29. jalan bareng?

2.2K 195 17
                                        

Baru saja Prilly menghempaskan tubuhnya di bantaran tempat tidur, suara ketukan Pintu sedikit menggangu waktu istirahatnya.

"Sayang, ada nak Alvin di bawah"
Teriakan Aulia, mamanya Prilly. Menggema sampai ke dalam kamarnya.

Prilly terbangun seketika. Buat apa Alvin berkunjung kerumahnya semalam ini.
Prilly melirik jam waker di atas nakas.
Ternyata sudah hampir jam 11 malam.

"Sayang, kamu sudah tidur apa belom!"
Teriak Aulia lagi.

"Iya, mah. Prilly bakal turun!"

Setelah dia rasa mamanya sudah pergi, prilly beranjak membuka pintu dan berlari tergesa-gesa menuju ruang tamu.
Benar kata mamanya. Alvin sudah ada disana.
Namun yang membuat Prilly bingung, ternyata Alvin tidak sendiri.
Ada Rendra dan juga Royan.

"Kalian ngapain?!"
Tanya Prilly heran.

Melihat gadis yang dikhawatirkannya sedari tadi dalam keadaan baik-baik saja membuat ketiganya lega dan langsung satu persatu menghampiri Prilly.

"Lo gak papa, kan?"
Rendra yang menghadap Prilly terlebih dahulu langsung bertanya.

"Gue__"

Tanpa medengar kalimat selanjutnya dari mulut Prilly, Rendra langsung memeluk gadis itu yang di hadiahi tatapan bingung dari kedua sahabatnya di belakang.

"Lo gak tau gimana khawatirnya gue waktu tau lo hampir celaka"

"Kak Rendra tau?"

Rendra mengangguk.
"Nathan yang bilang sama kita"

"Nathan?"

"Iya. Dia nyamperin kita dirumah Alvin. Kayaknya dia marah banget deh"
Royan ikut menimbrung.

"Sekarang lo bilang sama gue. Siapa yang gangguin lo?"
Alvin maju selangkah, menggantikan posisi Rendra.

"Gue gak tau. Gue gak pernah liat itu orang. Tapi dia bilang dia sahabatnya kak Ali"

Semua terlihat bingung. Pasalnya kalau memang benar itu sahabatnya Ali, pastilah tidak akan berani mengganggu seorang Prilly.
Meskipun tak kasat mata. Nama Prilly seolah terdapat hak paten kepunyaan Ali.

"Lo yakin gak kenal dia?"

Prilly menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Royan.

"Lo inget gak ciri-ciri itu anak?"

Prilly mencoba mengingat kembali wajah lelaki itu.
"Oh. Gue inget sekarang. Nama dia Sandy, kak!"

Raut wajah Alvin, Rendra maupun Royan terlihat tegang seketika.
Tanpa mendeskripsikan lagi seperti apa wajahnya. Mereka sudah mengetahui anak itu hanya lewat namanya saja.

Sebisa mungkin Alvin bersikap tenang. "Ya udah, lo jangan khawatir. Kita bakal cari tau soal laki-laki yang udah gangguin lo"

Prilly mengangguk. Meskipun masih bayak pertanyaan dibenaknya yang ingin ia ajukan terhadap Alvin.

"Dan mulai sekarang. Kemanapun lo pergi, lo bakal ditemanin oleh beberapa orang yang udah gue sewa"

Dahi Prilly mengkerut tanda tidak paham.
"Maksud kaka?"

"Iya. Gue udah nyewa bodyguard buat lo. Mereka yang bakal jagain lo selama gue, Rendra dan Royan gak ada"

"Kak__"
Prilly mendesah.

"Cuma empat orang, kok"

"Kak___??!"

"Apalagi?"
Alvin sudah mengira akan reaksi Prilly jika dia melakukan hal ini.

My Senior ReturnTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang