32

3.6K 281 7
                                        

Beberapa menit setelah duduk di atas motor Dave dan menempuh perjalanan yang amat padat, akhirnya aku sudah sampai di rumah Melody yang berada di daerah perumahan.

"Makasih ya Dave udah mau anter aku." Ucapku berterima kasih kepada Dave, tak lupa mengembalikan helm cadangan Dave yang selalu stay dibagian belakang motor miliknya.

"Sama-sama." Dave tersenyum yang aku artikan dengan senyum lembut. Hmm, apa dugaanku benar?

"Btw, rumah temen kamu dimana sih?" Tanyaku penasaran.

"Oh, lihat di ujung sana. Rumah yang paling gede terus banyak motor." Tunjuk Dave di arah sebelah kiri.

Ya, disitu terdapat rumah paling besar diantara rumah-rumah yang ada di sekitar sini. Terdapat motor sport yang sama seperti Dave, hanya saja beda warna.

"Banyak banget motornya. Itu mau pada ngapain sih?"

"Namanya anak laki, ngumpul-ngumpul buang lelah. Paling main game bareng atau nggak ngobrol ini itu." Jelas Dave.

"Beda ya yang cowok banget. Apalah aku yang cuma bisa main di rumah cewek, ngerjain tugas pula." Kataku dengan nada di buat sesedih mungkin.

"Hahaha, muka kamu bisa aja," Dave mencubit pipiku. Aku mengusap pelan karena sedikit sakit. "Ntar pulang jam berapa? Bareng aja kalo bisa."

Hmm, terima apa tidak ya? Tapi kalo aku selesai duluan tapi Dave masih mau ngumpul bareng temannya kan tidak enak. Kalau aku tolak, Dave pasti maksa.

"Sekalian aku mau ngajak kamu makan, jarang banget kita makan bareng. Juga ada yang mau aku omongin."

Ucapan Dave membuatku sedikit deg-degan. Apa iya Dave akan bicara soal perasaannya? Aduh, kenapa aku jadi ge-er seperti ini.

"Oke deh." Dan bodohnya aku menyetujui ajakan Dave. Huh, aku harus cari jawaban yang tepat untuk menolak Dave.

"Ya udah gih masuk. Nanti telpon aku kalo sudah mau pulang." Kata Dave dan pergi menuju rumah temannya.

Hah, aku takut. Bukan karena Dave menyeramkan, tentu bukan. Aku hanya takut ucapanku bisa melukai perasaan Dave dan ia menjauhiku. Tentu saja Dave menjauhiku karena ia mendapat jawaban yang tidak sesuai harapan.

Tunggu, mengapa aku seperti berharap Dave akan mengatakan cinta kepadaku? Kenapa aku jadi aneh seperti ini. Ini gara-gara ucapan Stefan waktu itu. Aku tidak bisa menduga asal-asalan jika Dave akan mengatakan cinta.

Aku masuk kerumah Melody. Rumahnya terlihat sangat nyaman, halamannya juga luas. Rumahnya hanya satu lantai, seperti rumah yang suka aku tonton di flm. Yang berada di perkebuan teh.

Aku menekan tombol bel, tak lama Melody muncul dengan pakaian santainya.

"Eh Bintang! Datang juga. Ayo masuk, aku udah tunggu dari tadi." Ujar Melody mempersilahkan aku masuk.

Aku duduk diruang tamu sambil menunggu teman yang lainnya datang.

"Tunggu sebentar ya Bin, aku ambil minum juga camilan."

Belum sempat berbicara, Melody sudah main lari kearah dapur—sepertinya. Aku mengeluarkan Laptop yang ada di tasku dan menghidupkannya. Sambil menunggu aku melihat sekeliling ruang tamu. Di dinding terdapat foto keluarga Melody. Melody sendiri duduk di bagian kanan sedangkan bagian kiri seorang pria yang aku pikir adiknya. Tampan, tentu saja. Melody sendiri juga cantik.

Tak lama Melody datang membawa Es Melon dan juga kue cokelat kering.

"Nih, di makan ya Bin! Aku lho yang buat."

BINTANG [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang