Extra Part

1.7K 116 9
                                        

Dua hari setelah kelahiran anak keduanya, Wenzell memutuskan untuk lebih menyibukkan diri di mansion. Dia ingin lebih banyak waktu bersama Erysca dan kedua anaknya. Apalagi sekarang ada malaikat kecilnya yang baru lahir. Flora Canace Arcturus. Gadis mungil itu mampu membuatnya menangis ketika pertama kali melihatnya. Iris mata berwarna ruby yang sama seperti miliknya itu menatapnya polos. Dia masih bisa merasakan genggaman jari-jari kecil Flora yang menggenggam telunjuknya. Tidak bisa dijabarkan lagi perasaannya saat itu, kebahagiaan seolah akan meledak dalam dirinya.

Saat ini Erysca dan Flora, mereka sering memanggilnya Flo, sedang berada di dalam kamar. Ditemani Diana dengan membawa putranya yang berusia 5 bulan. Ada juga Clara dan anak perempuannya yang berusia 3 tahun. Dan juga Megan. Mereka berkumpul di kamar Erysca dan memperbincangkan entah apa. Terdengar berisik karena tawa. Para omega hilir mudik di sekitar kamar tersebut. Menyiapkan camilan sekaligus menjadi baby sitter untuk anak-anak mereka yang aktif bermain selagi ibu mereka asik mengobrol.

Megan tidak menyesal jauh-jauh kemari. Selain ingin bertemu Sea dan bayi-bayi teman Erysca, dirinya bisa menikmati pemandangan yang sangat indah di tempat ini. Dia tidak menyangka jika suami Erysca sangat kaya. Pertama kali menjejakkan kaki di mansion ini ia tercengang. Bahkan dia ragu apakah alas kakinya cukup bersih untuk menginjak lantai marmer disitu. Dia kemari dengan jemputan pesawat pribadi milik Wenzell dengan beberapa pengawalan atas perintah Erysca.

"Aaa, baby." Megan berujar gemas pada Mars, putra Diana, yang sedang duduk nyaman di baby bouncer. Ia duduk di lantai beralaskan karpet bulu yang halus.

Tangannya menoel-noel pipi gembil Mars. Dia juga bermain ciluk ba. Suara tawa khas bayinya membuat Megan ingin menggigit pipinya. Anak itu mirip seperti Sam. Kulitnya kecoklatan dengan rambut agak ikal. Megan berujar blak-blakan jika Mars akan menjadi bibit unggul dan disukai banyak gadis ketika besar nanti.

"Aku menunggu undanganmu dan Jeffrey, Meg." Erysca terkikik geli setelah itu. Dia sedang duduk di ranjangnya sambil menggendong Flo.

Diana dan Clara tersenyum lebar. Mereka berdua baru mengenal Megan. Namun karena sifat gadis itu yang humble, mereka tidak butuh waktu lama untuk saling dekat.

Megan menoleh ke arah Erysca dan menatap sinis. Dia berdecih kesal lalu melengos menatap baby Mars. Telunjuknya digenggam erat oleh bayi tampan itu. Karena ucapan Erysca barusan, sesuatu seperti menghantam pikirannya. Perasaan takut itu kembali lagi. Jeffrey memang sudah menyatakan perasaan padanya. Namun tak ada tanda-tanda pria itu mengajaknya untuk lebih serius. Megan hanya takut kalau ternyata Jeffrey mengatakan perasaannya hanya karena tidak mau membuat Megan bersedih dan juga untuk memenuhi amanah Erysca, yang meminta Jeffrey menjaga Megan.

"Kau memikirkan itu lagi?" tanya Erysca. Kedua alisnya agak menukik.

"Sampai kapan kau akan meragukan Jeffrey. Dia benar-benar serius padamu. Kau orang spesial untuknya sejak dulu. Kalian sama-sama memiliki gengsi yang besar dan rasa takut yang sama," ujar Erysca tidak habis pikir.

