugo tampak terkejut. Bagaimana bisa gadis itu menuduh dirinya? Keningnya berkerut bingung.
"Apa maksudmu? Aku tidak mungkin membawa Erysca pergi!" ujarnya tak terima.
Mayleen berdecih sinis. "Sejak awal aku mencurigaimu, Hugo. Dimana Luna kami! Apa yang kau inginkan dari kami, hah?!" pekiknya menggebu. Air mata tanpa sadar mengalir di pipinya dan ia mengusapnya dengan kasar.
"Kenapa kau menuduhku seperti itu?! Aku benar-benar tidak tahu dimana Luna kalian! Jika benar aku pelakunya. Maka aku akan membawanya dengan segera bahkan saat pernikahan Alpha dan Lunamu karena aku hadir di sana." Hugo memandang Mayleen yang semakin menangis.
"Aku tidak perlu menyuruh para Rogue bodoh untuk pengalihan anggota packmu. Tanpa mereka pun aku bisa masuk ke mansion itu dengan mudah jika aku mau, Mayleen," lanjut Hugo tegas dengan napas memburu.
Pria itu tahu apa permasalahan dari Redmoon Pack. Berita itu sudah menyebar hampir ke seluruh penjuru wilayah makhluk immortal.
Mayleen jatuh terduduk seraya menutup kedua wajahnya. Dia kalap dan berakhir menuduh Hugo yang tidak tahu apa-apa. Sang pangeran melesat cepat menghampiri Mayleen. Ikut berjongkok di depan gadis itu lalu memeluknya dengan gerakan ragu. Mengusap punggung Mayleen dengan lembut.
"Sstt ... bukan aku yang melakukan itu. Aku akan berusaha membantu packmu untuk mencarinya."
Dalam pelukannya Mayleen mengangguk. Kedua tangannya melingkar di pinggang Hugo dan meremas pakaian pria itu dengan erat.
"Terimakasih," ujar Mayleen tulus. Mereka menguraikan pelukan setelah Mayleen merasa lebih tenang. Kemudian kembali berdiri berhadapan.
"Dan ... maaf karena sudah menuduhmu," lanjutnya lirih.
Hugo tersenyum. Tangannya mengusap puncak kepala Mayleen. "Tidak masalah. Aku mengerti keadaannya. Apalagi dengan hubungan Werewolf dan Vampir yang kurang baik. Jadi maklum saja kalau kau atau kalian mencurigai kami," balasnya santai.
Senyum kecil Mayleen terbit. Hal yang beberapa tahun terakhir jarang gadis itu perlihatkan. Setelahnya suasana mendadak canggung. Mayleen menunduk menatap kedua kakinya yang berbalut sepatu kulit. Sedangkan Hugo menggaruk tengkuknya. Pria itu berdehem.
"Mmm ... kalau begitu aku akan kembali ke pack." dengan terburu-buru Mayleen berbalik dan pergi.
"Aku bisa mengantarmu kalau kau mau," tawar Hugo yang membuat Mayleen menghentikan langkahnya.
"Tidak perlu. Terimakasih," balas Mayleen tanpa berbalik lalu melanjutkan langkah.
Hugo menatap punggung kecil gadis itu sampai menghilang di balik pintu utama. Dia menghela napas kasar seraya menyugar rambut putihnya.
***
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alpha Wenzell [Completed]
Lupi mannariSpin-Off #2 My Beloved Mate Saat dirinya telah merasakan segalanya sudah lengkap. Tak ada lagi hampa atau dusta. Saat hidupmu adalah hidupnya. Dan hidupnya adalah hidupmu pula. Saat dirinya merasa benar-benar sudah menemukan orang yang tepat untuk m...
![Alpha Wenzell [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/174896462-64-k600661.jpg)