"Sea!" lengkingan suara gadis itu terdengar di penjuru apartemennya.
Sekali lagi ia memekik gemas. "Dimana kau bocah nakal?!"
Suara langkah kakinya berderap cepat menuju ke arah ruang tengah. Ia melihat sepatu kecil bergerak-gerak dari balik sofa. Senyumnya mengembang. Gadis itu pura-pura berjalan ke sekitar.
"Dimana kau Sea~?" tanyanya dengan akhiran bernada.
Ia berjalan sangat pelan tanpa bersuara. Mengendap-endap dari arah belakang anak itu yang bersembunyi. Sebelum anak itu berdiri dan kabur, ia langsung meraupnya ke dekapan dan menggelitiki pinggangnya. Suara tawa khas anak kecil berbaur dengan kekehan gadis itu.
"Ha! Dimana kau menyembunyikan handphoneku, Sea?!"
"Hentikan, bibi ... Megan!"
Bocah yang dipanggil Sea itu mendorong kuat gadis yang menggelitiki pinggangnya. Napasnya memburu. Megan terjengkang ke belakang dengan bertopang kedua tangannya yang menekuk. Wajahnya tampak meringis.
"Aakh, apa yang bocah itu makan sampai tenaganya sekuat ini," gumam Megan lirih.
Sea terkikik geli melihat Megan yang duduk di karpet. Megan mendelik kesal ke arah anak laki-laki yang berdiri menjulang di depannya.
"Dimana kau sembunyikan handphoneku, Sea!" geram Megan setelah dirinya berdiri tegak sambil berkacak pinggang.
"Aku tidak tahu." Sea mengedikkan kedua bahu kecilnya.
Megan menatap Sea skeptis. Meneliti wajah rupawan anak itu. Dia jadi berpikir, setampan apakah ayahnya sampai Erysca bisa melahirkan anak dengan wajah bak Dewa Yunani tersebut. Meskipun masih berumur lima tahun. Anak laki-laki dengan nama Ocean Moore Arcturus itu sudah menunjukkan gurat-gurat adonisnya. Panggilannya Sea—tidak mau dipanggil Sean karena seperti nama anjing cihuahua nakal milik teman sekolahnya. Matanya berwarna biru gelap seperti sang Ibu.
Masih dengan wajah curiga, Megan mengulurkan tangan kanannya dan menengadahkan telapak tangan. Memberi gestur meminta.
Sea menghela napas pasrah. Dia mengeluarkan benda pipih dari kolong meja yang tadi menjadi tempatnya bersembunyi. Megan hanya menggelengkan kepala. Sea sudah sering mengerjainya, lebih sering mengambil handphonenya. Lalu mengirim pesan random ke nomor yang ada di kontak. Itu cukup membuat Megan kalang kabut.
Dengan senyum puas Megan menggenggam erat handphonenya. Ia menyalakan benda itu dan melihat apakah ada hal yang mencurigakan. Matanya mendelik, mulutnya menganga, dan dengan gerakan cepat menatap Sea yang ternyata sudah kabur dari hadapannya. Suara tawa Sea terdengar menyebalkan.
"SEAAA! Awas saja, aku tidak akan mentraktirmu makan es krim lagi!"
***
"Mama!" Sea memeluk pinggang Ibunya yang baru saja pulang bekerja saat malam hari.
Erysca menunduk dan mencium kedua pipi gembil anaknya dengan gemas. Lalu mengusap rambutnya. Anak itu otomatis membawakan plastik yang tadi Ibunya bawa. Erysca tersenyum lembut melihat itu.
"Kau tidak nakal dan menyusahkan bibimu lagi, 'kan?" tanya Erysca seraya berjalan mengikuti Sea menuju dapur.
"Tidak. Aku selalu menjadi anak baik Mama."
Terdengar decihan dari arah belakang. Erysca dan Sea menoleh. Megan datang dengan penampilan berantakan. Rambutnya acak-acakan, bajunya miring sana-sini, dan wajahnya tampak masam.
"Kau selalu bertingkah manis di depan Ibumu saja." Megan mendekati kulkas dan mengambil air minum dingin. Menegak langsung dari botolnya.
"Dia tadi mengambil ponselku lagi dan mengirim pesan tidak jelas pada nomor Jeffrey." matanya melirik pada Sea yang berdiri tenang di sebelah Erysca.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alpha Wenzell [Completed]
Hombres LoboSpin-Off #2 My Beloved Mate Saat dirinya telah merasakan segalanya sudah lengkap. Tak ada lagi hampa atau dusta. Saat hidupmu adalah hidupnya. Dan hidupnya adalah hidupmu pula. Saat dirinya merasa benar-benar sudah menemukan orang yang tepat untuk m...
![Alpha Wenzell [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/174896462-64-k600661.jpg)