[34] New Job

1.1K 126 20
                                        

Pagi hari yang cukup cerah untuk memulai aktivitas. Udaranya terasa segar. Embun-embun sisa dinginnya malam masih terlihat membasahi daun. Erysca terbangun dengan perasaan lebih baik.

Dia turun dari kasur lalu berjalan ke arah jendela. Membuka lebar tirai dan kaca jendela supaya udara segar masuk. Setelahnya ia menuju keluar kamar. Pintu kamar Megan belum terbuka, apa gadis itu belum bangun? Langkahnya menuju kamar mandi. Ia membasuh muka dan menggsosok giginya. Kemudian beralih ke dapur untuk membuat sarapan.

"Selamat pagi," sapa Megan dengan wajah mengantuk. Gadis itu mendekati wastafel. Membasuh wajahnya di sana dan berkumur. Lalu duduk di kursi meja makan dengan menopang sebelah wajahnya. Kantung matanya terlihat jelas.

"Pagi. Kau begadang semalam?" tanya Erysca sembari membuat dua mangkuk sereal.

Megan mengangguk lesu. "Ya. Ada tugas besar yang harus aku selesaikan segera." ia menguap lebar tanpa malu.

"Ini makanlah."

"Terimakasih."

Mereka sama-sama diam sampai sarapan selesai. Mangkuk dan gelas kotor kembali Erysca yang mencuci.

"Kau rajin sekali. Biasanya aku mencucinya jika piringnya sudah setinggi ini," ujar Megan seraya mengangkat tangannya setinggi dagu.

Erysca tertawa pelan. "Aku senang melakukannya."

"Oh, iya. Kau belum bercerita kenapa kau bisa pingsan di jalan kemarin. Aku penasaran. Kau bukan buronan, 'kan?" dahi Megan berkerut.

"Tentu saja tidak! Aku sedang ada masalah. Maaf aku tidak bisa menceritakannya padamu." Erysca sedikit merengut.

"Tidak apa-apa. Itu privasimu dan aku mengerti," balas Megan tersenyum menenangkan.

"Jam berapa mata kuliah pagimu, Meg?" tanya Erysca.

Megan melotot panik. Gerakan kepalanya cepat saat menoleh ke arah jam dinding. Tanpa aba-aba dia langsung berlari ke kamarnya untuk mengambil pakaian. Erysca yang masih berada di dapur kembali melihat Megan yang berlari ke arah kamar mandi. Tertawa dan kasihan saat Megan sedikit terpeleset di pintu kamar mandi. Wanita itu menggelengkan kepala. Dia melihat ke arah jam dinding juga dan menelengkan kepalanya. Apa jamnya mati? Detik jamnya tidak bergerak.

***

Megan menghembuskan napas kasar saat memasuki mobil tuanya. Erysca duduk di kursi penumpang sebelah kemudi. Ia tertawa ketika melihat wajah masam Megan tadi setelah mandi. Gadis itu tidak menyadari jam dindingnya yang mati.

"Berangkat lebih awal tidak buruk juga, Meg," ujar Erysca menahan senyum.

Balasan Megan berupa cebikan di bibir. "Ya, nona rajin. Aku biasanya akan datang saat mendekati jam mata kuliahku saja. Malas terlalu lama berhadapan dengan orang-orang di kampusku." ia mulai melajukan mobilnya.

"Kenapa?" Erysca mulai penasaran.

Gadis di sebelahnya menunduk sejenak. Tatapannya berubah drastis. "Mereka tidak mau berteman denganku," ujarnya datar. Matanya fokus menatap jalan di depannya.

"Apa alasan mereka melakukan itu? Kau orang baik dan sepertinya tidak ada yang salah dengan kehidupanmu." Erysca berkata sedikit kesal karena tak terima dengan perlakuan teman kampus Megan.

"Aku pun merasa begitu. Aku tidak pernah berbuat sesuatu yang merugikan mereka. Tapi mereka selalu berkata jika aku ini ... gadis aneh," jawab Megan dengan nada lirih di akhir kalimat.

Hah? Apa mereka buta? Dimana letak keanehan dalam diri Megan? Apa karena Megan memiliki rambut ikal yang terlalu pendek? Atau kulitnya yang tidak putih? Tapi meskipun begitu seharusnya mereka tidak berbuat seperti itu pada Megan. Gadis itu cantik dengan freckless di wajahnya. Setiap orang pasti memiliki keunikan yang berbeda-beda.

Alpha Wenzell [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang