Aku terbangun saat ketukan pintu berbunyi, ternyata Bibi memanggilku.
"Iya Bi! Nanti Bintang turun."
Ah! Biasanya aku bangun karena alarm dari handphoneku, aku lupa jika handphoneku masih berada di celana jeansku. Aku menuju kamar mandi dimana celana jeansku tergantung didekat handuk. Untungnya aku belum memasukkan nya kedalam mesin cuci.
Setelah mencuci muka dan gosok gigi, aku kembali sambil mengutak-atik handphoneku. Mati? Buru-buru aku menuju meja belajar untuk aku charger, dan ya handphoneku hidup.
Aku turun dan mendapati Papa yang duduk sambil mengunyah sarapan paginya, dan Mama juga sama.
"Pagi Pa, pagi Ma." Seperti biasa, aku mengucapkan selamat pagi dan mencium pipi Papa dan Mama bergantian.
"Hari ini kamu gak ke kampus?" Tanya Papa.
"Nggak Pa, Bintang hari ini izin nggak masuk. Nanti Mama yang ke kampusnya untuk ngasih izin." Itu Mama yang menjawab.
Aku duduk disamping Mama, mengambil roti tawar dan selai cokelat. Mama juga memberiku susu hangat.
"Mama juga cerita kalo kamu semalam nangis. Hayoo, gak mungkin kan kamu nangis karena banyak tugas? Kamu sering dapet peringkat 1 atau 2, masa tugas kuliah sampe nangis."
Tengah fokus mengunyah, aku jadi kaget saat Papa berbicara seperti itu. Ah! Aku kasih alasan yang tidak tepat. Tapi mau gimana lagi, tidak mungkin kan jika aku menceritakan kejadian sesungguhnya.
"Sayang pasti nangis gara-gara suka sama seseorang. Ya kan?" Ledek Mama. Diikuti Papa yang memainkan kedua alisnya.
"Ihh! Apaan sih? Bintang mau sarapan! Kok Papa sama Mama malah ajak ngobrol. Kan gak bagus." Jawabku kesal.
Papa dan Mama tertawa pelan dan melanjutkan sarapannya. Huh, aku jadi teringat lagi kejadian semalam. Aku juga lupa mengabarkan Bang Asa, pasti sekarang Bang Asa sedang cemas.
Aku menyudahi acara sarapanku dan kembali menuju kamarku, saat masuk aku menghidupkan handphoneku untuk mengirim pesan. Dan masalahnya,
Aku tidak punya kontak Bang Asa.
Aku menghela nafas berat, sebaiknya aku mengirim pesan kepada Stefan dan Melody bahwa hari ini aku izin kuliah.
Saat handphoneku hidup, terdapat notifikasi berderet nomor yang tidak dikenal dan berberapa pesan. Aku mengecek nomor itu, terdapat 25 panggilan tidak terjawab, 5 panggilan tidak terjawab dari Kak Nathan. Aku membuka pesan, terdapat pesan dari Kak Nathan yang bertanya keberadaanku.
Aku membuka pesan tidak dikenal itu, terdapat 15 pesan. Aku penasaran, nomor siapa ini? Rajin sekali ia menelepon ku dan mengirim pesan sebanyak itu.
'Dek, lo dimana?'
'Bintang, lo dimana dek? Jangan buat gue cemas.'
'Dek bales dek, maafin Abang sudah cuekin lo di acara ultah tadi. Pls dek angkat/bales SMS Abang.'
Oh, ternyata itu nomor Bang Asa. Semua pesan yang Bang Asa kirim adalah pernyataan tanda minta maaf. Sebaiknya aku membalas pesannya, bisa di lihat dari waktu yang ia kirim pesan tersebut. Ada yang dari pukul 1 pagi, 3 pagi, dan 4 pagi.
Tunggu..
Bang Asa mengirim pesan sepagi itu, berarti ia tidak tidur semalam? Astaga! Apa aku terlalu jahat. Tetapi aku tidak tahu, yang kutahu aku merasa lelah dan langsung tertidur tanpa memikirkan apa-apa.
Aku membalas pesan itu, mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Aku merasa bersalah sekarang.
'Bang, aku ada dirumah aku sekarang. Rumah Mama.'
KAMU SEDANG MEMBACA
BINTANG [END]
Dla nastolatków'Persis seperti nama kita, Bintang dan Angkasa. Kita berada di tempat yang sama, namun tidak untuk bersatu.' (Adegan 18+) Upload: 1 Jul, 2019 -Kiki
![BINTANG [END]](https://img.wattpad.com/cover/192513798-64-k645692.jpg)