"Itu benar, Megan. Kau tidak perlu memikirkan sesuatu hal yang seharusnya tidak kau pikirkan. Semua hal buruk itu tidak akan terjadi jika bukan kalian yang memulainya. Kalau sudah takut di awal, bagaimana selanjutnya? Ketakutan akan jadi perasaan ragu yang lama-kelamaan akan menghancurkan kalian. Maka itu berimbas pada sebuah kepercayaan." Clara menasehati sembari membersihkan tumpahan susu di karpet karena ulah Elea, anaknya. Di sampingnya, Sea mengusap pelan sekitar pipi Elea yang terkena susu menggunakan tisu. Persis seperti seorang kakak yang baik.

Diana menghela napas kecil. "Kalau kau masih meragukannya, kenapa kau menerimanya dulu?" ia tersenyum lalu melanjutkan. "Itu karena dari hatimu sendiri, Megan. Setiap hubungan memang tidak melulu tentang bahagia. Akan ada saatnya kalian akan saling melukai. Tapi karena kepercayaan yang sudah kalian bangun sejak awal, batu besar menimpa pun tidak akan menjadi masalah. Kalian akan menghadapinya bersama."

"Jeffrey belum mengajakmu menikah bukan berarti dia tidak serius. Aku yakin dia sedang mempersiapkan sesuatu yang besar. Dia membuktikan keseriusannya dengan berbagai macam cara. Kau sudah dikenalkan pada keluarga besar Jeffrey. Lalu apa lagi yang harus diragukan?" Erysca menatap Megan yang menatap kosong pada lantai.

Kemudian Megan mengangguk. Senyum terbit menghiasi wajah eksotisnya. "Terimakasih, aku memang tidak seharusnya memikirkan hal buruk."

***

Sementara para wanita berkumpul di kamar Erysca, Wenzell dan Alex lebih memilih mengobrol di ruang kerja milik Wenzell. Berbanding terbalik dengan kamarnya yang ramai. Dua pria alpha itu justru lebih banyak diam. Ruang kerja Wenzell cukup besar dan kesunyiannya mendukung suasana. Perabotan yang tertata rapi, tidak berlebihan, membuat ruangan ini kental akan sisi maskulinitas.

"Aku tidak menyangka ternyata kau memiliki kembaran," ujar Alex tiba-tiba. Ia sedang duduk di sofa sambil meminum kopinya pelan-pelan.

Wenzell yang berdiri di dekat dinding kaca, memperlihatkan luasnya hutan, berdecak kesal. "Dia bukan kembaranku," balasnya tanpa menoleh ke arah lawan bicara. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana.

"Secara tidak langsung, ya."

Mereka kembali diam. "Lebih kagetnya lagi adalah, aku yang membunuhmu dulu. Maksudku Axel membunuh Revanth. Bukankah itu kebalikan dari zaman ini? Padahal waktu itu kau yang selalu membuat masalah dengan packku." Alex menggerutu dan meminum kembali kopinya.

Wenzell terkekeh. "Damia cukup bodoh sepertinya. Dia lebih terfokus pada dendam masa lalunya padamu yang sudah membunuhku dulu. Sampai melupakan saingan terberatnya sendiri, mateku."

Alex menggelengkan kepala. "Kau mencela mantan kekasihmu bodoh. Tapi kau tidak sadar sama bodohnya saat bersama dia." pria itu tersenyum miring.

"Hentikan membicarakan wanita itu." Wenzell menghela napas kasar. Kesal karena mendengar ada nada ejekan pada ucapan Alex.

Tapi mau dielak sekeras apapun, waktu itu memang kesalahannya juga. Dia tidak memiliki dendam apa-apa pada Slavagyne Pack. Namun karena kebutaannya dia hampir menukar nyawa tak bersalah pada dendam wanita licik itu. Damia hanya memanfaatkannya. Dalam hati Wenzell sedikit merasa iba. Tapi perasaan marah tentu lebih mendominasi.

Semuanya sudah berakhir. Damia tak akan kembali lagi. Dia hanya perlu memikirkan masa depan keluarga terutama anak-anaknya. Kesalahan di masa lalu dikenang hanya untuk menjadi pelajaran.

****
Lagi?
Kalo udah ya aku udahin extra partnya ini doang 😂 barangkali kalian bosen gitu


Aku saat ini :

Aku saat ini :

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alpha Wenzell [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang