[2] Gadfly

5.9K 479 6
                                        

Cuaca sangat cerah siang ini. Lebih tepatnya siang yang panas. Pada waktu-waktu seperti ini biasanya orang-orang akan lebih memilik ke taman untuk sekedar membeli es krim atau minuman dingin. Teriknya sinar matahari adalah sarana yang cocok untuk menghitamkan kulit.

"Erysca! Bisa kau antarkan bunga-bunga ini?" pinta Clara.

Erysca yang semula sedang menata pot di pojok ruangan beralih menghampiri Clara.

"Ada berapa rumah yang harus aku kunjungi?" tanya Erysca.

Clara melihat buku pesanannya. "Ada delapan pesanan yang harus diantarkan hari ini."

Erysca mengangguk. "Aku akan mengantarkannya."

Gadis itu membersihkan tangannya kemudian pergi keluar toko. Di depan toko itu sudah ada sepeda mini putih. Keranjang depan dan belakangnya terisi penuh oleh bunga-bunga segar.

"Hai, Erysca." sapa seseorang.

Erysca menoleh dan tersenyum. "Hai, Lex. Mau bertemu Clara?"

Alex mengangguk dan tersenyum cerah, secerah matahari siang ini. Laki-laki itu tidak pernah absen setiap Clara bekerja di toko bunga ini.

"Dia ada di dalam, sedang merangkai bunga," ujar Erysca.

"Aku tahu dia di dalam." Alex membalas seraya menunjuk hidung bangirnya. Senyum lebarnya belum pudar.

Erysca tertawa pelan. "Ya ya, aku tahu. Tidak perlu sombong seperti itu."

Alex terkekeh geli.

"Aku pergi dulu, Lex."

"Ya. Hati-hati di jalan."

Gadis itu mengangguk. Kemudian menaiki sepedanya dan mulai mengayuh menjauhi toko.

Meskipun terik matahari menyengat kulit, Erysca tetap mengayuh sepedanya dengan semangat. Semilir angin berhembus pelan menerpa wajah dan rambutnya yang terurai.

Lima belas menit berlalu. Masih ada lima bunga yang belum ia antarkan. Ia berhenti di tepi jalan karena akan menyeberang. Rumah orang yang memesan bunga ada di seberang jalan itu. Setelah memastikan aman, ia akan mengayuh sepedanya.

Tetapi justru sebuah mobil menyerempetnya dengan tiba-tiba sampai dirinya dan sepedanya terjatuh. Mobil itu melaju dengan sangat cepat tadi.

"Akh! Kurang ajar!"

Erysca jatuh terduduk dengan siku yang menopang tubuhnya. Tangan dan kakinya terluka.

"Nona, apa kau tidak apa-apa?"

Seorang wanita paruh baya menghampirinya dan membantunya berdiri.

"Oh, tidak apa. Hanya lecet sedikit," jawab Erysca seraya tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Kakinya terkilir, mungkin akan meninggalkan lebam.

Mobil yang tadi menyerempetnya berjalan mundur dan menghampiri Erysca yang berdiri di tepi jalan bersama seorang wanita.

Wanita tadi sepertinya bersiap memarahi pria yang baru saja keluar dari mobil mewahnya. Tetapi Erysca menahan wanita itu dan mengatakan jika semuanya baik-baik saja. Semua ini adalah masalahnya bersama pria itu. Akhirnya wanita itu pergi setelah Erysca memberi pengertian.

Erysca berkacak pinggang dan menatap garang pria berjas di depannya. Bahkan pria itu tidak berinisiatif meminta maaf lebih dulu.

"Kau harus bertanggung jawab, Tuan. Semua bungaku rusak! Sepedaku juga rusak! Bisakah kau mengendarai mobil tidak seperti orang kesetanan? Atau matamu rabun?!" cecarnya. Cuaca panas membuat pikirannya semakin panas.

Alpha Wenzell [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang