10. Nathan ngojek?

2.5K 164 3
                                        



"Kak?! Tolong jelasin ke gue?!"
Prilly berdiri sambil bersedekap seolah tengah mengintrogasi lawan bicaranya.
Meskipun jadi pusat perhatian. Prilly tidak peduli.
Dia hanya ingin penjelasan dari ketiga pemuda yang duduk manis didepannya saat ini.

Mereka tengah berada di kantin lantai dua, tempat dimana anak-anak teknik berkumpul.
Dan Prilly baru menyadari satu hal. Sebagian besar anak teknik yang sekarang ikut berkumpul disana, adalah anak buah Ali waktu masih di Trunajaya dulu.

Prilly tidak habis pikir. Tidak mungkin mereka secara kebetulan kuliah di tempat yang sama.
Namun satu yang Prilly belum pahami. Di hati mereka sudah tertanam rasa kepedulian satu sama lain.
Waktu masih SMA, mereka saling terikat dengan satu kata. Yaitu persahabatan.
Maka dari mereka sulit untuk dipisahkan.

"Lo aje dah Vin yang jelasin"
Celetuk Royan.

"Lah, kok gue. Kan ello yang punya ide nyet!''

"Tapi lo sendiri yang setuju waktu itu"

"Si Rendra juga ikut setuju. Kenapa cuma gue yang disuruh"

"Kenapa nama gue dibawa-bawak cobak!! Gue cuma ngikut kalian bedua!!"
Rendra menyaut tidak terima.

"Iya tapi lo__"

"STOP!!!"
Prilly menggebrak meja tiba-tiba. Membuat ketiganya terdiam saat itu juga.

Alvin. Meskipun kata mereka paling dewasa, akan terdiam jika Prilly sudah berteriak.
Kata Royan. Perempuan itu akan menyeramkan jika sudah dalam keadaan marah. Seperti Prilly sekarang yang sepertinya tengah menahan kesal melihat perdebatan para senior didepannya.

"Bisa gak sih kalian dewasa dikit."
Rendra hanya menunduk seolah tidak peduli.
Alvin dan Royan masih setia mendengarkan omelan Prilly.

Prilly yang masih berdiri sedari tadi, kini beralih mengambil salah satu kursi dibelakangnya untuk ia duduki. Menghela nafas sejenak lalu kembali menatap ketiganya yang kini sudah mulai tenang.

"Sekarang jelasin ke gue. Kenapa kalian dengan gampangnya pindah kampus. Kalian tau kan, pindah kampus itu gak mudah apalagi kalau liat jurusan kalian yang berbeda.
Gue gak mau kalo alasan kalian pindah itu karna gue?!"

Masih tidak ada sahutan dari mereka. Membuat Prilly gemas sendiri dibuatnya.
"Kalo gak ada yang mo jawab. Gua pergi" Ancam Prilly.

"Iya iya...gue ngaku. Itu semua ide gue.
Dan gue juga yang nyuruh mereka buat pindah"
Aku Royan.

"Tapi kenapa kak...?! Alasannya apa?!"
Prilly mendesah lelah.

"Kita udah tau semuanya"
Sambung Alvin.

Kali ini giliran Prilly yang terdiam.
Ternyata benar dugaannya. Mereka sudah mengetahui, bahkan sebelum dirinya membenarkan itu semua.

"Gue gak bisa biarin lo sendirian disini.
Gue tau, lo selalu tersiksa setiap liat cowok itu.
Dan kita disini buat lo."
Alvin menegakkan tubuhnya lantas menatap Prilly lekat.

"Lo sendiri kan yang bilang. Mungkin ini hadiah dari tuhan, kenapa ada orang yang sama dengan orang yang pernah ninggalin kita. Karna tuhan tau kita gak bisa ngelupain Ali."

"Kita semua disini pernah kehilangan orang yang sama. Lo pernah terluka, gue juga.
Kalo lo bisa nerima takdir, kenapa kita tidak? Kalo lo bisa pasrah dan akan ngikutin arus takdir itu kemana, kenapa kita tidak boleh melakukan hal yang sama seperti yang lo lakuin saat ini."

Prilly terbungkam dengan semua ucapan Alvin yang sedikit menyentil lubuk hatinya.
Dia tidak bisa melarang mereka jika apa yang mereka lakukan adalah sama seperti dirinya.
Lama mereka terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing.

My Senior ReturnTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang