[9] Erysca

2.7K 290 24
                                        

Erysca POV

Aku mengerjapkan mata saat sinar matahari serasa menusuk dari balik kelopak mataku. Sepertinya hari sudah beranjak siang. Dan aku tidak peduli itu. Pagi, siang, sore, dan malam sekalipun aku tidak akan mudah terbebas dari tempat ini.

Setiap pagi datang, bukan suara kicau burung yang menyapa. Bukan juga gemerisik dedaunan terkena angin yang terdengar menenangkan. Atau percikan air dari shower di kamar mandi menandakan sang kekasih sedang menjalani rutinitas paginya. Bukan itu semua.

Setiap aku membuka mata sapaan pertama adalah suara cicitan tikus yang berlarian kesana-kemari mencari sisa-sisa makanan. Terkadang juga suara seseorang beserta tendangan di salah satu bagian tubuhku. Dan itu adalah salah satu hal yang paling aku benci.

Meskipun aku tidak peduli pada apapun yang ada di sini, termasuk mereka yang menyebabkan aku ada di tempat bak penjara ini, aku bertekad akan tetap melarikan diri bagaimanapun caranya.

Aku tidak tahu ini di mana, ini tempat apa, atau rencana licik apa yang sedang mereka lakukan. Aku hanya ingat saat malam sebelum aku berada di sini.

Berada di depan rumah, lalu tiba-tiba berpindah tempat hanya dalam kedipan mata. Bertemu Vinnic yang mengantarku pulang, dan ... dan aku tidak tahu kelanjutannya. Seperti ada yang hilang dari ingatanku malam itu. Atau ada yang sengaja menghilangkannya.

Helaan napas keluar dari mulutku. Tatapanku mengarah pada langit-langit ruangan. Apa Wenzell mencariku? Bagaimana reaksinya saat dia tahu aku menghilang sudah lebih dari dua hari? Aku yakin dia pasti sudah uring-uringan mencariku. Apalagi bibi Greta. Wanita itu sudah kupastikan panik luar biasa.

Alasanku bertekad ingin keluar dari sini adalah karena aku tidak mau membuat bibi Greta khawatir. Aku juga tidak mau semakin membuat Wenzell kesulitan mencariku. Dan alasan lainnya adalah aku tidak ingin rencana-rencana mereka yang membuat aku di sini, terlaksana.

Indra pendengaranku menangkap suara langkah kaki. Ketukannya semakin mendekat ke ruangan pengap yang sekarang aku tempati ini.

Dengan segera aku kembali membaringkan tubuhku yang semula duduk bersandar dinding. Berusaha sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara. Sedikit kesulitan karena tubuhku yang terasa remuk dan ikatan tali di kedua kaki dan tanganku.

Ugh. Aku benci ini. Pasti dia lagi.

Mendengar suaranya saja sudah membuatku muak luar biasa. Apalagi menatap wajahnya. Seandainya aku memiliki kekuatan aku akan langsung meninju pria itu. Menendang sesuatu yang berharga miliknya, agar masa depannya suram.

Memikirkan itu saja sudah membuat kaki tanganku gatal ingin segera merealisasikannya.

Pintu ruangan terbuka dan suara ketukan sepatu semakin mendekat. Aku masih dalam mode pura-puraku. Entah apa yang akan dilakukannya lagi sekarang.

Lalu tendangan kakinya terasa di tanganku. Aku masih berpura-pura tidur, atau mungkin pingsan.

"Kenapa? Apa dia mati?" samar-samar aku mendengar suara seorang wanita.

"Mana mungkin dia mati. Kita selalu memberinya makan. Lagipula kita harus tetap menahannya di sini sampai bulan purnama datang." kali ini suara pria.

Ya, kalian selalu memberiku makan. Makanan yang bisa membuat perutku sakit. Bahkan aku yakin mereka pun tidak mau menyentuhnya. Tapi mau tak mau aku harus memakannya untuk mendapatkan tenaga supaya bisa kabur dari sini.

Alpha Wenzell [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang