[15] Enigma

1.6K 163 3
                                        

Selama perjalanan pulang Erysca hanya diam. Tak berkata apapun meski Clara terus berceloteh. Tatapannya murung mengarah ke luar jendela mobil. Kedua tangannya saling meremas di pangkuannya.

"Kau kenapa?" tanya Clara saat melihat sahabatnya itu tak bersuara. Tak seperti biasanya.

Erysca hanya menggeleng pelan dengan senyum yang dipaksakan. Clara menatapnya skeptis, namun ia berusaha percaya. Mungkin Erysca sedang dalam mood yang tidak baik.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di mansion. Satu pria membukakan pintu mobil untuk Erysca. Sedangkan Clara kembali melanjutkan perjalanan ke packnya.

Gadis itu memasuki mansion. Dia melihat Wenzell sedang berbincang dengan Samuel dan dua pria lainnya. Samuel yang memang berdiri menghadap ke arahnya membungkuk hormat. Kemudian barulah Wenzell yang berdiri membelakanginya, membalikkan tubuh untuk menghadapnya.

Dia mendengar Wenzell menyuruh Samuel dan dua pria tersebut untuk meninggalkannya dengan Wenzell–yang langsung dituruti oleh mereka. Namun tatapan mata sang Alpha tak lepas dari wajahnya. Hal itu membuatnya gugup.

Erysca berjalan pelan mendekati Wenzell. Pria itu masih tak berkata apapun meski dirinya sudah berdiri di hadapan Sang Alpha. Wenzell mengulurkan tangannya dan mengambil sejumput rambut Erysca. Kemudian beralih menangkup sebagian wajah gadis itu dengan telapak tangannya yang besar dan hangat. Mengusap pipinya dengan lembut. Wenzell menundukkan wajahnya dan menghirup aroma memabukkan dari rambut matenya.

"Beautiful," bisik Wenzell yang mampu membuat Erysca merona malu.

Wenzell kembali mengangkat kepalanya. Menatap wajah matenya tanpa bosan dengan senyum yang terus mengembang. Erysca bernapas lega karena penampilan barunya tak membuat Wenzell marah.

"Kau suka?" tanya Erysca sambil tersenyum sangat manis.

Hanya dengan senyum itu mampu membuat Wenzell diam tak berkutik. Wenzell mengernyit bingung setelahnya, tak paham dengan kata suka yang dimaksud oleh matenya ditujukan untuk apa. Lengkungan indah bibir matenya benar-benar membuat koneksi otaknya bekerja lambat.

Erysca berkacak pinggang dan sedikit memutar bagian atas tubuhnya.

"Penampilan baruku, kau suka?" tanya gadis itu lagi.

Wenzell menarik lembut lengan matenya supaya lebih mendekat. Kemudian melingkarkan lengan kekarnya di pinggang ramping gadis itu.

"Tentu saja. Aku suka apapun dan bagaimanapun dirimu. Kau terlalu cantik. Aku jadi tidak rela jika ada pria lain yang melihatmu," ujar Wenzell seraya mendesah nelangsa.

Erysca sontak saja memukul lengan pria itu. "Jangan bercanda."

"Aku tidak bercanda." wajah Sang Alpha tampak memelas.

Gadis itu hanya memutar bola matanya malas. Wenzell terlalu berlebihan. Dia lalu menangkup kedua sisi wajah Wenzell dan berjinjit. Kemudian menempelkan bibir mereka hanya sebentar.

"I'am yours."

Wenzell hanya diam dengan tatapan tak lepas dari wajah Erysca. Matanya yang berwarna ruby seakan berbinar senang. Terlihat menggemaskan. Pria itu tak pernah menunjukkan ekspresi seperti itu selain pada matenya.

"Bagaimana gaun pernikahannya?" tanya Wenzell.

Dan pertanyaan itu membuat senyum Erysca memudar perlahan. Wajahnya tiba-tiba tampak murung dan gadis itu menunduk seraya memainkan jemarinya. Hati dan pikirannya mendadak gelisah mengingat tentang gaun pernikahan. Pikirannya kembali melayang pada peristiwa saat dirinya memakai gaun itu di butik tadi.

Alpha Wenzell [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang