[36] Terror

1.1K 137 2
                                        

Seperti kata Erysca waktu itu. Dua bulan setelah Erysca dinyatakan hamil oleh dokter, ia memutuskan untuk mengeceknya ke rumah sakit. Erysca mendatangi dokter kandungan bersama Megan. Gadis itu menjaganya dengan sangat baik. Bahkan akan memarahinya jika ia terlalu lama bekerja.


Ya. Meskipun Erysca tengah mengandung. Dia tetap memaksakan diri untuk bekerja di kafe. Jeffrey menggantikan pekerjaan Erysca yang semula pelayan kafe atau koki menjadi di bagian kasir. Emma tidak mempermasalahkan hal itu. Kebetulan dia bilang ingin mencoba bekerja selain di kasir.

Selama Erysca bekerja, teman-temannya tidak akan membiarkannya kelelahan karena terlalu lama bekerja. Mereka selalu menanyakan keadaannya setiap jam. Bahkan sampai ia merasa bosan karena terus menjawab baik-baik saja. Terkadang ia merasa tidak enak. Temannya yang lain sibuk mondar-mandir, sedangkan dirinya duduk di balik meja kasir.

Lagi-lagi mereka tak mau membuat Erysca kelelahan sampai-sampai menyiapkannya kursi untuk duduk. Padahal sebelumnya Emma selalu berdiri. Ia merasa terharu dengan kebaikan mereka semua dan sangat bersyukur mendapat rekan kerja seperti mereka.

Berbulan-bulan ia lewati. Sampai kandungannya sudah berusia lima bulan. Selama itu pula Megan yang selalu menemaninya dan menjaganya. Gadis itu bahkan tak pernah menolak jika Erysca meminta bantuan. Namun Erysca tak muluk-muluk meminta apapun pada Megan. Selama ini dia selalu merepotkan gadis itu. Apalagi Megan masih berkuliah dan harus kerja paruh waktu.

Selama masa kehamilannya Erysca tak pernah merasa ingin memakan sesuatu. Tetapi ia selalu datang ke salah satu pantai di kota Whitestone setiap akhir pekan. Satu jam sebelum matahari terbenam Erysca sudah berdiri di tepi laut.

 Satu jam sebelum matahari terbenam Erysca sudah berdiri di tepi laut

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Seperti saat ini. Erysca tidak mengalihkan atensinya dari laut di depannya. Suara debur ombak menjadi latar belakang. Cipratan air asin yang mengenai kaki dan sebagian tubuhnya tak membuatnya beranjak dari sana.

Entah kenapa dia suka tempat ini. Aroma laut membuatnya lebih tenang. Apalagi tempat ini sepi pengunjung. Padahal pemandangannya sangat indah. Pasirnya berwarna putih. Begitu pula dengan bebatuan di sekitarnya. Mungkin itu salah satu alasan kenapa kota ini dinamakan Whitestone.

Jari-jari kakinya yang tanpa alas bergerak kecil. Tangannya mengusap perutnya yang menonjol. Rambut panjangnya bergerak sesuai irama angin. Setetes air mata lolos dari pelupuk. Namun ia membiarkannya sampai tetesan yang lain berjatuhan dan semakin membuat pipinya basah. Meskipun demikian isakan atau racauan tak sedikitpun keluar dari bibirnya.

Kehamilan ini membuatnya lebih emosional. Terkadang ia menangis tiba-tiba karena teringat suami dan keluarganya. Rasa ingin kembali selalu muncul. Tetapi secepat mungkin ia menepisnya. Egois, memang. Yang ia pikirkan saat itu hanya keselamatan orang-orang terdekatnya meskipun harus merelakan kebahagiaannya.

Dia selalu membayangkan bagaimana reaksi Wenzell melihat kehamilannya. Bagaimana cara pria itu membuai dirinya untuk tertidur ketika malam. Mengelus perutnya dan berbicara pada bayi mereka. Lalu menyanyikannya lagu indah. Bayangan-bayangan itulah yang terkadang membuatnya tersenyum, tertawa, bahkan menangis.

Alpha Wenzell [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang