[33] Megan Lewis

1.2K 129 2
                                        

Erysca menggerakkan kedua bola matanya. Kelopaknya perlahan terbuka. Pertama kali yang dilihatnya adalah langit-langit ruangan. Ia menghela napas pelan dengan mata yang kembali memejam sesaat untuk mengusir rasa pusingnya.

Kepalanya menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka. Penglihatannya yang tadinya memburam sekarang mulai normal. Seorang gadis berambut ikal pendek berjalan mendekati ranjang yang ditempatinya. Gadis itu tersenyum kearahnya.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya gadis itu dengan senyum ramah.

Erysca mengernyit bingung tetapi kemudian menjawab. "Sedikit pusing," ujarnya lirih.

Gadis itu duduk di tepi ranjang. "Kemarin aku menemukanmu yang tergeletak di pinggir jalan di ujung kota. Maaf aku tidak bisa membawamu ke rumah sakit. Aku belum mendapat gaji untuk bulan ini dan tabunganku sudah terpakai untuk membayar biaya kuliah." ia bercerita tanpa diminta.

Erysca mencoba untuk duduk dibantu oleh gadis tadi. Lalu menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Dia menunduk sebentar.

"Terimakasih banyak. Maaf aku sudah merepotkanmu," ujar Erysca merasa bersalah.

"Tidak masalah. Ah, ya. Namaku Megan Lewis. Siapa namamu?" Megan mengulurkan tangannya dengan semangat.

Tanpa ragu Erysca menyambut uluran tangan tersebut sambil tersenyum. "Erysca Francia."

"Baiklah, Erysca. Tunggu di sini sebentar. Aku akan mengambilkanmu makan dan obat," ujar Megan.

Tanpa menunggu balasan dari Erysca gadis itu sudah lebih dulu berlari keluar kamar. Sedangkan Erysca meringis merasa malu dan tak enak karena lagi-lagi sudah merepotkan orang asing. Beberapa menit kemudian Megan kembali dengan nampan di tangannya.

"Ini makanlah lalu minum obatnya. Sekali lagi aku minta maaf karena tidak bisa membawamu ke rumah sakit. Obat ini rekomendasi dari kakak temanku yang seorang dokter, dan aku membelinya di apotek." Megan meletakkan nampan di meja nakas di samping tenpat tidur. Mengambil mangkuk berisi bubur hangat dan menyerahkannya pada Erysca.

"Tapi kalau kau merasa belum sehat dan ingin ke rumah sakit aku bisa mengantarmu ke sana. Aku akan meminta keringanan waktu pembayaran pada kakak temanku itu kalau bisa," kata Megan lagi dengan cengiran. Sepertinya gadis ini cukup cerewet.

Gelengan Erysca menjadi penolakan halus. "Tidak usah, Megan. Aku baik-baik saja. Seharusnya aku yang minta maaf. Kita baru kenal tapi kau sudah sebaik ini padaku."

Megan mengangguk kecil. Atensinya beralih pada jam di tangannya. "Aku harus pergi. Ada mata kuliah setengah jam lagi. Aku juga harus menyelesaikan beberapa tugas dengan teman-teman. Kau tidak apa-apa kan kalau kutinggal?"

"Tidak masalah. Jam berapa kau akan pulang?"

"Mungkin enam sore. Daah ... aku pergi dulu."

Setelah mendapat persetujuan Erysca, Megan mengambil tasnya lalu melambaikan tangannya pada Erysca. Kemudian keluar kamar dan pergi ke kampusnya.

Erysca segera menghabiskan makan dan obat tadi. Lalu membawa peralatan makannya yang kotor ke dapur apartemen Megan. Dia mencucinya sampai bersih bersama dengan cucian kotor lainnya di wastafel itu. Apartemen Megan tergolong kecil. Namun terlihat nyaman. Erysca berinisiatif untuk membersihkan apartemen ini sebagai tanda terimakasih.

Wanita itu dengan cekatan menyapu dan mengepel lantai. Mengelap meja beserta barang-barang yang terlihat kotor dan berdebu. Sepertinya Megan belum sempat membersihkan apartemennya. Buku-buku juga terlihat berserakan di meja ruang tengah. Erysca juga menatanya di atas meja tersebut untuk sementara karena dia tidak tahu dimana letak sebenarnya buku-buku itu.

Alpha Wenzell [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang