[49] Ending

2.3K 160 21
                                        

Ketika Erysca dan Hugo mendekati mansion, suasana di sana sudah kacau. Pohon-pohon di sekitarnya roboh dan menghangus. Begitu pula dengan tanaman lainnya. Hewan-hewan liar berlari semakin masuk ke dalam hutan menjauhi mansion. Hugo menarik lengan Erysca untuk bersembunyi di balik pohon besar yang masih berdiri kokoh.

Suara teriakan dimana-mana. Anggota packnya sedang berusaha melawan makhluk-makhluk aneh berwarna hitam. Wujudnya seperti bayangan dan bentuknya bisa berubah-ubah. Mereka tampak mengerikan. Hugo kembali menarik tangan Erysca supaya mengikutinya mendekati mansion bagian dalam dengan hati-hati.

Wanita itu terkesiap dan menarik tangannya dengan kuat ketika melihat seekor serigala coklat yang amat ia kenali, baru saja terlempar dan menghantam salah satu sisi bangunan mansion.

"Xan!" tanpa berpikir panjang Erysca berlari ke arah Xan yang sedang terbaring dengan beberapa makhluk aneh di sekitarnya. Mengabaikan teriakan Hugo dan anggota packnya yang terkejut dengan kehadirannya di tengah peperangan itu.

Erysca merasakan tubuhnya terdorong ke samping dengan cukup kuat. Ia terjerembab di tanah dengan kepala yang sempat terbentur tanah keras. Kepala dan tubuhnya terasa sakit. Ia mendongak dan pandangannya langsung tertuju pada Xan yang ternyata juga sedang menatapnya. Binar terkejut terlihat jelas di kedua netra hitamnya.

"Erysca! Awas!"

Refleks Erysca menoleh ke samping. Sebuah panah melesat ke arahnya. Namun belum sempat panah itu mengenai dirinya, Erysca sudah merasakan tubuhnya terangkat naik. Seseorang membawanya terbang. Napasnya memburu karena rasa terkejut yang tiba-tiba. Ia mendongak untuk melihat siapa yang sudah menolongnya.

Seorang pria bersayap hitam. Erysca tidak mengenali siapa dia. Pria itu memasang wajah datar saat melihat ke bawah. Ke arah halaman mansion yang kini berubah menjadi area peperangan. Kemudian pria itu membawanya mendekati Xan yang masih terbaring di tanah. Melihat serigala itu membuat Erysca melupakan pikirannya tentang pria bersayap hitam itu.

Erysca duduk bersimpuh di dekat mate-nya. "Xan. Apa yang terjadi di sini?" tanyanya dengan suara parau. Wajahnya pun tampak sangat panik.

Xan menutup matanya sebentar. "Semuanya kacau sejak langit menggelap. Aku yakin Damia yang melakukannya. Dia membuat makhluk-makhluk aneh ini menghancurkan mansion."

Serigala itu sudah merasa lebih baik. Luka-luka di tubuhnya sembuh dengan cepat. Ia hanya membutuhkan waktu sebentar untuk menetralkan racun dari panah yang sempat menancap di salah satu kakinya.

"Damia?! D-dia kembali?"

"Kemungkinan besar. Dan kenapa kau berada di sini? Aku sudah memerintahkan Mayleen untuk menjagamu!" ujar Xan kesal karena mengetahui sang Gamma tak melaksanakan perintahnya.

Ia kembali berdiri dengan keempat kaki kokohnya. Berdiri di sebelah Erysca dan merapatkan tubuhnya pada wanita itu untuk melindunginya. Kedua netra tajamnya menatap waspada. Makhluk-makhluk itu sudah semakin berkurang.

"Aku juga bertugas menjaga pack! Aku Luna di sini! Dan Mayleen aku perintahkan untuk menjaga Sea." Erysca menatap Xan dengan sinis.

"Hm, just like you." suara Wenzell memenuhi pikirannya. "Stubborn."

Terdengar suara dengusan di sebelahnya. Pasti serigala itu merasa kesal dan lelah menghadapi kekeras kepalaan sang Luna. Juga ejekan Wenzell. Kepalanya mendongak ke atas. Pandangannya tertuju pada seorang pria bersayap hitam yang kini terbang rendah seraya mengeluarkan api dari kedua tangannya. Menghanguskan makhluk-makhluk itu.

"Siapa dia?" Xan menoleh ke arah Erysca. Wanita itu sedang menatap ke arah seseorang yang tadi menyelamatkannya.

"Aidan."

Alpha Wenzell [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang