Maaf kalo terlalu telenovela atau cringe guys. Gak tau lagi mau gimana, ada ide tapi bingung nulisnya dan jadilah begini. Semoga suka deh, hehe
***
Erysca terbangun di pagi hari dengan tubuh yang terasa remuk. Wajahnya sayu dan kepalanya pusing. Ia mengedarkan pandangan. Sinar matahari masuk lewat celah korden. Matanya masih memindai ke penjuru ruangan dan ia mengingat tempat ini.
Dia bergerak untuk duduk di tepi ranjang. Baru menyadari jika ternyata ia tidak mengenakan apapun. Hanya selimut hitam yang menutupi tubuh telanjangnya. Napasnya tiba-tiba memburu. Bagaimana ini?
Suara kunci yang diputar membuatnya bergerak cepat untuk lebih menutupi tubuhnya dengan selimut. Pintu terbuka. Seorang pria masuk dan kembali menutup pintu itu. Langkahnya yang mendekati ranjang tempat Erysca duduk sangat mengintimidasi. Lalu berhenti tepat di sebelah ranjang. Berdiri menjulang.
Sedangkan Erysca hanya bisa tertunduk dan diam. Tangannya mencengkeram erat selimut. Ia menelan salivanya dengan susah payah.
"Ka-kau yang membawaku kemari?" cicitnya.
"Kau tentu tahu jawabannya, mate." suaranya terdengar berat.
Erysca memberanikan diri untuk mendongak dan menatap suaminya. Kedua mata pria itu menatapnya tajam. Namun tersirat kesedihan disana. Ia bisa merasakannya juga.
Wenzell menghela napas berat. Ia merendahkan tubuhnya dan berjongkok di depan Erysca. Menggenggam sebelah tangan wanita itu, mengusapnya pelan. Kepalanya terkulai di pangkuan sang istri yang selama ini dirindukannya itu.
"Maaf, maafkan aku," lirihnya terdengar putus asa.
Erysca tidak mampu membendung air matanya. Ia menggigit bibir bawahnya untuk mehanan isakan. Ini semua bukan salah Wenzell. Ini salahnya. Ia menarik tangannya dari genggaman Wenzell. Hatinya terasa nyeri.
"Selama lima tahun aku seakan mati rasa. Kau tidak ada dimanapun. Aku ... aku bahkan merasa ingin mengakhiri hidupku setiap saat." suara Wenzell tercekat. Bahunya bergetar karena ia menangis.
Tangan Erysca yang bebas terangkat ragu. Lalu mendarat di kepala pria itu dan mengusap dengan gerakan perlahan. Jemarinya menyusuri helaian rambut suaminya yang terasa lembut.
Wenzell mendongak menatap Erysca. Kedua bola matanya memerah dan jejak air mata membasahi kedua pipinya. Tangan Erysca beralih mengusap pipi Wenzell. Pria itu menutup matanya. Meresapi sentuhan yang telah lama ia nantikan. Berharap menenukan matenya bukanlah sebuah mimpi.
"Ini ... ini bukan salahmu Wenzell. Aku yang salah disini. Aku pengecut. Aku jahat karena sudah meninggalkanmu selama ini." Erysca semakin menangis. Wenzell bangkit untuk duduk di depan Erysca dan membawa wanita itu ke pelukan eratnya.
"Sttt ... tidak, sayang. Kau tidak salah. Aku–"
"Sejak mereka membawaku lima tahun lalu saat penyerangan Rogue itu terjadi, mereka membawaku ke tempat itu. Dan dengan bodohnya aku menghindar dari semuanya. Aku hanya tidak ingin Damia mencari korban lagi. Aku ingin kau aman karena dia mengincar nyawamu jika aku tidak segera pergi," jelas Erysca seraya terisak. Ia merasakan usapan di punggungnya berhenti.
"Berharap jika aku pergi jauh tanpa seorangpun tahu akan membuatmu melupakanku dan semuanya akan kembali normal. Damia tidak lagi menjadi pengganggu dan yang terpenting kau baik-baik saja. Meski harus mengorbankan kebahagiaanku sekalipun."
Wenzell mengurai pelukan mereka. Gerakannya cepat. Kedua tangannya mencengkeram bahu Erysca. Ia cukup terkejut dengan penjelasan mate-nya. Jadi selama ini sebenarnya Erysca sengaja?
KAMU SEDANG MEMBACA
Alpha Wenzell [Completed]
Manusia SerigalaSpin-Off #2 My Beloved Mate Saat dirinya telah merasakan segalanya sudah lengkap. Tak ada lagi hampa atau dusta. Saat hidupmu adalah hidupnya. Dan hidupnya adalah hidupmu pula. Saat dirinya merasa benar-benar sudah menemukan orang yang tepat untuk m...
![Alpha Wenzell [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/174896462-64-k600661.jpg)