21. Sahabat kecil

2.2K 177 0
                                        


Biar gak lupa. Vote dulu kawan.

Udah...?

 

Yah....kok belom.
Di vote dong. Tekan bintang di bawah kiri. Gratis gak pakek bayar.
Oke.

Terimakasih yang masih setia dengan cerita saya dari season satu sampai sekarang.
Jika cerita saya membuat anda semangat dan tersenyum. Maka komentar anda adalah semangat bagi saya.
Happy reading...

***

Prilly memasuki kamar Rendra dengan perasaan campur aduk.
Bahkan darahnya masih berdesir karena jantungnya yang masih memompa dengan pacuan yang cepat. Siapa lagi penyebabnya kalau bukan perlakuan Nathan barusan.

"Hei...Prill...lo gapapa?"
Tangan Alvin melambai-lambai di depan wajah Prilly.
Pasalnya gadis itu seperti melamun meskipun kakinya terus melangkah.

"Eh, kak. Gue__"
Prilly menghentikan kalimatnya lantas beralih melihat Rendra yang masih terbaring di bangkar.

"Kak Ren. Lo gapapa kan?"
Rendra tersenyum saat Prilly menghampirinya.

"Yee...gue dicuekin"
Royan terkekeh mendengar Alvin yang menggerutu.

"Gue duluan"
Alvin berteriak sebelum kemudian berlalu meninggalkan  ruangan itu.

Merasa ada yang salah. Prilly menoleh.
"Kak Alvin. Lo mo kemana"
Teriakan Prilly tak dihiraukan Alvin.

"Dia mau cari adik lagi katanya"
Royan mengompori sambil terkekeh.
Mendengar itu Prilly memasang wajah cemberut andalannya.

"Udah gak usah didengerin"
Alvin lagi ngurusin surat-surat buat gue pulang ntar" Rendra menjelaskan sambil terus tersenyum. Berbeda saat dirinya bertemu dengan Nathan tadi. Prilly itu seperti penawar saat dirinya sedang badmood.
Sulit untuk dijelaskan kalau memang Prilly lah selama ini yang bisa membuatnya tersenyum.

"Tapi kan kaka belum sembuh. Kok udah mo pulang. Oh ya si Nathan ngapain kemari?"
Senyum Rendra pudar mendengar Prilly menyebut satu nama yang baru-baru ini menjadi rivalnya.

"Dia minta maaf"
Prilly menoleh melihat Royan yang tengah bersantai di sofa sambil bermain game di ponselnya.

"Minta maaf?"
Ulang Prilly, seolah tidak percaya apa yang dia dengar.

"Kak__??"
Rendra melirik pada Prilly yang menunggu respon darinya.

"Iya. Tadi dia kesini buat minta maaf soal kemaren.
Sebenarnya dia gak salah. Gue yang mulai duluan. Gue yang duluan nyerang tu anak. Karna gue gak terima dia selalu kasar sama lo"

"Apa?!"

"Iya_gue ngaku gue yang salah. Gue minta maaf"

"Jadi bener. Kaka yang mulai duluan?"
Tanya Prilly setengah tidak percaya.

"Gue punya alasan Prill..."

"Karna gue??"
Potong Prilly.

Rendra membasahi bibirnya. Dia mulai gelisah.
Dari dulu Prilly paling tidak suka melihat orang lain ribut apalagi alasan dari keributan itu karena dirinya.

"Gue minta maaf"
Ucap Rendra.

Prilly merasa kecewa.
"Seharusnya kaka jangan minta maaf ke gue. Tapi ke dia"
Saat mengatakan DIA. Prilly teringat bagaimana dirinya memperlakukan Nathan tadi.
Mulai dengan kata-kata kasar, sinis, bahkan dia sempat memukul dan menginjak anak itu.
Padahal seharusnya dia tidak melakukan hal demikian. Ini semua bukan sepenuhnya kesalahan Nathan.
Nathan dan Ali itu sama. Mereka tidak akan memulai duluan jika tidak ada yang mengusiknya.
Lagi-lagi Prilly menemukan kesamaan antara kekasihnya dan juga Nathan.

My Senior ReturnTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang