"Mama tidak lelah?" suara khas anak laki-laki menginterupsi Sang Luna yang sedang menyiram bunga di taman. Itu adalah pertanyaan yang ke sebelas sejak dirinya berada di taman ini satu jam yang lalu.
Erysca menoleh sebentar seraya tersenyum. "Tidak. Mama senang melakukan ini."
"Tapi kalau Ayah tahu Mama tidak beristirahat di kamar, dia pasti marah." Sea berjalan mendekati ibunya.
"Mama sudah beristirahat terlalu lama, sayang. Lagipula rasanya bosan jika terus berada di dalam kamar," ujar Erysca keras kepala. Sea cemberut mendengarnya.
"Ayahmu tidak akan marah kali ini."
"Kata siapa?" Sea dan Erysca sontak menoleh bersamaan ke arah pintu masuk taman.
Disana seorang pria berdiri sambil bersedekap dada. Kedua mata tajamnya menatap lurus ke arah Sang Luna yang berdiri kaku. Sea yang merasakan aura ayahnya menyeramkan pun hanya bisa melirik takut.
"Kau lupa dengan apa yang aku katakan sebelum pergi?" Wenzell berjalan tegap ke arah Erysca dan Sea.
Erysca menelan ludahnya gugup. "A-aku ingat. Hanya saja, aku bosan terus-terusan di kamar. Aku juga butuh udara segar dan beraktivitas," ujarnya seraya memalingkan wajah ke arah lain.
Sea menatap perdebatan orangtuanya dalam diam. Namun lama-kelamaan dia merasa jika ia tidak perlu ikut campur. "Sepertinya aku harus pergi. Bye!" ia berlari pergi dengan sangat cepat.
Erysca menatap sinis ke arah perginya Sea. Anak itu, bukannya membela justru melarikan diri. Huh. Wanita itu kembali menatap Wenzell yang ternyata sudah berdiri tepat di depannya. Sangat dekat.
Lama mereka hanya saling diam. Wenzell tidak melepaskan pandangan dari wajah mate-nya sedetik pun. Terdengar helaan napas kasar keluar dari mulut Wenzell. Tatapan yang semula tajam kini melembut melihat wajah murung wanitanya. Sebelah tangannya mengusap pipi Erysca dan menyelipkan helai rambut wanita itu ke belakang telinga. Membuat Erysca mendongak.
"Kau tahu betapa paniknya aku saat tidak menemukanmu di kamar? Aku hanya takut sesuatu yang buruk terjadi lagi, sayang. Baru saja kemarin kau pingsan karena kelelahan," ucap Wenzell dengan lelah.
Dalam hati Erysca merasa bersalah sudah membuat suaminya khawatir. Beberapa Omega tadi sudah melarangnya. Namun ia tetap keras kepala ingin keluar kamar padahal dokter pack melarangnya beraktivitas untuk beberapa hari ke depan.
Wenzell berlutut di depan Erysca. Wajahnya tepat berada di depan perut wanita itu yang membuncit.
"Sayang, bilang pada mamamu untuk menuruti ucapan ayah dan dokter ya." Wenzell tersenyum seraya mengusap perut Erysca. Sebagai penutup, pria itu memberi kecupan ringan di sana.
Keduanya tertawa saat merasakan pergerakan calon bayinya. Anak itu menendang tepat di telapak tangan ayahnya yang menempel pada perut Erysca. Wenzell kembali berdiri.
"Kali ini saja jangan keras kepala. Setelah kau sudah benar-benar baik, kau boleh pergi kemanapun, hm."
Erysca mengangguk dengan senyum manisnya. Ia melingkarkan tangannya pada pinggang Wenzell dan memeluk pria itu. Sang Alpha membalas pelukan wanitanya dengan sangat hati-hati. Lalu mencium kepala Erysca beberapa kali.
Dua tahun berlalu sejak perginya Damia. Sea yang sekarang sudah berumur tujuh tahun sebentar lagi akan mempunyai adik. Usia kandungan Erysca yang saat ini menginjak tujuh bulan sering sekali membuatnya khawatir. Selain itu tingkah laku dan kekeraskepalaan mate-nya juga membuat seisi pack panik bukan main. Apalagi akhir-akhir ini pekerjaannya semakin menumpuk, sehingga tidak setiap saat ia bisa berada di sisi wanita itu. Jadi yang bisa ia lakukan hanya memerintahkan Sea untuk menjaga Ibunya ketika ia pergi.
"Sekarang, ayo kembali ke kamar."
Erysca memekik kala Wenzell menggendongnya tiba-tiba. Tanpa menolak ia melingkarkan tangannya pada leher pria itu. Wenzell menyempatkan mengecup bibir Erysca sebelum berjalan menuju kamar mereka.
***
Sea pergi saat kedua orangtuanya sibuk berdebat tadi. Anak laki-laki itu sedang berjalan-jalan di tengah hutan yang masih dalam kawasan pack ayahnya. Kepalanya mendongak ke arah langit. Panas terik matahari tidak terlalu ia rasakan karena rimbunnya pepohonan.
Suara tangisan yang tersedu-sedu membuat Sea sedikit kaget. Tanpa rasa takut sama sekali ia mendekati asal suara yang ternyata berada di balik semak-semak. Langkahnya semakin mendekat. Sea terbelalak melihat seorang anak kecil perempuan duduk meringkuk sambil menangis. Seketika rasa iba mencuat dalam dirinya.
"Hei."
Gadis kecil itu tersentak kaget dan refleks menoleh ke arah Sea. Wajah dan tubuhnya kotor. Rambut panjangnya sudah tidak tertata. Mata bulatnya yang berlinang air mata membuat Sea semakin merasa kasihan. Kenapa gadis manusia berada di tengah hutan seperti ini?
"Kenapa kau bisa di sini?" tanya Sea yang mencoba mendekati gadis itu dengan perlahan. Ia tidak mau membuat anak kecil itu ketakutan.
Gadis kecil itu tidak langsung menjawab. Sepertinya ia ragu karena Sea adalah orang asing. Namun mendengar suara halus Sea membuat rasa takutnya berkurang.
"A-aku tersesat," jawabnya parau.
Sea menggaruk rambutnya bingung. Dia sempat berdiskusi sebentar dengan Wayne. Tetapi serigalanya itu pun sama bingungnya. Warrior penjaga perbatasan ada beberapa kilometer dari sini. Terlalu lama jika dirinya harus meminta bantuan mereka.
"Ayo, aku akan memberitahumu jalan keluarnya." Sea menjulurkan tangan.
Gadis kecil itu hanya menatap Sea bingung, matanya berkedip lucu. "Kau tau jalannya?"
Sea mengangguk semangat. "Ya."
Kemudian tangan kecil itu menyambut tangan Sea. Dia mencoba untuk berdiri tetapi begitu telapaknya menjejak tanah gadis itu terpekik kesakitan. Lalu terduduk kembali.
"Kakimu sakit?"
Gadis itu mengangguk dengan wajah yang hampir menangis lagi. "Tadi terkilir," ujarnya lemah.
Sea semakin bingung. Ia pun berjongkok di depan gadis itu dengan posisi membelakanginya. "Kalau begitu naik saja ke punggungku."
"Eh? Kau bisa?" tanya gadis kecil itu dengan nada polosnya.
Sea mengangguk cepat dan tersenyum. "Tentu saja. Kata mama aku akan jadi anak yang kuat dan seorang pemimpin yang hebat!" ujarnya menggebu-gebu.
Gadis kecil itu terkikik geli. Kemudian melingkarkan tangannya ke leher Sea dan memposisikan tubuhnya. Dengan penuh kehati-hatian Sea mulai berdiri. Dia tidak merasakan beban yang terlalu berat. Tentu saja begitu, karena darah Alpha yang mengalir di tubuhnya membuat ia lebih kuat daripada anak-anak lain seusianya.
Sea berjalan tanpa halangan. Sesekali membenarkan posisi gendongan gadis ini. Dia tidak tahu siapa namanya. Namun berdekatan dengan gadis ini membuat perasaannya nyaman. Rasanya berbeda dengan saat ia bersama ibunya ketika waktu tidur tiba. Berbeda dengan saat ia berlatih dan saling berbagi cerita bersama Ayahnya. Atau saat ia bersama nenek dan bibinya. Terasa samar. Tidak bisa dijelaskan oleh anak kecil seperti dirinya. Ia tidak mengerti. Mungkin ia bisa bertanya pada ibunya nanti.
***
T H A N K Y O U
❤️❤️❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
Alpha Wenzell [Completed]
WerewolfSpin-Off #2 My Beloved Mate Saat dirinya telah merasakan segalanya sudah lengkap. Tak ada lagi hampa atau dusta. Saat hidupmu adalah hidupnya. Dan hidupnya adalah hidupmu pula. Saat dirinya merasa benar-benar sudah menemukan orang yang tepat untuk m...
![Alpha Wenzell [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/174896462-64-k600661.jpg)