[30] Eve

1.2K 162 19
                                        

VOTE KOMEN ATAU AKU UNPUB CERITA INI 👿






































Becanda deng..
Eh tapi vote komennya beneran pokoknya 😤

***

Terbangun saat pagi hari di tengah hutan tentu membuat siapapun bingung. Terutama wanita yang baru saja membuka kelopak matanya itu. Kedua matanya mengerjap selama beberapa saat. Kepalanya terasa sakit dan tenggorokannya seperti tercekik. Keningnya berkerut dalam ketika menyadari sesuatu.

Kedua tangannya menumpu pada tanah yang penuh dengan daun-daun kering. Dia duduk seraya mengedarkan pandangan. Hutan ini tampak asri. Suara kicau burung menandakan ada kehidupan lain di sini. Sinar matahari masuk melewati celah-celah pepohonan lebat.

Dia menoleh ke sampingnya dan terkejut saat melihat selembar foto. Tatapannya berubah sendu. Perasaan sedih kembali merayap ke dalam hatinya. Dia tidak tahu tempat apa ini. Apakah masih berada di wilayah Redmoon Pack? Apa suaminya akan mencarinya saat tahu dia menghilang?

Erysca menghela napas dalam. Foto pernikahan yang saat ini dipegangnya ia lipat dan dimasukkan ke saku dress-nya. Ini adalah satu-satunya benda yang terbawa. Dia pun tidak tahu ini sudah hari keberapa sejak penyerangan Rogue waktu itu. Apa Mayleen baik-baik saja?

Setelah berdiam diri cukup lama di bawah pohon besar. Akhirnya Erysca memutuskan untuk berjalan dan mencari jalan keluar dari hutan ini. Mungkin saja ada desa atau apapun itu. Dalam situasi seperti ini dia ingin tetap tenang dan tidak panik. Dia tidak mau gegabah dalam memutuskan sesuatu yang nantinya justru akan berakhir mengecewakan.

Kakinya yang tidak mengenakan alas terasa sakit dan perih. Pakaian yang dikenakannya masih sama seperti saat penyerangan Rogue waktu itu. Meskipun robek di beberapa bagian. Cukup beruntung karena tidak ada luka parah di tubuhnya. Berjam-jam sudah Erysca berjalan. Kedua kakinya terasa lemas dan ia kelaparan. Rambut acak-acakan dan tubuh kotor cukup untuk membuatnya terlihat seperti gelandangan.

Erysca kembali beristirahat di bawah salah satu pohon. Menyandarkan punggungnya di permukaan batang kasar itu. Ia menelan ludahnya berkali-kali untuk membasahi kerongkongannya. Kakinya ditekuk dan ia memeluknya dengan kedua tangan. Lalu menelungkupkan wajahnya dalam diam. Lama-kelamaan dia terisak dan menangis. Tangannya memukul dadanya yang terasa sesak dan nyeri. Mulutnya menyebut nama Wenzell berkali-kali. Berharap pria itu akan datang.

Isakannya terhenti saat baru menyadari ada suara gemericik air yang samar-samar. Sontak saja dia menegakkan tubuhnya lalu berdiri. Berjalan cepat ke asal suara itu. Langkahnya semakin cepat bahkan sampai berlari ketika suara airnya semakin deras. Bibir keringnya menyunggingkan senyum cerah. Dalam hati ia mengucap syukur berkali-kali karena masih diberi kesempatan untuk hidup.

Sungai di depan matanya tampak bersih. Airnya jernih dan berkilau karena tempaan sinar matahari. Erysca berjalan ke tepi sungai dan mendudukkan dirinya di sana. Dia bisa melihat bayangan wajahnya sendiri di permukaan air sungai. Tanpa membuang waktu lagi ia mengambil air tersebut dengan kedua tangan lalu meminumnya.

Erysca mendesah lega kala air segar membasahi kerongkongannya. Sekarang lebih baik. Selanjutnya dia membasuh wajah, kedua tangan dan kakinya. Sebenarnya dia ingin sekali mandi. Tetapi diurungkan karena takut ada orang lain di tempat ini.

"Siapa di sana?".

Suara renta itu membuat Erysca terlonjak kaget. Ia menoleh ke belakang dan melihat wanita tua berdiri dengan tongkat kayunya. Erysca ragu untuk menjawab. Namun mendengar pertanyaan bernada lembut untuk yang kedua kali membuatnya tersenyum tipis.

Alpha Wenzell [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang