[8] Gadfly (2)

2.7K 257 29
                                        

Wenzell's POV

Suasana mansion benar-benar kacau pagi ini. Ini adalah hari kedua setelah Erysca dinyatakan hilang dan belum pulang. Sampai sekarang pun kami belum menemukan dimana keberadaan mateku. Bibi Greta juga semakin sedih. Wanita itu berharap banyak pada misi pencarianku untuk menemukan keponakannya.

Clara masih belum mengetahui mengenai hal ini. Berbeda halnya dengan Alex. Pria itu udah tahu karena aku membutuhkan bantuannya juga untuk mencari Erysca. Tetapi aku dan Alex sepakat untuk tidak memberi tahu Clara tentang masalah hilangnya Erysca.

Aku tidak mau terus-terusan hanya mengandalkan anggota packku dan beberapa anggota pack Alex. Sejak kemarin aku sudah turun tangan langsung. Namun hasilnya nihil. Erysca tetap tak ditemukan. Setiap jamnya perasaan khawatirku bertambah.

Siang ini aku bersama Delta Tavien pergi ke tempat dimana Erysca bekerja. Kami akan menanyakan beberapa hal pada teman-teman mateku. Atau mencari jejak di sepanjang jalan dimulai dari toko bunga sampai rumah Erysca. Mungkin kami akan menemukan suatu petunjuk.

Polisi dan mata-mata yang aku ajukan untuk membantunya pun tidak berhasil. Jika manusia-manusia itu tidak bisa mendapatkan petunjuk apapun, itu artinya bisa jadi ini bukan ulah manusia, 'kan?

Tapi siapa?

Seingatnya, semenjak Damia meninggal, hal-hal aneh tidak kembali muncul mengganggu kehidupanku. Atau mungkin ulah Rogue? Aku pun tidak tahu.

"Sekarang kita akan kemana, Alpha?" suara Tavien yang duduk di kursi kemudi membuyarkan lamunanku.

Aku berdehem. "Kita ikuti jalur ke arah rumah Erysca," jawabku tenang.

Setelah menanyakan beberapa hal pada teman-teman Erysca kami melanjutkan pencarian. Mereka tidak tahu keberadaan mateku setelah jam pulang kerja. Saat menanyakan tentang Erysca pun mereka justru panik dan sangat khawatir. Dan itu tidak membantuku sama sekali.

Aku lihat Tavien mengangguk patuh kemudian melajukan mobil meninggalkan pelataran toko bunga dimana mateku bekerja. Tavien melajukan mobil dengan kecepatan sangat rendah. Pandanganku mengedar ke segala arah. Begitu pula dengan Tavien. Sesekali aku menghirup udara seperti mengendus, berharap ada sisa-sisa aroma mateku yang tertinggal.

Mobil yang kami naiki berjalan pelan di jalan pinggir hutan. Dari jendela mobil, sekilas aku melihat seseorang berdiri di balik pohon. Namun secepat aku mengedipkan mata orang itu menghilang. Aku mengernyitkan dahi.

"Hentikan mobilnya, Tav," perintahku tanpa menoleh ke arah Tav.

Tatapanku terus mengarah pada seseorang itu yang kembali muncul di balik pohon yang berbeda. Tidak jelas bagaimana rupa wajahnya karena orang itu memakai jubah hitam dengan tudung. Hal itulah yang membuatku penasaran. Apa dia seorang witch? Seingatku witch di wilayah ini sudah dibantai habis oleh packku dan pack Alex sejak kejadian sewaktu Clara diculik.

Aku masih sangat ingat. Tempat ini adalah tempat dimana menara milik Damia yang sekarang sudah hancur. Sejak saat itu aku yakin tidak seorangpun yang menginjakkan kakinya kembali kemari. Apalagi manusia, mereka mempercayai jika hutan ini berhantu.

Setelah Tavien menepikan mobilnya, dengan terburu-buru aku keluar dari mobil. Mengabaikan seruan dari Tavien yang bertanya apakah ia diharuskan ikut atau tidak.

Seseorang itu terus berlari semakin ke dalam hutan yang lebat dan aku terus mengikutinya. Gerakannya sangat lincah. Aku sangat yakin kalau dia adalah seorang witch. Aromanya tidak tercium, dia pasti menghilangkannya.

Langkah kaki semakin ku percepat untuk menyusulnya. Sedikit lagi aku berhasil menangkapnya. Namun seseorang yang lain tiba-tiba muncul di hadapanku. Reflek aku berhenti dan bergeming di depan orang itu.

Alpha Wenzell [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang