Spin-Off #2 My Beloved Mate
Saat dirinya telah merasakan segalanya sudah lengkap. Tak ada lagi hampa atau dusta. Saat hidupmu adalah hidupnya. Dan hidupnya adalah hidupmu pula.
Saat dirinya merasa benar-benar sudah menemukan orang yang tepat untuk m...
"Sam. Persiapkan penerbanganku untuk besok." pria tersebut mengirim mindlink pada Sang Beta.
"Baik, Alpha." Setelah mendapat balasan, Wenzell memutus mindlink mereka.
Saat ini Wenzell sedang berdiam diri di rumah kecilnya di tepi jurang. Kedua tangannya ia tumpukan pada tepi jendela yang terbuka lebar.
Rumah tersebut sangat terpencil. Pintu utamanya menyuguhkan pemandangan tepi jurang ketika terbuka. Di dalamnya terdapat ruang tamu yang tak lebih besar dari kamar mandi di mansion. Dua kamar dengan masing-masing kamar mandi di dalamnya. Lalu dapur kecil yang menjadi satu dengan ruang makan. Dan terakhir adalah ruang kerja minimalis. Perabotannya pun hanya sedikit. Namun banyak sekali foto Lunanya terpajang.
Memandangi hutan luas seperti ini sudah menjadi rutinitasnya semenjak empat tahun yang lalu. Dia lebih sering berada di rumah kecilnya ini daripada di mansion. Karena di sini dia bebas akan melakukan apapun tanpa membuat semua orang merasa iba dan menatapnya kasihan.
Menangis keras, meraung, menghancurkan barang apapun sudah biasa ia lakukan. Meskipun beberapa bulan terakhir ia tidak melakukannya lagi. Dia mencoba untuk membuka pikiran dan hatinya. Namun tetap sulit. Sangat.
Semuanya sangat berbeda semenjak kepergian matenya. Ia lebih sering diam dan menyendiri. Sempat berusaha untuk bunuh diri beberapa kali, yang selalu berhasil digagalkan. Ia frustasi dan marah setiap kali bawahannya tak berhasil mendapatkan informasi apapun mengenai Erysca. Mereka juga sempat mencari penyihir hitam yang menjadi pengikut Damia. Namun dia selalu lolos.
Wenzell menghela napas panjang. Walaupun di dalam pikirannya hanya ada bagaimana cara menemukan mate-nya, dia tetap tidak boleh lengah pada packnya. Dia adalah Alpha. Banyak nyawa bergantung padanya.
Ia beranjak dari tempatnya dan berpindah. Berdiri di depan lukisan cukup besar yang terpajang di kamarnya. Lukisan yang selalu membuatnya semakin merindukan wanita itu. Istrinya. Tangannya bergerak menyentuh lukisan tersebut dengan sangat hati-hati. Jari-jarinya menyusuri wajah cantik itu seakan ia benar-benar menyentuh wajah istrinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tanpa sadar setitik air mata keluar dari pelupuk matanya. Disusul titik air mata lain yang kini membasahi pipi tirus pria itu. Tangannya yang semula menyentuh wajah lukisan istrinya mengepal dan ia letakkan di depan bibirnya untuk menahan isakan. Ia mendongakkan kepala berharap air mata yang terus-menerus mengalir itu berhenti.
Wenzell menghela napas kasar untuk menghentikan air matanya. Tenggorokannya sedikit sakit. Ia kembali berjalan menuju ruang kerjanya. Dirinya butuh pengalihan supaya tidak terlalu berlarut-larut dalam kesedihan. Kemudian setelah itu ia akan mempersiapkan barang-barang yang akan dibawanya untuk besok.
***
Besoknya Wenzell melakukan penerbangan saat pagi hari. Setelah berjam-jam berada di dalam pesawat pribadi. Akhirnya Wenzell bersama beberapa orang kepercayaannya sampai di tempat tujuan. Kota kecil yang makmur. Dia dan yang lainnya menaiki mobil untuk ke hotel tempat mereka menginap selama beberapa hari.