"Akkhh!" rasa sakit itu semakin terasa.
Erysca menggapai-gapai apa saja untuk dijadikannya pegangan agar tubuhnya tak luruh ke lantai. Napasnya kian memburu dan keringat dingin membanjiri tubuhnya. Ia berjalan tertatih menuju kamarnya. Baru beberapa langkah, ia sudah tidak kuat lagi. Tangan kanannya menekan dadanya. Berusaha menghilangkan rasa sesak itu. Gadis itu meluruh di lantai tepat saat seseorang masuk ke dalam kamarnya.
"Luna!"
Seorang omega yang baru saja masuk sangat terkejut mendapati sang Luna yang terjatuh di lantai balkon kamar. Dengan sangat cepat dia menghampiri Erysca dan membantunya berdiri kembali walaupun dengan susah payah. Wanita itu menuntunnya untuk duduk di ranjang. Membantunya bersandar pada kepala ranjang dan meluruskan kakinya yang terasa kebas.
"Apa yang terjadi? Apakah Anda masih merasa kesakitan, Luna?" tanya wanita itu khawatir.
Erysca memberi senyum menenangkan. "Aku tidak apa-apa. Mungkin hanya kelelahan karena terlalu memaksakan berjalan-jalan tadi," ujarnya lirih dengan wajah pucat.
"Kalau begitu saya akan memanggil Alpha."
Sebelum Omega itu beranjak pergi, Erysca sudah lebih dulu mencekal tangannya.
"Jangan. Jangan beritahu hal ini pada Alpha atau pada siapapun. Cukup kau saja yang mengetahuinya."
"Tapi Luna–"
"Aku percaya padamu."
Dia menatap Lunanya lama dan ragu. Akhirnya dengan sangat terpaksa dia mengangguk.
"Tetapi jika Anda merasa sakit lagi, jangan sungkan untuk meminta bantuan pada saya."
Erysca mengangguk seraya tersenyum lega. "Terimakasih."
"Sama-sama, Luna." Omega itu membalas senyumnya.
"Siapa namamu?"
"Nara."
Seakan teringat sesuatu Erysca menoleh pada wanita yang saat ini sedang memijat kakinya.
"Apa yang membuatmu kemari, Nara?"
Nara mendelik kaget dengan mulut terbuka. "Ya Tuhan! Maafkan saya. Saya lupa karena terlalu khawatir dengan kondisi Anda tadi. Saya kemari untuk memberitahu jika Luna Clara berkunjung kemari dan ingin menemui Anda." dia berujar cepat dan panik.
Erysca mengusap lengan atas Nara. Memberitahu wanita itu jika kesalahannya tidaklah fatal.
"Tidak masalah, Nara. Kau tidak perlu takut dan panik karena lupa menyampaikan hal itu. Dan terimakasih karena sudah mengkhawatirkanku."
Nara mengangguk ragu. Namun tatapannya masih menyiratkan ketakutan.
"Sekarang tolong panggilkan Clara kemari," pinta Erysca.
"Baik, Luna." Nara beranjak keluar kamar untuk melaksanakan perintahnya.
Beberapa menit kemudian pintu kembali dibuka. Clara masuk dengan senyum lebarnya. Dia berlari kecil ke arah Erysca. Duduk di tepi ranjang dan memeluk sahabatnya itu dengan erat seolah sudah tak bertemu bertahun-tahun.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Clara setelah melepaskan pelukannya.
"Sangat baik. Bukannya kau seharusnya sedang berbulan madu? Kenapa sekarang kau kemari?"
Clara mengerucutkan bibirnya kesal. "Aku membatalkannya saat tahu kalau kau diculik. Aku mencuri dengar pembicaraan Alex dan salah seorang Warrior dari pack ini yang menyampaikan berita itu. Alex juga melarangku untuk ikut membantu mencarimu waktu itu," ujarnya menggebu.
Erysca hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Itu karena Alex tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu." Clara menjawab dengan anggukan.
"Sepertinya aku akan menunda bulan maduku untuk beberapa hari kedepan," katanya yang membuat Erysca mengernyit bingung.
"Kenapa?"
"Aku harus membantumu untuk menyiapkan beberapa hal."
"Aku?" Erysca menunjuk dirinya sendiri.
Clara mengangguk antusias dengan senyum lebar. "Iya. Intinya, mulai besok aku akan menemanimu pempersiapkan acara pernikahan dan pengangkatanmu sebagai Luna.
"APA?!"
Clara tersentak kaget medengar teriakan Erysca. Dahinya mengernyit bingung.
"Kapan acara itu dilaksanakan?"
"Hm ... yang kudengar satu minggu dari sekarang," jawab Clara. "Apa Wenzell tidak memberitahumu tentang hal ini?"
Erysca menggeleng pelan, tatapannya masih menyiratkan kebingungan.
Clara mendengus. "Pria itu benar-benar," gumamnya lirih. "Sebenarnya aku juga terkejut saat Wenzell mengatakan hal ini secara mendadak. Acara yang seharusnya dilaksanakan satu bulan lagi akan dimajukan menjadi satu minggu dari sekarang. Dia sudah mengadakan rapat bersama para tetua di pack ini. Mereka menyetujui usul Wenzell mengingat kondisimu dan musuhnya di luaran sana yang semakin menjadi."
Erysca hanya diam memikirkan itu semua. Dia merasakan sepasang tangan menggenggam tangannya dan mengusap lembut. Pandangannya yang semula menunduk beralih ke arah sahabatnya.
"Wenzell mengatakan itu adalah jalan terbaik. Jika kau sudah menjadi istri atau Luna di pack ini secara resmi, maka kau akan memiliki kekuasaan penuh untuk menjaga dirimu dan ikut andil menjaga pack."
Gadis itu masih belum menjawab. Pikirannya berkecamuk. Apakah saat ini keadaan sedang genting? Apa yang ia lewatkan saat tidak sadarkan diri? Seperti apa musuh Wenzell? Dan berbagai pertanyaan menari-nari di pikirannya bersama kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin akan terjadi.
Clara tersenyum lembut. "Kau tidak perlu khawatir. Wenzell tidak akan membiarkanmu dalam bahaya. Anggota pack juga akan selalu menjagamu. Dan masih ada aku, Alex, dan bibi Greta yang selalu di sampingmu."
Erysca terharu mendengar penuturan Clara. Ia mendekat untuk memeluk sahabatnya itu. Ia percaya pada Clara. Gadis itu sudah melalui berbagai macam masalah dan bertemu dengan musuh-musuh Alex sehingga menjadikannya Luna yang kuat. Dia harus bisa menjadi seperti Clara dan Luna lain di luar sana, yang tetap berada di samping Alphanya apapun yang terjadi. Mereka yang menjadi musuhnya hanya menjadi batu sandungan untuk kehidupannya dan kehidupan packnya. Itu adalah ujian. Dan dirinya bersama Wenzell yakin dapat menghadapi hal itu bersama-sama.
***
Tbc.
H
alo gais.. ehe
Maaf lama gak update. Beberapa hari kemarin ada uco dan aku gak punya paketan, hehe. Jadi ya baru bisa update sekarang. Ini part terpendek :(
Buat yang tanya Vasilissa Mou mau diupdate lagi atau enggak. Kayaknya enggak ya (atau mungkin cuma beberapa, tapi gak janji). Soalnya mau langsung aku terbitin aja :)
KAMU SEDANG MEMBACA
Alpha Wenzell [Completed]
WerewolfSpin-Off #2 My Beloved Mate Saat dirinya telah merasakan segalanya sudah lengkap. Tak ada lagi hampa atau dusta. Saat hidupmu adalah hidupnya. Dan hidupnya adalah hidupmu pula. Saat dirinya merasa benar-benar sudah menemukan orang yang tepat untuk m...
![Alpha Wenzell [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/174896462-64-k600661.jpg)